Minggu, 3 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Jateng

Dibalik Anggunnya Batik Warna Alam Roslina Ada Filosofi hingga Mantra Rahasia

Batik warna alam milik Siti Roslina memiliki segudang filosofi. Setiap goresan motifnya selalu memiliki cerita menarik penuh makna. 

Tayang:
EKA YULIANTI FAJLIN
FILOSOFI BATIK - Perajin batik warna alam, Siti Roslina menjelaskan filosofi motif batik karyanya, saat mengunjungi Rumah BUMN. Setiap motif batik memiliki filosofi berbeda. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Batik warna alam milik Siti Roslina memiliki segudang filosofi. Setiap goresan motifnya selalu memiliki cerita menarik penuh makna. 

Baginya, membuat batik tidak hanya sekedar berproduksi. Dia ingin motifnya hidup dengan filosofi. Filosofi ini menjadi cerminan si pemakai batik. Setiap pembeli yang bertanya soal motif, ia selalu menceritakan judul motif hingga filosofinya. 

"Saya ingin produk saya hidup, memiliki ruh. Yang memakai buat ceriminan. Motif saya harus hidup. Jual gombal (kain-red) ada ceritanya," jelas Roslina, Selasa (15/3/2025). 

Roslina memiliki beberapa motif batik yang sudah masuk hak cipta motif diantaranya ceplok mawar, tegal asem, karas sinom, dan segara penyu. 

Ceplok mawar memiliki makna mendalam. Roslina mengatakan, mawar memiliki filosofi membuat hati adem. Meski pohonnya berduri, mawar tidak menyakiti.

"Padahal tangkainya duri, tapi kenapa banyak dicari? Karena adem, bau juga wangi," ucap Roslina. 

Ia juga memiliki sejumlah motif yang lain. Misalnya, motif beras utah. Motif ini memiliki filosofi bahwa nasi menjadi makanan pokok setiap hari. Ada harapan bagi si pemakai motif batik ini, dimanapun bekerja untuk mendapat sesuap nasi, selalu ada rizki yang mengalir. 

Ada lagi motif lentera yang bermakna penerangan. Warga Plalangan Gunungpati ini tercetus membuat motif ini karena dalam hidup segala sesuatu membutuhkan pencerahan, masukan, dan pendapat. Dalam hidup, perlu musyawarah untuk mendapatkan sesuatu yang terang.

Saat ditemui Tribun Jateng, ia pun memakai baju batik buatannya sendiri bermotif jagad deling. Jagad bermakna dunia, sedangkan deling berarti bambu.

Motif ini ia ciptakan kala ia sedang duduk santai dengan perajin bambu di Gunungpati. Para perajin membutuhkan waktu beberapa hari untuk membuat anyaman bambu. 

"Saya berpikir apa hasilnya cucuk (sesuai-red)? Dijual satu lembar Rp 25 ribu. Ora cucuk. Yg bikin saya suka, ketenangan dia bekerja, kesederhanaannya, tanpa rahmat di Atas semua tidak mungkin dijalankan," paparnya. 

Pasrah dengan Hadiah Alam 

Roslina merupakan satu diantara perajin batik warna alam di Gunungpati. Ia menggunakan berbagai tumbuhan di sekitar lingkungannya untuk pewarnaan. Diantaranya, mahoni diambil taninnya untuk warna cenderung merah kecoklatan. 

Warna biru, ia dapat dari daun indigovera. Ia juga memanfaatkan tlutuh pisang untuk mendapatkan warna abu - abu. Ia sering melakukan ekaperimen untuk mendapatkan warna-warna baru demi keanggunan batiknya. Ada daun ketapang, mangga, kulit manggis, pace, dan sebagainya.

Saat ini, ia sedang bereksperimen dengan kulit rambutan. Limbah organik ini banyak ditemukan di Gunungpati sebagai wilayah yang dikenal penghasil rambutan. 

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved