Selasa, 2 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Regional

4 Hari Mencekam di Lautan: Kisah Dowinta, Ibu dan Dua Anak Terombang-ambing Menuju Upacara Adat

Penumpang Kapal Motor (KM) Altaf, Dowinta atau Dodo, menceritakan pengalaman menegangkan saat  terombang-ambing di laut selama 4 hari.

Tayang:
Editor: raka f pujangga
TribunBengkulu.com/Romi Juniandra dan Beta Misutra
KAPAL HILANG KONTAK - Dowinta penumpang Kapal motor (KM) Altaf yang sempat dilaporkan hilang kontak saat berlayar menuju Pulau Enggano saat diwawancarai TribunBengkulu.com, Kamis (29/5/2025). Dowinta bersama dua anaknya, kakak kandung, kakak ipar, serta tiga anak buah kapal (ABK), terombang-ambing di lautan selama sekitar empat hari. 

TRIBUNJATENG.COM, KEPAHIANG - Penumpang Kapal Motor (KM) Altaf, Dowinta atau Dodo, menceritakan pengalaman menegangkan saat  terombang-ambing di laut selama empat hari, dari Sabtu (24/5/2025) malam hingga Selasa (27/5/2025) pagi.

Dowinta sempat dilaporkan hilang kontak saat berlayar menuju Pulau Enggano.

Setelah kapal mereka mengalami kerusakan pada baling-baling Sabtu malam, kapal pun terombang-ambing tak terkendali, 

Baca juga: Kapal Kargo Raksasa Nyaris Tabrak Rumah di Pantai gara-gara Nakhoda Ketiduran

Bahkan kapal yang ditumpanginya malah menghadap ke Samudra Hindia yang luas.

Dodo menjelaskan selama itu, aktivitas mereka hanya makan, tidur, dan memandangi sekeliling, berharap ada kapal lain yang lewat dan menyelamatkan mereka.

Bahkan di malam hari, mereka sempat melihat titik-titik cahaya dari kapal lain.

"Tapi kami tidak bisa menghubungi mereka. Sinyal yang kami berikan juga tak sampai," ungkap Dodo kepada TribunBengkulu.com, Kamis (29/5/2025).

Dodo mengaku sempat merasa putus asa. Anak-anaknya pun sering bertanya kapan mereka akan dijemput.

Sambil berkaca-kaca dengan suara bergetar, Dodo berkata, jika hanya dirinya, mungkin bisa lebih ikhlas menerima keadaan. 

Namun dia ingat anak-anak yang baru saja kehilangan sang ayah, dan tujuan perjalanan ke Enggano adalah untuk tujuh hari kematian dan upacara adat ayah mereka.

"Anak-anak yang saya pikirkan. Sudah kehilangan bapak, kok bisa mengalami kejadian terombang-ambing di lautan seperti ini," ujarnya.

Untungnya, salah satu awak kapal mampu menghibur anak-anak Dodo. 

Awak kapal tersebut memasakkan makanan dan mengajak mereka memancing.

"Awak kapal ini hebat memancing, bisa dapat empat ikan besar. Anak-anak jadi senang," kata Dodo.

Berkat usaha Dodo dan anak buah kapal, dua anaknya tampak tidak terlalu trauma, terutama anak laki-lakinya yang seolah menganggap mereka sedang piknik atau bermain.

"Alhamdulillah, anak-anak sehat dan tidak trauma," tambahnya.

Beruntung, pada Selasa (27/5/2025) pagi, mereka mendapatkan sinyal dan segera meminta bantuan hingga akhirnya diselamatkan.

Mereka pun sempat mendapat perawatan di Rumah Sakit Krui, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung, sesaat setelah evakuasi pada Selasa sore.

Mereka memang terombang-ambing sampai ke perairan Lampung sebelum akhirnya diselamatkan.

Hilang Kontak

Sebelumnya, diberitakan, kapal nelayan KM Altaf yang mengangkut lima penumpang dengan tujuan Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, dilaporkan hilang kontak.

KM Altaf memiliki ciri-ciri warna kuning hijau, panjang 18 meter, lebar 4,5 meter.

