Kamis, 23 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

UMKM

Perjalanan Unik Sriyanto Merintis Kopi Kenthir dan Melahirkan Kopi Torik Hingga Jadi Ikon Daerah

Di tengah banyaknya produk kopi di Jawa Tengah, ada satu merk kopi yang cukup mencuri perhatian, yaitu Kopi Kenthir.

Penulis: Adelia Sari | Editor: galih permadi
TRIBUNJATENG/LIKE ADELIA
KOPI KENTHIR: Sriyanto pemilik UMKM Kopi Kenthir sedang membuat kopi Torik di rumahnya, Dusun Jeruk Wangi, Desa Bedono, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah pada Sabtu (19/4/2025) 

TRIBUNJATENG.COM - Kopi sudah menjadi minuman yang tak terpisahkan dari budaya dan gaya hidup masyarakat.

Indonesia sendiri memiliki beragam jenis kopi unggulan, termasuk Jawa Tengah.

Di tengah banyaknya produk kopi di Jawa Tengah, ada satu merk kopi yang cukup mencuri perhatian, yaitu Kopi Kenthir.

Nama merk ini mungkin terdengar nyeleneh namun unik.

Bagi sebagai masyarakat Jawa Tengah, ‘kenthir’ memiliki konotasi negatif merujuk pada sesuatu yang kurang waras.

Baca juga: Sabun Mandi dan Tangan Kreatif Samini Hasilkan Bunga Menawan Bernilai Ekonomis Tinggi

Namun, bagi Sriyanto, Kenthir sendiri memiliki makna Kenthel tur Ireng atau kental dan hitam.

Kopi Kenthir sendiri adalah merk kopi yang dibuat oleh Sriyanto, pria asal Dusun Jeruk Wangi, Desa Bedono, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Ia merintis usaha kopi sejak tahun 2014.

“Usaha kopi sebenarnya itu sudah turun menurun, saya d tahun 1987, saya lulus SD, nggak disuruh neruskan sekolah. Saya dibelikan cangkul oleh bapak, saya belajar bertani, eh malah bapak meninggal. Saya sebatang kara sama ibuk, saya terus bertani,” ucap Sriyanto kepada Tribun Jateng pada Sabtu (19/4/2025).

kopi kenthir 26/4
KOPI KENTHIR : Sriyanto sedang memetik biji kopi di kebunnya yang beralamat di Dusun Jeruk Wangi, Desa Bedono, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah pada Sabtu (19/4/2025)

Namun, untuk meningkatkan ekonomi, Sriyanto kemudian mencoba pekerjaan lain.

Seperti menjadi tukang gergaji, tukang bangunan, hingga menjadi sales kaligrafi.

“Kebetulan beliau Syech Puji, kepala desa di Bedono, lurah saya. Punya usaha kaligrafi, langsung mendaftarkan diri untuk jadi menjadi sales,” kenang Sriyanto.

Perjalanan Sriyanto menjadi sales kaligrafi bisa dibilang sukses.

Ia bahkan sudah naik ke posisi sales manajer dan ditugaskan ke beberapa kota.

Pada saat bertugas di Aceh, Sriyanto melihat banyak kedai kopi di sepanjang jalan.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved