Green Qurban Muhammadiyah Semarang: Kurban Ramah Lingkungan Tanpa Sampah Plastik
Setiap kali Iduladha tiba, ribuan titik penyembelihan hewan kurban bermunculan di seluruh Indonesia. Di balik suasana religius dan semangat berbagi.
TRIBUNJATENG.COM - Setiap kali Iduladha tiba, ribuan titik penyembelihan hewan kurban bermunculan di seluruh Indonesia. Di balik suasana religius dan semangat berbagi, ada satu sisi yang sering luput dari perhatian: tumpukan kantong plastik yang menggunung setelah pembagian daging. Diperkirakan, momen kurban bisa menyumbang berton-ton sampah plastik dalam sehari—menambah beban pada sistem pengelolaan sampah yang sudah kewalahan.
Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia memproduksi lebih dari 11 juta ton sampah plastik per tahun, dengan 3,2 juta ton di antaranya mencemari lautan. Dalam konteks inilah, gerakan green qurban menjadi lebih dari sekadar inovasi: ia menjadi bentuk nyata kepedulian pada bumi.
Di Kota Semarang, dua masjid di bawah naungan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM)—yakni Masjid At-Taqwa Roemani dan Masjid At-Taqwa Ngaliyan—mengambil langkah konkret untuk menghadirkan kurban ramah lingkungan. Pada Sabtu, 7 Juni 2025, kedua masjid ini serempak menyembelih hewan kurban tanpa menggunakan plastik konvensional sedikit pun. Sebagai gantinya, mereka membungkus daging kurban menggunakan daun jati sebagai alas, lalu mengemasnya dalam besek bambu, yang secara alami mudah terurai dan tidak mencemari lingkungan.
Baca juga: PT Kimia Yasa Salurkan Daging Kurban di Jateng, Jabar, dan Jatim
Baca juga: Akhir Cerita Warga Diminta Rp 15.000 oleh Panita untuk Menebus Daging Kurban, Kapolsek Angkat Bicara
Di Masjid At-Taqwa Roemani, suasana Sabtu pagi kemarin begitu bersahaja namun penuh makna. Deretan besek tampak tersusun rapi, seolah siap membawa pesan perubahan kepada setiap penerimanya. Tak ada derit kantong plastik yang biasa terdengar saat proses pengemasan. Sebaliknya, gesekan lembut daun jati dan anyaman bambu menghadirkan kesan alami dan menenangkan.
“Kita ingin mengubah cara kita berkurban.Bukan hanya soal syariat, tapi juga soal tanggung jawab sosial dan ekologis,” ujar Ketua Takmir Masjid At-Taqwa Roemani Syaifullah, S.Sos (58), Sabtu (7/6/2025).
Tahun ini, panitia kurban Masjid At-Taqwa Roemani menyiapkan 1.250 besek untuk membungkus daging dari 5 ekor sapi dan 13 ekor kambing. Jumlah hewan kurban itu sendiri merupakan bagian dari 178 ekor sapi dan 228 kambing yang dihimpun Muhammadiyah Kota Semarang lewat Lazismu.
Meski diakui bahwa harga satu besek lebih mahal dibandingkan plastik, bagi Syaifullah, biaya itu sebanding dengan dampaknya. “Besek itu bisa terurai, tidak mencemari. Kita ikuti seruan Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah untuk menjalankan green qurban, karena ini memang soal masa depan bumi,” lanjutnya.
Ia berharap upaya kecil ini bisa menjadi kebiasaan yang meluas di masa mendatang.
Kearifan Lokal
Sementara itu, suasana tak kalah menyentuh juga terlihat di Masjid At-Taqwa Ngaliyan. Kegiatan kurban di sana menghadirkan pemandangan yang mengingatkan kita pada kearifan lokal yang mulai ditinggalkan. Panitia kurban memilih menggunakan daun jati bukan hanya karena ramah lingkungan, tapi juga karena memberikan efek positif terhadap kualitas daging.
“Daun jati itu bukan sekadar alas. Ia menjaga daging tetap segar lebih lama dan memperkaya aroma alami. Setelah itu, dibungkus dalam besek bambu yang ringan namun kuat,” jelas Ripai, S.H. (55), Ketua Panitia Kurban Masjid At-Taqwa Ngaliyan, Sabtu (7/6/2025).
Tak hanya itu, semangat menjaga lingkungan juga diwujudkan dalam hal yang tampak sepele namun bermakna: sarapan panitia pun dibungkus daun jati.
“Bayangkan, ada 75 orang panitia sarapan. Kalau kami pakai box plastik untuk bungkus sarapan, berarti ada 75 bungkus sampah plastik langsung tercipta. Tapi dengan daun jati, semua bisa dikomposkan atau terurai tanpa meninggalkan jejak,” ujar Ripai sambil tersenyum. Total hewan kurban yang disembelih di masjid ini sendiri adalah 3 sapi dan 7 kambing, yang dibagikang dalam 500 paket besek.
Namun, apakah kemasan organik seperti daun jati dan besek bambu aman untuk membungkus daging? Prof. Dr. Nurrahman, guru besar teknologi pangan dari Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), menjawab tegas: aman, asalkan penggunaannya dilakukan dengan benar.
“Daun jati dan besek bambuy itu ramah lingkungan dan tidak mengubah kualitas daging, tapi harus dipastikan bersih. Sebaiknya dibersihkan lalu dikibas-kibas atauy diangin-anginkan dulu sebelum digunakan,” jelasnya.
| Prakiraan Cuaca Kota Semarang Hari Ini Senin 18 Mei 2026: Hujan Ringan |
|
|---|
| Warga Jembawan Pasang Sandbag untuk Cegah Longsor Susulan |
|
|---|
| Wali Kota Agustina: Dimulai Besok Senin, Perbaikan Jembatan Jalan Honggowongso Semarang |
|
|---|
| Respons Cepat, Wali Kota Agustina Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir Mangkang dan Purwoyoso |
|
|---|
| Perjuangan Atlet Cilik NTB, Sebrangi Laut ke Semarang demi Berlaga di Champ of the Champ 2026 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Besek-Bambu-kurban-Muhammadiyah.jpg)