Kapal dikapteni Mansyur dengan dua ABK, Ramli dan Prengki.

Kelima penumpang yang berada di atas kapal diketahui adalah Dowinta alias Dodo, yang bepergian bersama dua anaknya, yakni Nafta (6 tahun) dan Nagif (3 tahun).

Dua penumpang lain yang masih memiliki hubungan keluarga dengan Dodo adalah Novi, kakak laki-lakinya, dan Dani, kakak ipar Dodo.

Menurut penuturan Mulyadi, salah satu kerabat korban yang berada di Pulau Enggano, ia sempat menghubungi Dodo melalui sambungan telepon pada Sabtu (24/5/2025) sekitar pukul 14.00 WIB, saat rombongan berangkat dari Pelabuhan Pulau Baai, Bengkulu.

"Ketika saya hubungi, mereka baru akan keluar dari pelabuhan. Tapi setelah kapal mulai memasuki wilayah laut, sambungan telepon terputus," jelas Mulyadi saat dihubungi TribunBengkulu.com.

Dalam kondisi laut yang normal, kapal seharusnya sudah tiba di Enggano pada Minggu (25/5/2025) sekitar pukul 02.00 WIB dini hari.

"Paling lambat biasanya tiba pukul 04.00 WIB subuh. Tapi sampai sekarang kapal belum juga sampai," ungkap Mulyadi.

Pihak keluarga pun terus mencoba menghubungi nomor telepon para penumpang, namun hingga berita ini diturunkan, tidak ada satu pun nomor yang aktif.

Sementara itu, Basarnas Bengkulu telah menerima laporan terkait insiden kapal hilang tersebut.

Namun, upaya pencarian mengalami kendala karena KM Altaf tidak dilengkapi dengan radio komunikasi.

“Satu-satunya alat komunikasi di kapal hanya handphone. Sedangkan di tengah laut, kita tahu sendiri jaringan tidak tersedia,” jelas Mega Maysilva, Humas Basarnas Bengkulu, pada Senin (26/5/2025).

Meski begitu, pihak Basarnas telah berkoordinasi dengan sejumlah nelayan yang dikabarkan akan bertolak ke Enggano hari ini.

Selain itu, tim pencarian juga tengah dipersiapkan untuk menyisir kemungkinan lokasi keberadaan kapal yang hilang.

Urusan Adat

Korban kapal hilang tujuan Pulau Enggano Kabupaten Bengkulu Utara, ternyata berangkat gunakan kepal nelayan untuk selesaikan urusan adat almarhum suami.

Korban yang menjadi penumpang KM Altaf tujuan Enggano untuk selesaikan urusan adat suami tersebut bernama Dowinta/Dodo (35).

Dodo sendiri merupakan warga asal Desa Air Hitam Kecamatan Ujan Mas Kabupaten Kepahiang, yang hari Sabtu (26/5/2025) lalu bertujuan untuk berangkat ke Pulau Enggano.

Dirinya berangkat bersama dengan kedua anaknya yaitu laki-laki atas nama Nata (6) dan perempuan atas nama Nakib (3).

Dodo juga ditemani oleh Novi (36) yang merupakan kakak laki-laki Dodo, dan Danil (40) yang merupakan kakak ipar Dodo.

Mereka sama-sama berangkat dari Kabupaten Kepahiang menuju ke Pelabuhan Pulau Baai, dengan tujuan desa asal almarhum suaminya di Pulau Enggano tepatnya di Desa Malakoni.

"Dia (Dodo) ini berangkat dari Kepahiang, suaminya baru meninggal 6 hari yang lalu. Mau ke sini (Enggano) untuk nyelesaikan soal adat almarhum suaminya itu," ungkap Mulyadi kerabat korban yang ada di Pulau Enggano saat dihubungi TribunBengkulu.com.

Korban berangkat dari Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu pada Sabtu (24/5/2025) sekitar pukul 14.00 WIB.

Saat itu Mulyadi sempat menghubungi korban via telepon dan saat itu korban baru mau keluar dari pelabuhan Pulau Baai.

Karena mereka sudah mau memasuki wilayah laut, sehingga sambungan telepon antara Mulyadi dan juga korban harus terputus.

Harusnya jika kondisi laut dalam keadaan normal, kapal yang ditumpangi oleh korban harusnya tiba pada Minggu (25/5/2025) sekitar pukul 02.00 WIB dini hari.

"Atau biasanya paling lambat pukul 04.00 WIB subuh itu harusnya sudah tiba, tapi sampai saat ini kapalnya belum kunjung tiba," ungkap Mulyadi saat itu.

Ditemukan di Perairan Lampung

Setelah hampir dua hari hilang kontak di tengah laut, kapal nelayan tujuan Pulau Enggano, Bengkulu, akhirnya ditemukan dalam kondisi selamat di perairan Lampung.

Kabar tersebut disampaikan oleh Humas Basarnas, Mega Masysilva, kepada TribunBengkulu.com pada Selasa (27/5/2025) pagi.

"Pada Senin pagi (27/5/2025), kami telah menerima informasi dari Fengki, ABK Kapal Althaf, bahwa kapal Althaf saat ini berada di perairan Lampung," ujar Mega.

Ia menjelaskan bahwa saat ditemukan, kapal dalam kondisi rusak.

Namun, seluruh penumpang yang terdiri dari lima orang serta satu kapten kapal dan awaknya, dilaporkan selamat.

Lima penumpang tersebut adalah Dowinta atau Dodo (35), yang berangkat bersama dua anaknya, yaitu Nata (6) dan Nakib (3).

Dua penumpang lainnya yang masih kerabat Dodo adalah Novi (36), kakak laki-laki Dodo, dan Danil (40), kakak ipar Dodo.

Selain lima penumpang, kapal juga ditumpangi oleh seorang kapten bernama Mansur, serta dua awak kapal, Ramli dan Prengki.

"Dengan kondisi ada kerusakan pada mesin kapal. Kondisi penumpang selamat," lanjut Mega.

Setelah menerima informasi keberadaan kapal, Basarnas segera menyiapkan tim SAR (Search and Rescue) untuk mengevakuasi para korban.

Pulang ke Rumah

Dowinta Mei Fitriati (32), terlihat duduk dan berinteraksi dengan keluarganya di rumah mereka di Desa Air Hitam, Kepahiang, Bengkulu, Kamis (29/5/2025) sore.

Dowinta merupakan salah satu korban kapal motor (KM) Altaf yang sempat dilaporkan hilang kontak saat berlayar menuju Pulau Enggano sejak Sabtu (24/5/2025) malam hingga Selasa (27/5/2025).

Ia bersama dua anaknya, kakak kandung, kakak ipar, serta tiga anak buah kapal (ABK), terombang-ambing di lautan selama sekitar empat hari.

Pantauan TribunBengkulu.com, tak hanya keluarga, warga desa pun datang silih berganti ke rumah Dowinta

Mereka ingin melihat kondisi Dowinta dan anak-anaknya secara langsung.

Warga yang datang tampak menyalami dan memeluk Dowinta sambil mengucapkan syukur serta memberikan semangat.

"Saya juga tidak menyangka akan seviral ini. Alhamdulillah, mungkin berkat doa keluarga, warga di sini, dan mungkin semua masyarakat Bengkulu, saya bisa selamat," kata Dowinta kepada TribunBengkulu.com.

Baca juga: Detik-detik Penumpang Bus Kebingungan Ketinggalan Kapal Karena Jajan Mie Instan

Secara fisik, Dowinta bersyukur karena dirinya dan anak-anak dalam keadaan sehat tanpa kekurangan apa pun.

Setelah berhasil dievakuasi pada Selasa (27/5/2025) sore, mereka sempat mendapat perawatan di Rumah Sakit Krui, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung.

Mereka memang terombang-ambing hingga ke perairan Lampung sebelum akhirnya diselamatkan. (*)

 

Artikel ini telah tayang di Tribunbengkulu.com dengan judul Kisah Dowinta Terombang-ambing 3 Hari di Perairan Bengkulu, Dihibur Awak Kapal yang Jago Mancing

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved