Berita Banyumas
Tak Jauh dari Pusat Kota Purwokerto, Sumarni dan Warga Desa Kediri Harus Angkut Air Naik-Turun Bukit
Naik turun bukit menempuh jarak satu kilometer harus dilakukan warga di Desa Kediri, Kecamatan Karanglewas, Banyumas untuk mendapatkan air bersih
TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO - Naik turun bukit menempuh jarak satu kilometer harus dilakukan warga di Desa Kediri, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas untuk mendapatkan air bersih.
Kesulitan mendapatkan air bersih sepert ihalnya dirasakan Sumarni (36), warga RT 3 RW 6 yang membawa 2 ember ukuran sedang setiap hari untuk mengangkut air.
Kondisi ini cukup miris karena Desa Kediri hanya berjarak 6.2 kilometer dengan waktu tempuh 14 menit saja ke pusat kota Purwokerto.
Masih ada desa di pinggiran Purwokerto yang harus berusaha keras dapatkan air bersih saat kekeringan melanda.
Baca juga: Orangtua Baladiva Cerita Kelakuan Gunawan saat Pacaran dengan Putrinya Sebelum Tewas: Kok Bisa Gila?
Baca juga: Bapak Kos Makan Kucing karena Kalori Rendah Pas Buat Diabet, Dinkes Semarang: Efeknya Malah Negatif!
Warga mengandalkan sumber mata air yang sering disebut belik dan letaknya cukup jauh dari rumah mereka.
Belik atau sumber mata air berukuran kira-kira 2 meter kali 1 meter itu digunakan warga untuk keperluan cuci, mandi, dan masak.
Kondisi tersebut terpaksa dilakukan karena kekeringan yang melanda desa mereka sekitar 3 bulan terakhir ini.
"Ada sumur tapi airnya keruh. Saya setiap hari mengangkut 2 ember naik turun bukit ini, jaraknya kurang lebih satu kilometer," ujar Sumarni, Jumat (9/8).
Ia menjelaskan, warga yang mengalami kesulitan air bersih ini ada 2 RT, yaitu RT 3 dan 4 RW 6, yang jumlahnya 200-an orang. Mereka mengandalkan sumber mata air itu untuk keperluan sehari-hari.
Sementara itu, Kadus 3 Desa Kediri, Kecamatan Karanglewas, Wahyudi (50) mengatakan, pihaknya turut memantau keberadaan warga lainnya yang juga mengalami dampak kekeringan
"Ada juga RT lain yang terdampak. Cuma memang di sini ada tiga sumber air, ada 2 mata air dan 1 Pamsimas. Saat kondisi kemarau, hanya mengandalkan mata air seperti ini dan bantuan BPBD. Untuk sumber Pamsimas kadang macet," terangnya.
Pihaknya mengatakan, kondisi ini sudah berlangsung tiga bulanan.Berbagai bantuan seperti droping air sudah kerap diberikan.
"Terakhir itu bantuan BPBD satu tangki 5.000 liter.Dari swasta kemarin ada 9.000 liter, dan langsung didrop di rumah warga," katanya.
Ia mengatakan, keberadaan tiga sumber mata air yang ada ini belum dikelola secara baik.
Karenanya tidak dapat digunakan warga secara lebih mudah.
Bahkan untuk menyalurkannya ke rumah warga butuh 2 pompa dan pipa panjang.
Namun sayangnya,hal itu juga kurang maksimal dalam menyalurkan air ke rumah warga karena sering macet.(jti)
Petani Lansia di Baturraden Ini Merasa Sangat Terbantu dengan Layanan Kesehatan Gratis |
![]() |
---|
Daop 5 Purwokerto Semarakkan Hari Pahlawan dengan Kenakan Pakaian Tematik Perjuangan |
![]() |
---|
Taktik Baru Mafia Perdagangan Anjing Hindari Penggerebekan, Berhasil Digagalkan di Banyumas |
![]() |
---|
RS Hermina Purwokerto Gelar Seminar Medis Soal Strategi Efektif Rujukan Pasien IGD, ICU, dan NICU |
![]() |
---|
Tilik Desa, Bentuk Program Sosialisasi Protokol Kesehatan dan Mendongeng Forum Anak Banyumas |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.