Kamis, 9 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Jakarta

Jokowi Akui Tak Mudah Jaga Keseimbangan Harga

Presiden Joko Widodo (Jokowi) turut menanggapi deflasi yang terjadi selama 5 bulan berturut-turut, yang dikhawatirkan berkait dengan pelemahan daya

kemenkeu.go.id
ILUSTRASI 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) turut menanggapi deflasi yang terjadi selama 5 bulan berturut-turut, yang dikhawatirkan berkait dengan pelemahan daya beli masyarakat.

Ia pun menekankan pentingnya memahami penyebab deflasi untuk memastikan kondisi perekonomian tetap terkendali dan stabil.

"Coba dicek betul deflasi itu karena penurunan harga-harga barang, karena pasokannya baik, karena distribusinya baik, karena transportasi nggak ada hambatan, atau karena memang ada daya beli yang berkurang?" ujarnya, usai membuka Nusantara TNI Fun Run di IKN, Minggu (6/10).

Jokowi mengatakan, deflasi maupun inflasi harus dikendalikan dengan baik untuk menjaga stabilitas harga yang tidak merugikan berbagai pihak, mulai dari produsen hingga konsumen.

Menurut dia, keseimbangan antara harga yang stabil dan kemampuan produsen untuk terus berproduksi sangat penting. Dalam situasi saat ini, Jokowi menyebut, inflasi tahunan masih berada di tingkat yang cukup baik, sekitar 1,8 persen.

Namun, ia memperingatkan agar angka tersebut tidak terlalu rendah, sehingga tidak merugikan produsen, khususnya petani dan sektor-sektor lain yang berkaitan dengan produksi.

Jokowi menyatakan, menjaga keseimbangan itu tidaklah mudah. Meski demikian, pemerintah akan terus berupaya untuk memastikan stabilitas harga yang berkelanjutan.

Ia berujar, hal itu guna melindungi baik produsen maupun konsumen di seluruh sektor perekonomian. "Menjaga keseimbangan itu yang tidak mudah, dan kami akan berusaha terus," tandasnya.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menilai, harga-harga pangan yang saat ini sudah murah dikhawatirkan membuat petani dan pedagang mengalami kebangkrutan.

"Kalau saya bilang terlalu murah, pasti saya di-bully lagi. Cabai terlalu murah, misalkan patokan kami Rp 40.000/kg, di pasar cuma Rp 15.000/kg, itu langsung bangkrut petaninya, gitu loh. Seperti cabai, bawang murah sekali ya, termasuk saya kira juga telur," katanya, di Komplek Istana kepresidenan, Jumat (4/10).

Menurut dia, mengatasi deflasi tidak seperti mengatasi inflasi. Apabila terjadi inflasi, maka pemerintah daerah bisa melakukan operasi menggunakan anggaran untuk mengendalikannya.

"Terus terang memang kalau inflasi itu (harga-Red) naik, kami cepat bisa atasi sebetulnya, karena ada bupati, ada wali kota, ada anggaran APBD dari dana yang tidak terduga kan (untuk menurunkan harga lewat operasi pasar-Red), bisa, bisa itu. (Kalau-Red) terlalu murah ini kan kami belum ada jalan untuk membantunya, kan gitu, belum ada," paparnya.

Zulhas menuturkan, pihaknya akan mengkaji lebih dalam mengenai penurunan harga itu untuk menentukan apakah disebabkan oleh suplai yang melimpah atau penurunan daya beli masyarakat.

"Apa karena suplainya banyak sekali sehingga harganya terlalu murah, atau daya beli yang turun? Nanti kami lihat, kami kaji lebih lanjut," ujarnya. (Kontan/Vendy Yhulia Susanto)

Baca juga: Pria Ini Makan 10 Jam di Restoran demi Manfaatkan Promo

Baca juga: IHSG Masih Berpeluang Melemah Lagi

Baca juga: Pinjaman Masyarakat Meningkat di Tengah Pelemahan Daya Beli, Fredrica: Lagi Banyak Orang Susah

Baca juga: Keppres Pemindahan Ibukota Terbit di Era Prabowo, Kemenag akan Bangun Madrasah Terpadu di IKN

 

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved