Pilwakot Salatiga 2024
Debat Pertama Salatiga Memanas! Paslon Bahas Visi Besar dan Solusi Tantangan Kota
Dalam debat Pilwalkot Salatiga, ketiga paslon memaparkan visi-misi mereka, mulai dari program zero stunting hingga solusi darurat sampah.
Penulis: Reza Gustav Pradana | Editor: Daniel Ari Purnomo
TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA - Ketiga pasangan calon (paslon) Wali Kota dan Wakil Wali Kota Salatiga memaparkan visi-misi mereka dalam Debat Publik Pertama yang diselenggarakan di Hotel Laras Asri, Salatiga, pada Selasa (29/10/2024) malam.
Acara ini digelar dengan tema "Perbaikan Tata Kelola Pemerintahan dan Birokrasi Menuju Pelayanan Publik yang Berkualitas, Inklusif, dan Berkelanjutan," mencakup tiga sub-tema: pendidikan, kebudayaan dan olahraga; kesehatan, perempuan dan anak; serta hukum dan tata kelola pemerintahan.
Paslon nomor urut 1, Robby Hernawan-Nina Agustin, mengusung visi BEDA yang berarti Bergerak, Enerjik, Dinamis, dan Adaptif.
Robby, seorang dokter spesialis, mengusulkan program kesehatan prioritas bernama Sehati, yang berfokus pada upaya zero stunting, ibu hamil bebas anemia, dan pemberdayaan posyandu untuk lansia dan balita.
"Kami punya 11 program prioritas, khususnya di bidang kesehatan, pendidikan, dan ekonomi,” ujar Robby.
Paslon nomor urut 2, Juan Rama-Sri Wahyuni, mempresentasikan visi mereka, yaitu Salatiga Emas Berkelanjutan, yang berintegrasi dengan program nasional Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming.
Mereka menawarkan berbagai program, seperti pemerataan mutu pendidikan, internet gratis, pondok pesantren vokasi, dan posko pengaduan kekerasan terhadap perempuan dan anak.
“Kami juga ingin membangun fasilitas olahraga dan meningkatkan kebudayaan lokal,” jelas Sri Wahyuni.
Sementara itu, paslon nomor urut 3, Sinoeng N Rachmadi-Budi Santoso, menyampaikan visi "Berkarakter, Berdaya Saing Global, dan Berbasis Budaya."
Pasangan ini tampil mengenakan pakaian khas daerah sebagai simbol komitmen menjaga budaya lokal yang berdaya saing global.
Sinoeng, yang pernah menjadi Penjabat Wali Kota Salatiga, mengangkat isu krusial seperti pengelolaan lingkungan hidup dan solusi untuk TPA Ngronggo, yang hanya memiliki kapasitas hingga dua tahun ke depan.
"Kami akan memberikan solusi terbaik agar Salatiga tidak menghadapi darurat sampah," tegasnya.
Komisioner KPU Kota Salatiga, Wahyu Budi Utomo, menyatakan bahwa debat ini berlangsung dalam enam segmen dengan durasi total hingga 180 menit.
"Panelis dari kalangan akademisi dan profesional menyusun pertanyaan sehari sebelum debat berlangsung,” ungkap Wahyu.
Ketiga pasangan calon membawa visi besar dan rencana konkret untuk kemajuan Kota Salatiga.
Acara ini diharapkan menjadi ajang bagi masyarakat untuk melihat sejauh mana komitmen dan kesiapan para calon dalam memimpin Kota Salatiga ke depan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Debat-Publik-Salatiga-Memanas-Paslon-Bahas-Visi-Besar-dan-Solusi-Tantangan-Kota.jpg)