Berita Wonosobo
Santri Hanyut di Sungai Serayu Wonosobo Ditemukan Tewas Tersangkut di Batu
Santri 15 tahun asal Magelang ditemukan tewas tersangkut di batu Sungai Serayu Wonosobo setelah dua hari pencarian oleh tim SAR gabungan.
Penulis: Imah Masitoh | Editor: Catur waskito Edy
TRIBUNJATENG.COM, WONOSOBO -- Pencarian seorang santri asal Magelang yang hanyut di Sungai Serayu, Wonosobo, akhirnya membuahkan hasil.
Remaja berusia 15 tahun tersebut ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada hari kedua operasi pencarian, dengan posisi tubuh tersangkut di batu sungai sejauh 2,5 kilometer dari lokasi awal hanyut.
Peristiwa tragis ini terjadi pada Selasa (20/5/2025) sekitar pukul 12.00 WIB.
Korban berinisial MRS (15), warga Kauman, Kecamatan Magelang, Kota Magelang, diketahui sedang mandi dan bermain air bersama temannya di bawah jembatan gantung yang dilintasi aliran Sungai Serayu.
Korban yang merupakan santri MTs Ma'arif Sojokerto, Leksono, Wonosobo, diduga tidak bisa berenang sehingga terbawa derasnya arus sungai. Sementara temannya berhasil menyelamatkan diri.
"Korban berstatus santri di MTs Ma'arif Sojokerto, Kecamatan Leksono. Ia hanyut saat mandi bersama temannya di bawah jembatan gantung," ujar Kepala Pelaksana BPBD Wonosobo, Dudy Wardoyo.
Setelah menerima laporan, tim BPBD Wonosobo segera mengerahkan tiga tim Search and Rescue Unit (SRU) untuk melakukan pencarian sepanjang aliran Sungai Serayu.
Namun pada hari pertama pencarian, tim belum berhasil menemukan korban karena kondisi arus yang deras dan air yang keruh.
“Hari pertama pencarian dilakukan hingga pukul 16.00 WIB, namun korban tak kunjung ditemukan,” jelas Dudy.
Pencarian dilanjutkan pada Rabu pagi (21/5/2025). Sekitar pukul 07.45 WIB, jasad korban berhasil ditemukan tersangkut di batu sungai dekat jembatan merah Desa Selokromo, Kecamatan Leksono—sekitar 2,5 kilometer dari titik awal korban hanyut.
“Korban ditemukan dalam keadaan meninggal dunia, tersangkut di batu sungai,” tambah Dudy.
Pemeriksaan awal terhadap jasad korban dilakukan oleh Tim Inafis Polres Wonosobo. Hasilnya, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan atau dugaan kriminal.
“Tidak ada tanda kekerasan di tubuh korban. Keluarga juga menolak autopsi dan memilih untuk langsung memakamkan jenazah,” ungkap Aipda Nanang DP Wibowo, Kasubsi Penjas Sie Humas Polres Wonosobo.
Tragedi ini kembali menjadi pengingat akan bahaya aktivitas di sungai, terutama bagi anak-anak dan remaja yang belum bisa berenang.
Sungai Serayu dikenal memiliki arus yang deras dan tidak bisa diprediksi, terutama saat musim hujan atau setelah hujan deras.
Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati, khususnya saat melakukan kegiatan di area sungai tanpa pengawasan atau alat keselamatan.
Kematian tragis MRS di Sungai Serayu menjadi duka mendalam, sekaligus pengingat pentingnya edukasi dan pengawasan terhadap anak-anak yang beraktivitas di alam terbuka.
Kewaspadaan, kemampuan berenang, serta pemahaman tentang risiko arus sungai harus ditingkatkan demi mencegah insiden serupa di masa depan. (*)
| RS PKU Muhammadiyah Wonosobo Jadi Pelopor Layanan Kesehatan Tradisional di Daerah |
|
|---|
| Polisi Ringkus Pemuda Wonosobo, Sita 2.476 Butir Obat Berbahaya Siap Edar |
|
|---|
| Sosialisasi di Wonosobo, BPJPH Tegaskan Oktober 2026 Jadi Batas Akhir Produk Wajib Sertifikat Halal |
|
|---|
| Ponpes Lirboyo XIX Hadir di Wonosobo, Wabup Amir Husein Soroti Peran Strategis Pesantren |
|
|---|
| Wonosobo Sosialisasikan WNFC 2026, Enam Kostum Ikon Resmi Diluncurkan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Jasad-remaja-MRS-15-yang-hanyut-di-Sungai-Serayu-akhirnya-ditemukan.jpg)