Senin, 18 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Grobogan

Terkendala Modal, Kelompok Tani Desa Curug Tak Mampu Membeli Padi Petani

Musim panen raya tengah dirasakan oleh petani Desa Curug, Kecamatan Tegowanu, Kabupaten Grobogan, Sabtu (22/2/2025).

Tayang:
PANEN RAYA GROBOGAN
PANEN RAYA GROBOGAN: Musim panen raya tengah dirasakan oleh petani Desa Curug, Kecamatan Tegowanu, Kabupaten Grobogan, Sabtu (22/2/2025). Kelompok Tani ingin membeli padi hasil panen petani namun terkendala modal. 

TRIBUNJATENG.COM, GROBOGAN - Musim panen raya tengah dirasakan oleh petani Desa Curug, Kecamatan Tegowanu, Kabupaten Grobogan, Sabtu (22/2/2025).

Panen kali ini membawa harapan bagi petani yang baru saja memanen padi mereka.

Mayoritas padi yang ditanam di desa ini telah dipanen, dan petani merasakan harga yang cukup menguntungkan meski sedikit lebih rendah dibandingkan musim sebelumnya.

Saat ini, harga padi di Desa Curug mencapai Rp 6.800 per kilogram, yang dianggap tinggi oleh petani meskipun ada penurunan dibandingkan harga musim lalu yang mencapai Rp 8.000 per kilogram.

Penurunan harga ini, menurut Moh Amin, Ketua Kelompok Tani Sumber Makmur Desa Curug, disebabkan oleh musim panen yang bersamaan dengan daerah lain, sehingga pasokan padi melimpah.

"Harga padi sekarang Rp 6.800, termasuk harga tinggi tapi lebih tinggi musim sebelumnya yang mencapai Rp 8.000," kata Moh Amin, Ketua Kelompok Tani Sumber Makmur, Desa Curug, Sabtu (22/2/2025).

"Musim lalu panennya lebih awal, namun musim ini panennya bersamaan dengan daerah lain," tambah Moh Amin.

Moh Amin menjelaskan bahwa harga padi yang ditawarkan oleh tengkulak bervariasi antara Rp 6.500 hingga Rp 6.800, tergantung pada kualitas hasil panen.

Meskipun harga tersebut dinilai masih wajar oleh petani, mereka harus menanggung biaya tambahan seperti biaya mesin panen dan angkut yang dibebankan kepada mereka.

Kelompok Tani Terkendala Modal

Di tengah harga yang relatif stabil ini, Kelompok Tani Sumber Makmur sebenarnya memiliki niat untuk membeli padi atau gabah langsung dari petani.

Namun, impian tersebut terkendala oleh masalah modal yang terbatas.

Keinginan untuk membeli padi langsung dari petani akan memberikan keuntungan lebih bagi mereka, namun keterbatasan dana menghalangi langkah ini.

"Sebenarnya ingin usaha bisa membeli padi atau gabah dari petani, tapi terkendala modal untuk bikin usaha," ungkap Moh Amin.

Hasilnya, petani di Desa Curug lebih memilih untuk menjual padi mereka langsung kepada tengkulak tanpa melalui koordinasi kelompok tani.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved