Berita Blora
Warga Blora Antusias Ikuti Gerakan Pangan Murah, Rela Antre dan Panas-panasan
Warga nampak antusias membeli aneka bahan pangan di Gerakan Pangan Murah di Blok T, Blora, Jumat (22/03/2024).
Penulis: M Iqbal Shukri | Editor: muh radlis
TRIBUNJATENG.COM, BLORA - Warga nampak antusias membeli aneka bahan pangan di Gerakan Pangan Murah di Blok T, Blora, Jumat (22/03/2024).
Kegiatan itu digelar oleh Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan dan Perikanan (DP4) Kabupaten Blora untuk menstabilkan harga bahan pangan.
Beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dijual dengan harga Rp51.000 per kemasan 5 kilogram (kg). Beras medium Rp60.000 per kemasan 5 kg. Minyak goreng Rp15.000 per liter.
Gula pasir Rp16.000 per kg. Bawang merah Rp20.000 per kg. Telur Rp29.000 per kg. Cabai merah Rp15.000 per kg. Cabai rawit Rp15.000 per kg.
Salah seorang warga Kecamatan Blora, Lestari (34) mengaku mengantre sejak pukul 08.30, dan baru dapat membeli beras sekira pukul 09.00.
"Ini beli beras dua bungkus (per kemasan 5 kg). Antrenya tadi panjang dan panas, tapi sayangnya dibatasi, jadi hanya dapat dua. Kalau nggak dibatasi saya mau beli banyak tadi," tuturnya kepada Tribunjateng.
Menurut Lestari harga beras di Gerakan Pangan Murah terjangkau jika dibandingkan dengan di pasaran.
"Kalau di pasaran itu kan beras kemasan 5 kg harganya Rp70.000 sampai Rp75.000, kalau di sini harganya hanya Rp51.000," ujarnya.
Senada dengan hal itu, warga Kecamatan Tunjungan, Harianti (45), merasa terbantu dengan adanya Gerakan Pangan Murah.
"Terbantu, soalnya anggota keluarga banyak dan sekarang sedang nggak punya beras," jelasnya.
Keseharian Harianti berprofesi sebagai seorang petani. Namun, Dia mengatakan tanaman padi di sawahnya belum panen, sehingga Dia rela jauh-jauh membeli beras ke Gerakan Pangan Murah.
Lebih jauh, Harianti berharap saat panen nanti harga jual beras tetap mahal, biar petani juga senang.
Adapun agar konsumen tidak merasa keberatan dengan harga beras mahal, Harianti menyarankan ke pemerintah untuk memberi subsidi beras.
"Sehingga konsumen tidak merasa keberatan, dan petani juga untung," paparnya.
Sebab, menurut Harianti, kalau harga jual beras murah petani akan rugi. Itu lantaran petani telah mengeluarkan modal banyak untuk sekali masa tanam padi. Seperti biaya pupuk, pengairan, tenaga kerja.
"Kalau harga jual beras murah petani ya nangis, padahal kan harga pupuknya mahal, biaya tenaga kerja juga mahal."
"Kalau harga jual beras murah, nanti nggak ada petani lagi yang mau nanam beras," terangnya.
| Pendapatan Sektor Parkir Blora yang Dikelola Dinrumkimhub Capai Rp300 Juta Triwulan Pertama 2026 |
|
|---|
| Ngamuk Minta Karaoke Gratis dan Bawa Nama Prabowo, Sunoto Kini Dipecat dari GRIB Jaya |
|
|---|
| Lupa Matikan Kompor Saat Memasak, Rumah Warga Muraharjo Blora Terbakar |
|
|---|
| Istri di Blora Histeris Temukan Petani Telungkup di Sawah, Cangkul Berdiri di Dekatnya |
|
|---|
| PKL Alun-alun Blora Tolak Relokasi, Begini Rencana Bupati Arief Rohman |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Warga-rela-antre-dan-panas-panasan-di-Gerakan-Pangan-Mu.jpg)