Rabu, 8 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Jateng

Kadin Jateng Upayakan Ciptakan Pasar Baru Minimalisasi PHK

Kamar Dangan Indonesia (Kadin) Jateng mengupayakan menciptakan pasar baru untuk meminimalisasi pemutusan hubungan kerja (PHK). 

EKA YULIANTI FAJLIN
Ketua Kadin Jateng, Harry Nuryanto Soediro (TRIBUN JATENG / EKA YULIANTI FAJLIN) 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kamar Dangan Indonesia (Kadin) Jateng mengupayakan menciptakan pasar baru untuk meminimalisasi pemutusan hubungan kerja (PHK). 

Ketua Kadin Jateng, Harry Nuryanto Soediro mengatakan, penyerapan tenaga kerja di Jateng memang cukup tinggi. Di tengah dunia ekonomi baik global maupun nasional sedang tidak begitu baik, tentu berdampak pada tenaga kerja
 
"Karena penerapan tenaga kerja besar, kalau perusahana tutup, banyak sekali PHK diterpakan. Beda di tempat lain menggunakan teknologi. Disini penerapan tenaga kerjanya cukup besar," terang Harry, Kamis (29/6/2025).

Diakui Harry, kasus PHK menjadi pekerjaan yang cukup berat. Pihaknya bersama pemerintah pusat dan daerah terus berkomunikasi jika menemukan kendala di perusahaan. Kadin pun berupaya menciptakan pasar baru baik dalam maupun luar negeri untuk bisa menyerap produk-produk dari Jateng. Sehingga, industri diharapkan tetap berjalan. 

"Memang kita ketergantungan di suatu daerah, daerah itu mengalami krisis ekonomi. Kebanyakan produksi kita diekspor Kami coba carikan pasar dakam negeri maupun luar negeri," jelasnya. 

Disinggung soal efisiensi anggaran, menurut Harry, dunia industri manufaktur tidak terdampak kebijakan tersebut. Dampak efisiensi lebih pada sektor pariwisata seperti perhotelan dan transportasi. 

Sementara itu, data Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Semarang mencatat kasus PHK di ibu kota Jawa Tengah mencapai 1.750 orang.

Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Semarang, Sutrisno, menjelaskan dari total kasus PHK tersebut, dominasi terbesar berasal dari PHK massal di PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex).

Menurut dia, PHK terjadi karena perusahaan mengalami pailit. Diakuinya, mayoritas pekerja yang terkena PHK masih usia produktif. Namun, jika harus terjun mencari pekerjaan kembali di dunia industri cukup sulit. 

"Ada yang 40 tahun, ada yang 50 tahun. Untuk daftar lagu ke industri susah, tapi untuk wirausaha bisa," ungkapnya. 

Sutrisno menyebut, Disnaker memiliki program pelatihan. Ini bisa dimanfaatkan oleh masyarakat, termasuk yang terkena PHK. Hanya saja, pada tahun ini kuota pelatihan sudah penuh. Pihaknya akan membuka pelatihan lagi pada tahun depan. Pelatihan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, misalnya, barista, menjahit, membatik, dan sebagainya. (eyf)

Baca juga: Kwarcab Batang Raih Penghargaan "Teladan" di Pesta Siaga Kwarda Jateng

Baca juga: Dongeng Anak Sebelum Tidur, Kisah Arion dan Diana di Pegunungan Salju

Baca juga: Percepat Pendirian Koperasi Merah Putih di Pekalongan, Kemenkum Jawa Tengah Lakukan Koordinasi

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved