Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Akal Bulus Si Ijal Menyamar Jadi Badut Selama Pelarian di Jakarta Usai Bunuh Pria Honorer Bandung

"Jadi selama di Jakarta, pelaku ini, Ijal, menyamar dengan menggunakan pakaian badut, supaya tidak terendus polisi."

istimewa
Ijal (31) 

TRIBUNJATENG.COM - Ternyata, Ijal (31), yang menjadi pelaku pembunuhan terhadap seorang pria di Kompleks Bumi Citra Indah, RT 06/13, Desa Pataruman, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat (KBB), melakukan berbagai cara untuk menghindari tangkapan.

Seperti yang kita ketahui, Ijal membunuh Didi Hartanto (45), seorang honorer di Badan Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM) Bandung, yang kemudian mayatnya dikubur dan ditutup dengan keramik di dapur rumahnya pada 23 Maret 2024.

Kapolres Cimahi, AKBP Aldi Subartono, menjelaskan bahwa dari hasil pemeriksaan awal, pelaku pembunuhan ini mengakui bahwa ia sempat melarikan diri ke Jakarta sebelum akhirnya ditangkap di daerah Cianjur pada tanggal 15 April 2024.

Baca juga: Nyawa Didi Hartanto Honorer Kementerian Dicabut Masalah Uang Rp 300 Ribu: Mayat Dicor Semen di Rumah

"Jadi selama di Jakarta, pelaku ini menyamar dengan menggunakan pakaian badut, supaya tidak terendus," ujarnya di Mapolres Cimahi, Kamis (18/4/2024).

Dengan cara nyamar seperti itu, kata Aldi, pelaku ini menyadari bahwa perbuatannya yang telah melakukan pembunuhan tersebut merupakan tindakan yang salah dan bakal diketahui polisi.

"Akhirnya pelaku berhasil ditangkap dan dari hasil kesimpulan dan gelar perkara, kami menetapkan pria inisial I (Ijal) itu sebagai tersangka dan sekarang sudah dilakukan penahanan," kata Aldi.

Kasat Reskrim Polres Cimahi, AKP Dimas Charis Suryo Nugroho, mengatakan, pelaku sudah dilakukan pemeriksaan kejiwaan dan hasilnya tidak ditemukan bahwa pelaku mengalami gangguan kejiwaan.

"Kita sudah cek, jadi secara keseluruhan tersangka ini normal, baik secara fisik maupun psikis, sehingga dia melakukan pembunuhan itu secara sadar," ujarnya.

Selain itu, pihaknya juga memastikan bahwa pelaku ini tidak terpengaruh oleh minuman keras saat melakukan pembunuhan dan mengubur mayat korban di dalam rumah tersebut.

"Tidak ditemukan dalam pemeriksaan bahwa sebelumnya mungkin meminum-minuman keras dan sebaginya, jadi sadar melakukan tindak pidana tersebut," ucap Dimas.

Ungkap Kasus

Polda Jabar berhasil mengungkap kasus pembunuhan di Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat pada Selasa (16/4/2024).

Dari hasil penyelidikan tersebut terungkap bahwa pelaku pembunuhan yang bernama I (31 tahun) telah menganiaya Didi Hartanto (42 tahun) hingga menyebabkannya meninggal.

Tidak hanya itu, pelaku juga menyembunyikan mayat korban dengan cara mengecornya di rumah korban, yang terletak di Kompleks Bumi Citra Indah RT6/13, Desa Pataruman, Kecamatan Cihampelas, Bandung Barat.

lihat fotoLokasi pelaku mengubur mayat korban dengan cara dicor di rumah korban di Kompleks Bumi Citra Indah RT6/13, Desa Pataruman, Kecamatan Cihampelas, Bandung Barat.
Lokasi pelaku mengubur mayat korban dengan cara dicor di rumah korban di Kompleks Bumi Citra Indah RT6/13, Desa Pataruman, Kecamatan Cihampelas, Bandung Barat.

Didi Hartanto adalah seorang pegawai honorer di salah satu kementerian.

Menurut Direktur Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda Jawa Barat, Kombes Pol Surawan, dari hasil pemeriksaan terhadap pelaku, diketahui bahwa pelaku merasa kesal terhadap korban karena tidak membayarnya atas pekerjaan selama dua hari dengan total Rp300 ribu.

Pelaku kemudian memukul korban menggunakan besi tumpul di kepala.

Kejadian pemukulan ini dilaporkan terjadi pada 23 Maret 2024.

Surawan menyatakan bahwa motif pelaku masih dalam penyelidikan, karena setelah melakukan pembunuhan, pelaku juga mengambil barang berharga korban, termasuk sepeda motor, sertifikat rumah, dan ponsel.

"Pelaku mengaku menggunakan besi tumpul untuk melakukan pembunuhan, namun kami masih menunggu hasil visum dari rumah sakit untuk mengetahui penyebab pasti kematian korban," ujar Surawan.

Tim penyidik berhasil mengevakuasi jenazah korban dari dapur rumahnya setelah sekitar satu jam.

Jenazah kemudian dibawa ke Rumah Sakit Sartika Asih untuk dilakukan autopsi.

Surawan menambahkan bahwa pelaku berhasil ditangkap di daerah Cianjur pada malam Senin (15/4/2024).

Pihak berwenang masih menyelidiki apakah ada motif lain yang mendorong pelaku untuk membunuh korban.

Tersangka dan korban ternyata sudah saling mengenal.

Pelaku merupakan pekerja serabutan yang biasa membersihkan lingkungan kompleks dan rumah-rumah di sekitarnya.

Pelaku dijerat dengan pasal 338 jo 340 KUHP tentang pembunuhan dan merampas nyawa orang lain.

Suami Cor Mayat Istri

Kasus pembunuhan dengan modus penghilangan barang bukti berupa pengecoran mayat juga terjadi di Makassar.

Peristiwa pembunuhan istri oleh suami tujuh tahun yang lalu menjadi perhatian masyarakat.

Pelaku, bernama Henky Talik (42 tahun), berasal dari Kelurahan Bonotoala Tua, Kecamatan Bontoala, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Henky telah melakukan pembunuhan terhadap istrinya, Jumiati (35 tahun), sejak tahun 2017.

Baca juga: Pengakuan Pelaku yang Habisi Pria dan Cor Mayatnya Sangat Rapi di Rumah, Motif Terungkap

Kejahatan Henky baru terungkap pada tanggal 13 April 2024 setelah diungkap oleh anak kandungnya.

Anak kandung Henky dan Jumati, F (16 tahun), mengadukan kasus ini kepada polisi.

F merasa tidak tahan lagi menyimpan rahasia mengenai ayahnya, Henky, selama bertahun-tahun.

Terlebih, dalam enam tahun terakhir, F sering kali menjadi korban perlakuan kasar dari ayahnya.

Setelah Lebaran Idul Fitri 2024, F melaporkan ayah kandungnya, Henky, ke Polrestabes Makassar atas kasus penganiayaan.

Namun, polisi terkejut saat mengetahui bahwa Henky juga telah melakukan pembakaran mayat istrinya di rumah mereka.

Fakta tersebut diungkapkan oleh Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Mokhamad Ngajib.

"Anak korban melaporkan juga adanya tindakan kekerasan yang dilakukan bapaknya kepada ibunya tahun 2017. Kita lakukan tindakan, kita tangkap HT. Setelah kita lakukan pemeriksaan awal, HT mengaku telah menganiaya anak dan istri. Kita lakukan olah TKP, ternyata di belakang rumahnya ada barang bukti berupa tulang dan tengkorak manusia, pakaian dan kantong plastik untuk membungkus korban," ungkap Kombes Pol Mokhamad Ngajib dilansir dari tayangan TV One News, Selasa (16/4/2024) via TribunBogor.

Usut punya usut, aksi pembunuhan yang dilakukan Henky terjadi di bulan Agustus 2017.

Terkait motif, polisi mengurai pengakuan mengejutkan pelaku.

"Pelaku mengaku istrinya telah melakukan hubungan dengan pria lain sehingga motifnya cemburu antara pelaku ke istrinya. Telah dilakukan penganiayaan sebanyak tiga kali. Hari ketiga korban meninggal dunia," ujar Kombes Pol Mokhamad Ngajib.

Setelah aksi pembunuhan tersebut ia lakukan, Henky pun memboyong dua anaknya untuk pindah ke rumah orang tuanya.

Sementara rumah tersebut dikontrakan.

Lima tahun kemudian, polisi pun menggeledah rumah tersebut dan menemukan tulang belulang Jumiati di dapan coran tembok.

Kepada penyidik, F mengungkap kenangan pahit yang tak bisa ia lupakan.

Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, F harus menyaksikan pemandangan mengerikan yakni sang ayah membunuh ibunya.

Kala itu F tak bisa berkutik melihat kebiadaban Henky Talik.

"Waktu itu saya masih kelas IV SD. Sepulang sekolah saya melihat mama saya terbaring di lantai. Saya hampir tidak mengenalinya karena wajahnya sudah bengkak," ujar F kepada penyidik dikutip dari akun @jatanras_mksr.

Bukan cuma tak berdaya, F juga pasrah kala didoktrik oleh sang ayah.

Yakni agar menyembunyikan aksi pembunuhan Henky.

Padahal saat itu F terkejut karena melihat ibunya sudah jadi mayat.

"2 hari kemudian setelah pulang sekolah, saya masih melihat mama saya terbaring di tempat yang sama. Saya melihat bapak saya membawa masuk ke dalam rumah pasir dan semen kemudian memberitahukan kepada saya 'kalau ada yang bertanya semen itu untuk apa, saya harus jawab untuk membuat kolam ikan'," pungkas F.

Sejak tahun 2017, F menyembunyikan tabiat sang ayah.

Namun selama itu juga F mendapatkan penyiksaan dari Henky.

"Bapak saya kemudian mengajari saya dan adik saya yang waktu itu masih berumur 5 tahun bahwa jika ada yang bertanya 'mama kamu ke mana' sampaikan bahwa mamamu pergi entah ke mana," imbuh F.

Kepada aparat, Henky santai mengakui perbuatannya.

Pun dengan tabiat Henky yang sempat menyebar fitnah istrinya kabur selama bertahun-tahun dengan pria lain.

Padahal Jumiati telah meninggal dibunuh dan dicor Henky.

Atas aksinya itu, Henky mengaku sengaja melakukannya karena cemburu.

"(Tega bunuh istri) gara-gara saya curiga (korban) ketemu mantan pacarnya, saya tanya dia (korban) tidak mengaku," pungkas Henky.

Kala ditanyai soal kronologi pembunuhan, Henky mengaku sudah lupa.

Mendengar jawaban Henky, penyidik pun tampak gusar karena pelaku terlihat santai bak tak bersalah.

"Saya kubur pakai tangan, saya pukul dada dan perut (korban)," pungkas imbuh Henky.

"Berapa kali?" tanya penyidik.

"Saya lupa. Tahun 2018. Jenazahnya saya timbun pakai pasir, saya kasih semen di dalamnya, saya cor," ujar Henky.

Setelah tabiat ayah kandungnya terkuak, F gemas ingin menghajar Henky karena telah membunuh ibunya.

Momen itu terlihat kala F bertemu dengan ayahnya, Henky di TKP pembunuhan Jumiati.

Saat Henky menunjukkan lokasi mayat Jumiati dicor, F berteriak histeris di luar rumah.

Sembari menangis, F terus memberontak hendak menghampiri sang ayah.

F pun beberapa kali menunjuk-nunjuk rumah lamanya lokasi mayat ibunya dicor.

Karenanya, F pun ditenangkan oleh penyidik dan keluarga agar bisa tenang.

"Di sana mamaku," teriak F sambil menangis di TKP, dilansir  dari Youtube Wartakotalive.com, Selasa (16/4/2024).

(*)

Artikel ini telah tayang di TribunJabar.id dengan judul Pembunuh Pria yang Mayatnya Dikubur dalam Rumah di Bandung Barat Kelabui Polisi Nyamar Jadi Badut

Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved