Rabu, 3 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Santos Merasa Badannya Bisa Lebih Hangat saat Minum Kopi Arab Kampung Melayu Semarang

Santos, warga Lengkong Kambing di Kampung Melayu Semarang, tak ingin ketinggalan dalam acara berbuka puasa bersama di Masjid Menara, Jl Layur.

Tayang:
Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: moh anhar
TRIBUNJATENG.COM/REZANDA AKBAR D
MINUM KOPI ARAB -Warga mengikuti kegitan berbuka puasa di Masjid Menara, Jl Layur, Dadapsari, Minggu (2/3). Dalam kegiatan buka puasa tersebut, ada tradisi tiap Ramadan dengan menyuguhkan menu kopi arab yang bercitarasa rempah. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Santos, warga Lengkong Kambing di Kampung Melayu Semarang, tak ingin ketinggalan dalam acara berbuka puasa bersama di Masjid Menara, Jl Layur, Dadapsari, Kota Semarang.

Menjelang bedug maghrib, sekira pukul 17.05, ia bergegas menuju serambi dalam masjid, berbaur bersama warga lain, yang sudah duduk melingkar. Ada sejumlah orangtua serta anak-anak yang memenuhi ruang yang menghadap Kali Semarang tersebut.

Di masjid dengan gerbang berarsitektur Timur Tengah dan gedung utama beratap tajug tumpang tiga itu memang rutin tiap Ramadan menggelar buka puasa bersama, dengan suguhan istimewa: kopi arab.

Satu persatu dari mereka ada yang datang dengan menenteng makanan di dalam kresek. Kesibukan mereka menarik perhatian, terlebih suasana indah terlihat di dalam masjid yang berselimut cat warna hijau toska. Ketika kresek dibuka, nampaklah isi menu takjil, seperti arem-arem, roti, semangka, dan nasi bungkus, yang nantinya dibagikan kepada para warga masyarakat yang mengikuti buka puasa. Selain itu, ada pula tiga butir kurma, sebagai awalan berbuka dengan makanan yang manis.

Kopi arab khas Masjid Layur dituang untuk disajikan ke para jemaah masjid di di Jalan Layur, Dadapsari, Semarang Tengah.
Tampilan depan Masjid Menara, Jl Layur, Dadapsari, Semarang Tengah. (Tribunjateng.com/Iwan Arifianto)

Di tengah kesibukan untuk mempersiapkan buka bersama, Santos yang datang mengenakan baju koko putih, dipadu celana jeans panjang, peci hitam duduk bersandar di serambi masjid, menghadap kiblat.

Kepada Tribunjateng.com, Santos bercerita, sudah dari dahulu saat Ramadan, suguhan kopi arab ini menjadi menu wajib untuk mengakhiri waktu puasa. Kopi arab yang sudah diseduh oleh marbot masjid pada ceret besar itu, kemudian dituang di gelas kecil.
Semua tamu Allah yang datang mendapatkan porsi satu gelas yang sama, baik orang dewasa ataupun anak-anak. 

"Sudah dari semasa saya kecil kalau waktu ramadan dan buka puasa minumnya ya kopi arab ini," katanya berbisik, Minggu (2/3).

Sambil menunggu waktu azan Maghrib, Santos bersama sekira 40-an masyarakat lainnya berdzikir dan juga bershalawat.

Ketika suara "dung" terdengar, menjadi penanda waktu berbuka puasa. Suara "dung" ini berasal dari bom balon atau petasan di kawasan Masjid Agung Semarang atau Masjid Kauman yang hanya berjarak 1 kilometer.

Ketika "dung" terdengar, beberapa saat kemudian azan Maghrib menyertai, saat itu para warga di serambi masjid langsung mencecep kopi arab yang masih hangat dan memakan takjil yang telah disediakan.

"Beda kan, citarasa kopi arab dengan kopi biasanya. Kalau ini terasa aroma rempahnya dan jahenya. Saat diseruput ini, badan jadi hangat. Saya kalau minum kopi yang biasa umum itu, satu gelas malah pusing. Kalau minum kopi arab ini sampai empat gelaspun gak pusing," kata Santos sesuai menyeruput kopi arab.

Selain Santos, Hasan Mughis, warga Kampung Melayu, mengatakan, sudah menjadi tradisi rutin ketika berbuka puasa di Masjid Menara menggunakan menu kopi arab.

"Sudah dari zaman dahulu, saya belum lahir juga sudah ada. Sudah beberapa tahun ini, tiap bulan puasa saya selalu buka pakai kopi arab ini. Rasanya enak, ada jahenya dan bisa menjaga kesehatan tubuh," ujar pria berkacamata yang mengenakan pakaian serba putih itu.

Usai menikmati kopi arab, mereka satu persatu keluar dari serambi dalam masjid untuk mengambil wudu, juga ada yang sudah menikmati satu batang rokok sebelum ikut shalat berjamaah.

Serangkaian kegiatan pada hari itu ditutup dengan shalat Maghrib berjamaah hingga selesai dan satu persatu masyarakat pulang ke rumahnya masing-masing. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved