Minggu, 17 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Wajibkan Baju Lebaran di Hari Pertama Sekolah, Kepsek SDN Sawahkulon Dicopot!

Kepala SDN Sawahkulon Purwakarta dicopot usai mewajibkan murid pakai baju lebaran. Disdik bertindak atas perintah langsung Bupati.

Tayang:
TRIBUN JABAR/DEANZA FALEVI
DEDI MULYADI - Kepala Sekolah SDN Sawahkulon diberhentikan sementara karena aturan "nyeleneh". Sosok Dedi Mulyadi, Kepsek Dinonaktifkan Gegara Suruh Siswa Pakai Baju Lebaran: Saya Ikhlas 

TRIBUNJATENG.COM, PURWAKARTA -  Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta resmi memberhentikan Dedi Mulyadi dari jabatannya sebagai Kepala SDN Sawahkulon.

Langkah tegas ini diambil menyusul kebijakan kontroversial yang sempat menuai sorotan publik: mewajibkan siswa memakai baju lebaran saat masuk sekolah di hari pertama.  

Aturan unik tersebut ternyata dianggap menyulitkan sebagian orang tua murid, terutama dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.

Alhasil, kebijakan itu justru memicu keresahan hingga akhirnya berujung pada pencopotan Dedi.  

Kepala Disdik Purwakarta, Purwanto, membenarkan bahwa pencopotan Dedi merupakan instruksi langsung dari Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein atau yang akrab disapa Om Zein.

Untuk sementara, posisi kepala sekolah digantikan oleh pelaksana tugas.  

“Yang bersangkutan sudah dinonaktifkan. Jabatan kepala sekolah kini diisi oleh Plt,” ujar Purwanto, Rabu (9/4/2025).  

Menurut Purwanto, kebijakan seragam baju lebaran tidak memiliki kaitan yang jelas dengan kegiatan belajar-mengajar.

Ia mengingatkan agar kepala sekolah lebih bijak saat membuat aturan.  

“Pakaian lebaran tidak relevan dengan proses pendidikan. Jangan sampai kebijakan simbolik justru membingungkan atau memberatkan orang tua,” tegasnya.  

Sementara itu, Om Zein menjelaskan alasan di balik perintah pencopotan tersebut. Menurutnya, kebijakan Dedi kurang mempertimbangkan kondisi ekonomi orang tua siswa dan berisiko menambah beban mereka.  

“Saya langsung instruksikan pencopotan. Sekolah harus membuat kebijakan yang mendukung kualitas pendidikan, bukan sebaliknya,” jelasnya.  

Ia menekankan bahwa sekolah tidak boleh mengeluarkan aturan yang malah menimbulkan polemik. Ia ingin kebijakan pendidikan lebih terfokus pada esensi dan kualitas.  

Menanggapi pencopotannya, Dedi Mulyadi mengaku legawa. Ia menyebut keputusan ini sebagai proses yang harus ia jalani dan menjadi bagian dari pembelajaran hidup.  

“Saya terima dengan ikhlas. Semoga ini jadi pelajaran dan langkah baru untuk lebih bersyukur,” kata Dedi, Selasa (8/4/2025).  

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved