Kamis, 23 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Jateng

Bayang-bayang Dinasti Politik di Balik Bencana Rob Pekalongan

Akibat dari dinasti politik yang begitu luas adalah rusaknya integritas demokrasi. Alhasil, masyarakat menanggung dampaknya.

Penulis: iwan Arifianto | Editor: raka f pujangga
Tribunjateng/Iwan Arifianto
Rohani (74) dan Nurjanah (54) berdiri di depan rumah mereka di RT4 RW7 Kelurahan Kandang Panjang, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan. Mereka adalah kelompok rentan yang hidup di luar tanggul rob Pekalongan, Senin (19/8/2024). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Berdinding papan kayu, rumah pasangan Rohani (74) dan Nurjanah terletak di luar tanggul dengan pekarangan laut di Kelurahan Kandang Panjang, Pekalongan Utara, Kota Pekalongan.

Rumah seluas 5x15 meter persegi itu langganan terendam banjir rob selama tiga bulan saat musim penghujan.

Tak hanya kediaman Rohani dan Nurjanah, tetangga mereka di RT 4 RW 7 mengalami hal serupa. Perbedaanya, tetangga dekat rumah mereka sudah pindah.

Baca juga: Sudaryono Tegas Tolak Istilah "Perang Bintang" di Pilkada Jateng 2024

Rohani beserta istri sesungguhnya ingin pindah dari wilayah itu. Sebab, di kawasan tersebut terdampak pembangunan tanggul program pemerintah daerah pada 2018 dan 2022 lalu.

Namun, harapan mereka tak kunjung direalisasikan oleh Pemerintah Kota Pekalongan.  

 “Kami sebagai masyarakat kecil hanya bisa berharap kepada pemerintah,” kata Rohani pada Senin, (19/8/2024).

Air laut masuk ke pemukiman warga, lahan pertanian, tempat usaha, hingga fasilitas umum di Pekalongan sepanjang tahun.

Banjir air laut yang melanda pesisir Pekalongan ini berdampak terhadap sekitar 2.000 lebih keluarga dengan luas sekitar 1.400 hektare di Kota maupun Kabupaten Pekalongan.

Warga Pekalongan lainnya, M. Riyanto, juga mengalami nasib yang sama dengan Rohani.

Dia harus mengeluarkan uang puluhan juta hanya untuk meninggikan rumah supaya tak terendam rob. 

Untuk pindah rumah, pekerja bengkel ini mengaku tak memiliki uang sebanyak itu. 

“Akhirnya hanya bisa bertahan,” tuturnya.

Ia pun menagih Wali Kota Pekalongan 2021-2024 Afzan Arslan Djunaid atau biasa Aaf yang hingga periode kepemimpinannya berakhir, janji semasa kampanye mengatasi banjir rob di Kota Batik itu tak kunjung terlaksana.

“Hanya janji-janji saja, pembuktian tidak ada,” kata Riyanto (46), Rabu, 7 Agustus 2024.

Riyanto tak hanya menagih janji Aaf, namun wali kota Pekalongan sebelumnya, Achmad Alf Arslan Djunaid alias Alex (almarhum) yang merupakan kakak Aaf dalam kampanyenya dulu selalu menggaungkan untuk bisa mengatasi banjir rob di Kota Pekalongan.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved