Breaking News
Selasa, 19 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Nasional

Rakyat Kecewa! Gaji Direksi Pertamina Lebih Tinggi dari Presiden AS Donald Trump, Tapi Masih Korupsi

Anggota Komisi VI DPR RI, Mufti Aimah Nurul Anam mengkritik PT Pertamina hingga membandingkan gaji direksi lebih tinggi daripada Presiden Amerika.

Tayang:
Editor: raka f pujangga
Youtube TV Parlemen/via Kompas TV
PERTAMINA BOBROK - Anggota Komisi VI DPR RI Mufti Anam mengkritik PT Pertamina (Persero) Tbk saat rapat dengar pendapat (RDP), Selasa (11/3/2025). Dia mengatakan gaji direksinya lebih besar ketimbang Presiden AS, tetapi ada temuan bahwa Pertamax setara dengan Pertalite. 

TRIBUNJATENG.COM - Anggota Komisi VI DPR dari Fraksi PDIP, Mufti Aimah Nurul Anam mengkritik habis-habisan PT Pertamina (Persero) Tbk, hingga membandingkan gaji direksi Pertamina lebih tinggi dibandingkan Presiden AS, Donald Trump.

Bahkan bila dibandingkan dengan gaji CEO perusahaan global seperti Google dan Coca Cola yang sudah tersebar hampir seluruh penjuru dunia, gaji direksi Pertamina itu pun sudah setara. 

Namun kenyataannya, dengan gaji sebesar itu mereka masih mengkhianati kepercayaan rakyat dengan melakukan korupsi secara berjamaah.

Baca juga: Petinggi Pertamina Ternyata Punya Grup WA "Orang-orang Senang", Para Tersangka Bahas BBM Oplosan?

Kritik keras Mufti itu disampaikan dalam rapat dengar pendapat (RDP) di Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (11/3/2025).

Mulanya, Mufti kecewa karena dalam rapat tersebut, jajaran Pertamina tidak membeberkan update terkait kasus mega korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang pada PT Pertamina Patra Niaga periode 2018-2023 yang ditaksir merugikan negara hampir 1 kuadriliun rupiah.

"Pada RDP kali ini, jujur saja kami sedikit kecewa, kami tunggu-tunggu dari paparan ter-update soal (kasus) Pertamax oplosan, tapi tidak ada sebait kata pun yang menjelaskan soal itu dalam kesempatan pagi ini," katanya dikutip dari YouTube TV Parlemen.

Selanjutnya, Mufti membeberkan bobroknya perusahaan pelat merah tersebut. 

KORUPSI PERTAMINA - Anggota Komisi VI DPR Fraksi PDI-P Mufti Anam menyoroti kelakuan para tersangka korupsi Pertamina yang diketahui membuat grup WhatsApp dengan nama 'orang-orang senang' saat RDP di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (11/3/2025).
KORUPSI PERTAMINA - Anggota Komisi VI DPR Fraksi PDI-P Mufti Anam menyoroti kelakuan para tersangka korupsi Pertamina yang diketahui membuat grup WhatsApp dengan nama 'orang-orang senang' saat RDP di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (11/3/2025). (IG hallo.denpasar)

Pertama, ia menyebut adanya rencana dari Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia untuk membangun kilang minyak baru dengan pembiayaan dari super holding, Danantara sebesar Rp 500 triliun.

Padahal, kata Mufti, pembangunan tersebut sudah dijanjikan oleh mantan Dirut Pertamina, Nicke Widyawati, akan rampung pada tahun 2019 silam.

"Lah, jadi selama ini Pertamina tidak punya kilang baru? Padahal ketika tahun 2019, kita duduk di sini, ketika di tempat duduk Bapak ada namanya Bu Nicke, menyampaikan, RDMP (Refinery Development Master Plan) Balikpapan maksimal tahun itu (2019) akan selesai, ternyata baru tahun 2025 tidak tuntas juga," tegasnya.

Dengan hal tersebut, Mufti menganggap Pertamina justru menjadi mafia migas itu sendiri karena seakan selalu menunda pembangunan kilang minyak baru dan selalu melakukan impor minyak.

Selanjutnya, Mufti mengungkapkan bobroknya Pertamina dapat dilihat terkait adanya temuan bahwa kandungan sulfur pada jenis BBM RON 92 atau Pertamax setara dengan RON 90 atau Pertalite.

Dia mengatakan hal tersebut melanggar ketentuan aturan yang diterbitkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup.

"Kandungan sulfur Pertamax ternyata sama dengan Pertalite yang 500 ppm. Bayangkan, standar Euro4 saja RON 92 kandungan sulfurnya seharusnya 50 ppm. Belum lagi, kalau lihat tetangga kita, Shell hanya 10 ppm," ujarnya.

Namun, Mufti mengatakan bobroknya Pertamina tersebut tidak sebanding dengan tingginya gaji petinggi-petingginya.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved