Kamis, 11 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Viral

Viral Awan Kinton Jatuh di Kalimantan Tengah, Ini Penjelasan BMKG

Sebuah video dengan narasi benda yang disebut mirip awan kinton jatuh di Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah, beredar di media sosial Instagram.

Tayang:
Kompas.com/Istimewa
Beredar video yang menunjukkan awan kinton jatuh di Kalimantan Tengah. (X/undercover.id) 

TRIBUNJATENG.COM - Sebuah video dengan narasi benda yang disebut mirip awan kinton jatuh di Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng), beredar di media sosial Instagram.

Video tersebut viral.

Untuk diketahui, awan kinton adalah awan terbang yang muncul dalam animasi Jepang, Dragon Ball.

Baca juga: Viral Aksi Koboi di Tol Japek: Pengendara Mobil Todongkan Benda Mirip Senjata Api

Dalam video yang diunggah akun @und****, gumpalan putih mirip awan tersebut nampak melayang-layang di udara.

Tampak pula beberapa orang berseragam “Adaro Energy” melihat benda tersebut terbang dari jarak dekat.

Tidak berselang lama, benda yang disebut awan kinton itu jatuh dan menyentuh tanah dengan kondisi masih utuh.

Lantas, benarkah ada awan kinton yang muncul di Kalteng?

Penjelasan BMKG soal "awan kinton" jatuh di Kalteng

Terkait video viral di Murung Raya, Ketua Tim Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG Ida Pramuwardani mengatakan, awan tidak pernah jatuh ke permukaan tanah sebagai gumpalan padat.

Ia menjelaskan, awan adalah kumpulan partikel air atau kristal es yang berada di atmosfer dan terbentuk ketika uap air di udara mengembun atau mengkristal.

Proses tersebut terjadi ketika uap air yang ada di udara dingin cukup untuk membentuk tetesan air atau kristal es yang sangat kecil lalu kemudian berkumpul menjadi awan.

Meskipun awan tampak seperti objek padat yang mengambang, awan sebenarnya terdiri dari tetesan air atau kristal es kecil yang tersebar dalam jumlah besar.

"Awan tidak pernah jatuh ke Bumi sebagai gumpalan padat karena partikelnya sangat kecil dan ringan, tersebar dengan kerapatan rendah, dan arus udara. Gaya angkat atmosfer menjaga partikel tetap tersuspensi," jelas Ida, saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (16/11/2024).

Faktor lainnya adalah perubahan lingkungan seperti suhu dan kelembapan yang menyebabkan partikel-partikel tersebut menguap sebelum mencapai tanah.

“Yang kita lihat sebagai jatuhnya awan sebenarnya adalah presipitasi seperti hujan dan hujan es, yang merupakan hasil penggabungan (koalesensi) tetesan atau kristal es menjadi cukup besar untuk mengatasi arus udara dan jatuh ke permukaan Bumi,” kata Ida.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved