Sabtu, 18 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Ungaran

Cerita Peci Blangkon, Perpaduan Unik Peci dan Blangkon Karya Kang Muhadi Yang Tembus Hingga ke Paris

Muhadi atau pria yang akrab disapa Kang Hadi tersebut membuat berbagai macam peci blangkon, terutama bermotif batik.

Editor: raka f pujangga
TRIBUN JATENG/REZA GUSTAV
TUNJUKKAN PECI BLANGKON - Seorang pelaku UMKM di Kabupaten Semarang, Muhadi (43) menunjukkan produk peci blangkon buatannya, Kamis (6/3/2025). Peci blangkon buatannya tersebut mengalami peningkatan permintaan saat Ramadan dan menjelang Lebaran. 

TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN - Satu di antara produk usaha, mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Kabupaten Semarang yakni peci blangkon, dinilai menjadi daya tarik tersendiri bagi para konsumen saat masa Ramadan dan Idul Fitri 1446 H.

Penutup kepala perpaduan antara peci dan blangkon tersebut merupakan sebuah terobosan yang digagas oleh Muhadi (43), pemilik UMKM Bla and Bak dari Dusun Krajan, Desa Tengaran, Kecamatan Tengaran.

Pria yang akrab disapa Kang Hadi tersebut membuat berbagai macam peci blangkon, terutama bermotif batik.

Baca juga: Peci Sobo Tawarkan Kualitas dan Keunikan dengan Motif Carica Khas Wonosobo 

Satu di antara yang paling diunggulkan yakni peci blangkon bermotif batik Gagrak, motif batik khas Kabupaten Semarang.

Hadi mengatakan, ide tersebut muncul ketika dia merasa penggunaan peci yang terlalu formal dan biasanya dikenakan saat ibadah bagi umat Islam serta kegiatan-kegiatan formal dan tertentu saja.

Sedangkan, lanjut dia, minat pada blangkon juga semakin berkurang lantaran identik dipakai saat acara-acara kebudayaan Jawa saja.

Hal itu yang membuat Hadi berpikir untuk menggabungkan kedua jenis penutup kepala tersebut.

“Jadi peci blangkon ini keunikannya bisa dipakai dalam segala kondisi, misal untuk religi bisa, kebudayaan bisa, bahkan sebagai pengganti topi saat bermain,” kata Hadi, Kamis (6/3/2025).

Ketertarikannya pada peci sendiri didapat dia saat menjalani pendidikan di pondok pesantren.

Sedangkan, ilmu menjahit yang Hadi punya didapatnya saat bekerja di bidang konveksi di Jakarta selama lima tahun.

“Awal pandemi Covid-19, saya pulang kampung, sempat mau mengambil pendidikan di perguruan tinggi namun kepikiran juga untuk usaha.

Dari bekal ilmu yang saya dapat di konveksi dan kebiasaan saya di pondok pesantren, saya coba buat peci blangkon ini,” imbuh dia.

Perjalanan dia dalam merintis pun tidak mudah.

Hadi mengungkapkan, telah melakukan riset dan berbagai percobaan untuk bisa menciptakan peci blangkon yang ideal dan disukai sebagian besar orang.

Dia bersyukur produk buatannya semakin laris seiring berjalannya waktu.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved