Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Regional

Inilah Sosok Devi Donat, Alumni ITB Bandung Jabar Anak Kampung yang Diremehkan Hingga Karier Sukses

Inilah sosok Devi Donat alumni Institut Teknologi Bandung (ITB), Jawa Barat (Jabar). 

Editor: galih permadi
istimewa
Devi Ulumit Tias alias Devi Donat 

TRIBUNJATENG.COM - Inilah sosok Devi Donat alumni Institut Teknologi Bandung (ITB), Jawa Barat (Jabar). 

Sempat diremehkan karena cita-cita masuk ITB, wanita bernama asli Devi Ulumit Tias asal Jember, Jawa Timur itu mampu membuktikan anak kampung bisa kuliah di ITB

Kini Devi Donat mampu lulus S2 dan memiliki karier sukses sebagai konsultan. 

Berikut kisah sukses perjalanan Devi Donat:

Devi Donat alumni ITB
Devi Donat alumni ITB

Alumni tersebut bernama Devi yang mengenyam pendidikan di Teknik Kelautan ITB.

Kisahnya menjadi inspirasi dan viral di media sosial setelah dibagikan oleh Imam Santoso yang merupakan dosen ITB, di akun Instagram pribadinya @santosoim.

Alumni ITB itu dikenal dengan julukan Devi Donat.

Diketahui, ia mendapatkan beasiswa gratis kuliah 4 tahun di ITB.

Di keterangan unggahan itu, awal menjadi seorang mahasiswa Devi bahkan sering tidak makan.

Ia pun mencari cara untuk mendapatkan penghasilan dengan jualan donat, jualan kerajinan hingga mengajar les.

"Devi dapat beasiswa geratis kuliah 4 tahun dari ITB. Selama awal-awal jadi mahasiswa sering gak makan. Jualan donat. Ngajar les. Jualan kerajinan dititipin ke toko-toko di Bandung," tulis Imam Santoso dikutip Tribunjabar.id, Kamis (6/6/2024).

Imam Santoso mengaku bertemu dengan Devi pada 2005 di kampung.

Devi adalah seorang anak pedagang kerajinan yang ingin masuk ITB.

Devi sempat khawatir bahkan menangis dan mengatakan kalau gagal masuk ITB.

"Juni 2006, malam-malam ia menelfonku menangis terisak-isak bilang kalo gagal masuk ITB," lanjut Imam.

Devi diremehkan bisa masuk ITB lantaran anak dari desa.

"Diremehkan, 'anak desa gak mungkin masuk ITB' tapi di 2007 ia tembus FTSI," sambungnya.

Saat tahun pertama di Bandung, Devi ketika pergi kemana saja dengan jalan kaki.

Baru tahun kedua ia mulai naik angkutan umum (angkot).

Demi mendapatkan tambahan, Devi pun jualan donat di kampus sampai dijuluki Devi Donat.

"Sering gak makan pas awal kuliah, merasa bersalah kalau sehari uang habis lebih dari 10rb. Ia dapat beasiswa gratis dari ITB," sambungnya lagi.

Ketika lulus ITB, Devi mengatakan ingin dibuang ke pedalaman.

"Lulus ITB bilang 'mas aku ingin dibuang ke pedalaman, ingin mengajar baca tulis dan ngaji. Aku ingin merasakan kehidupan yang tidak biasa," tulis Imam Santoso mengingat perkataan Devi.

Kemudian, Devi pun setahun menjadi guru SD di pedalaman Palembang.

Devi tidak menjadi guru sembarangan, ia sukses membawa murid-muridnya olimpiade sains sampai Jakarta.

Dalam unggahan itu ada foto yang menunjukkan Devi membawa murid-muridnya naik perahu hingga mobil saat akan ke Jakarta.

Di balik kisahnya, Devi ternyata pernah tinggal di atas got di Bali.

"Pas SD, ia sempat tinggal di atas got di Bali bersama ayah ibunya. Rumah di ujung di atas got itu dulu rumah Devi," kata Imam.

Kemudian pada 2019 kehidupan Devi berubah, ia membeli dua rumah kembar di Bandung.

Devi pun memboyong ayah dan ibunya ke Bandung.

Ia sukses menangani sejumlah proyek besar Indonesia.

"Jadi project manajer. Nanganin proyek-proyek besar Indonesia. Lulus S2 dengan beasiswa LPDP," terangnya.

Kini, Devi pun sukses pula menjadi seorang konsultan.

"Sekarang sukses berkarir jadi konsultan," pungkas Imam.

Unggahan Imam Santoso itu menuai reaksi positif dari warganet.

@eb***.
Ada orang bertanya buat apa sekolah tinggi-tinggi,lalu Tan Malaka menjawab tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan. Saya sangat percaya pendidikan bahkan bisa mengubah 180 derajat hidup kita.

@nen***.
Ambisnya Devi memang gak ada lawan... Dulu tiap mapel apapun yg ada kesempatan jawab pertanyaan atau harus maju ke depan, selalu ngacung paling semangat. Sesuai sama hasilnya sekarang ya Dev... Barakallah Dev.

@yas***.
Ini bukti pendidikan itu penting dan memutus mata rantai kemiskinan. Asal ulet, tekun, mental pejuang, tak menyerah pada keadaan, maka Alloh pasti memberikan hasil terbaik.

Kisah Alivia Diterima 12 Kampus Dunia

Inilah sosok Alivia Rahma Azzahra siswi SMA Negeri 3 Purwokerto, Jawa Tengah diterima di 12 universitas ternama di dunia. 

Ya, gadis asal Cilongok, Banyumas ini menjadi sorotan karena prestasinya.

Diterima di 12 universitas ternama di dunia, Alivia Rahma Azzahra siswi SMA Negeri 3 Purwokerto sudah memutuskan mana yang akan ia pilih.

Ini juga tak lepas dari minatnya pada dunia mesin.

Ia berhasil diterima di 12 Universitas ternama di dunia yang  berada di Amerika, Australia, Belanda dan Jepang.

Alivia  mengatakan telah memutuskan akan melanjutkan pendidikan di Amerika.

Dari 12 Universitas yang diterima, Alivia rencana akan mengambil Universitas di California, Amerika Serikat. 

Sosok Alivia Rahma Azzahra, siswi SMA Negeri 3 Purwokerto, Banyumas yang diterima di 12 kampus luar negeri.
Sosok Alivia Rahma Azzahra, siswi SMA Negeri 3 Purwokerto, Banyumas yang diterima di 12 kampus luar negeri. (TRIBUN JATENG/PERMATA PUTRA SEJATI)

Ia akan melanjutkan Study dengan jurusan Teknik Mesin.

Alivia memang sudah mengincar Universitas di California Amerika Serikat sejak lama. 

Ia sangat tertarik untuk belajar mesin terlebih untuk melihat mobil listrik dari Tesla.

"Saya memang sudah niatan melanjutkan study di Amerika, sebenarnya ada lima belas Universitas yang saya daftarkan, dua belas diterima, satu ditolak, dan dua wait List. 

Adapun yang ditolak hanya di Kyoto University Jepang. 

Alivia sedang mengajukan proses ke kemendikbud dan beraharap mendapat beasiswa penuh.

Awalnya saya tidak menyangka bisa diterima di sana," katanya kepada Tribunbanyumas.com, saat acara pelepasan SMA Negeri 3 Purwokerto, Rabu (29/5/2024). 

Ia juga menjelaskan alasannya memutuskan memilih melanjutkan Study di University California Berkely AS. 

Hal itu karena di sana dekat dengan produksi pembuatan mobil listrik Tesla.

Sementara itu Kepala Sekolah SMA Negeri 3 Purwokerto, Joko Budi Santoso menyampaikan Alivia juga berprestasi dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN). 

Ia terkenal dengan sosoknya yang ramah, dan mudah bergaul.

Tidak hanya itu, para guru juga selalu memberikan dukungan kepadanya menguatkan mentalnya dalam belajar.

Bahkan, ia sebelumnya juga dipusatkan belajar bahasa Inggris di Jakarta dan Bali.

"Alivia itu sosok yang ramah humble, dan komunikatif. Ia juga berprestasi dalam OSN. 

Kami para guru sering berkomunikasi dengannya dan berdiskusi menguatkan mentalnya untuk belajar," terangnya. 

Ia mengatakan harapannya akan muncul potensi dari siswa lain sama seperti Alivia lainnya. 

Sementara itu Ketua Komite Sekolah SMAN 3 Purwokerto bernama, Agus Nur Hadie berpesan agar ini menjadi motivasi bagi teman-teman lain. 

Lebih tepatnya, untuk berprestasi tidak hanya di tingkat nasional, namun juga dunia.

"Semoga dengan adanya Alivia ini maka akan muncul Alivia Alivia lain," katanya. (jabar/jti) 

Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved