Sabtu, 30 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Berlari Bersama Tamiya: Komunitas Rangers Lawan Budaya Mager dan Gadget

Hadir sebuah komunitas yang menyuguhkan konsep olahraga unik dan penuh keceriaan.

Tayang: | Diperbarui:
TRIBUN JATENG/F ARIEL SETIAPUTRA
RANGERS: Keseruan komunitas Semarang Runners (Rangers) saat memainkan Mini 4WD, belum lama ini. (TRIBUN JATENG/F ARIEL SETIAPUTRA) 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Di tengah dominasi gadget dan minimnya aktivitas fisik masyarakat, terutama anak-anak, hadir sebuah komunitas yang menyuguhkan konsep olahraga unik dan penuh keceriaan.

Yakni komunitas Semarang Runners (Rangers) dari PKPI Semarang, atau Perkumpulan Komunitas Playon Indonesia cabang Semarang.

Mengusung permainan legendaris Mini 4WD (sering dikenal sebagai Tamiya), komunitas ini memperkenalkan gaya olahraga baru bernama Street Mini 4WD.

Baca juga: Undip Kini Punya Stadion Bulu Tangkis Rp43 Miliar Bertaraf Internasional, Calon Venue Pomnas 2025

"Kita ingin kampanyekan adalah olahraga sambil bermain, keseruannya, keasyikannya, kekompakannya, karena sekali bermain pasti akan nagih.

Dan utamanya bagi anak-anak agar dapat istirahat dengan gadget, mengingat sekarang era nya era gadget, anak-anak TK dan SD saja sudah di perkenalkan dengan gadget," jelas Panjalu Ardhi, penggerak komunitas PKPI Semarang.

Meski demikian, komunitas ini sebenarnya tak hanya diisi oleh anak-anak, namun juga orang dewasa.

Bahkan lewat komunitas ini, menjadi wadah nostalgia bagi beberapa orang yang masa kecilnya menyukai tamiya.

“Tamiya itu sebenarnya nama brand.

Di olahraga ini, kita bebas menggunakan mobil mini 4WD merek apa pun, bahkan rakitan sendiri (DIY),” lanjut Ardhi.

Berbeda dengan balapan Tamiya yang punya lintasan sirkuit khusus, Street Mini 4WD dimainkan di ruang terbuka seperti jalan umum, taman kota, atau area CFD.

Pegiat dalam komunitas ini berlari sambil mengarahkan mobil Mini 4WD mereka menggunakan guide stick yang dibuat secara kostumisasi.

Dalam permainannya, pegiat seolah menyatu dengan mobil yang mereka modifikasi sendiri.

Makanya, saat bermain street mini 4WD, selain teknik, permainan ini juga turut melatih daya tahan atau endurance pada pegiat.

“Jadi, permainan ini juga sekaligus olahraga.

Cara bermainnya menyesuaikan dengan kecepatan dari kit (kendaraan) masing-masing.

Kemudian setting kit itu bisa dengan modif dinamo, gear ratio, atau baterai.

Bahkan banyak yang pakai bahan-bahan bekas, kayak busa stang sepeda untuk ban atau botol sampo bekas buat underguard.

Inilah kenapa kita pakai tagar #StreetItuBebas,” ujar Ardhi.

PKPI Semarang berdiri pada masa pandemi sebagai alternatif olahraga luar ruangan. 

Dimulai dari 2–3 orang saja, kini komunitas ini telah berkembang menjadi puluhan pegiat yang aktif berlatih di berbagai titik di Kota Semarang, dari Tlogosari hingga Gunungpati.

Sejak tahun 2024, komunitas ini resmi terdaftar dalam naungan KORMI (Komite Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia).

Mereka bahkan ambil bagian dalam ajang FORKOT KORMI Kota Semarang 2025 di halaman Balai Kota Semarang beberapa waktu lalu.

“KORMI itu tujuannya memasyarakatkan olahraga untuk menuju Indonesia bugar 2045.

Kami bangga bisa jadi bagian dari misi besar itu lewat komunitas Street Mini 4WD,” kata Ardhi.

Selain menyenangkan, olahraga ini juga menyehatkan dan edukatif.

“Banyak anak-anak bisa istirahat dari gadget, belajar teknik, dan melatih motorik.

Lari sambil mengendalikan mobil itu butuh konsentrasi tinggi,” jelas Ardhi.

PKPI Semarang juga tak sekadar bermain.

Mereka aktif mengikuti kompetisi regional dan nasional.

Prestasi seperti juara di Jogja dan Kudus sudah berhasil mereka raih.

Latihan rutin mereka digelar setiap Minggu pagi di area CFD depan Kantor Gubernur Jawa Tengah.

Selain latihan, tersedia juga bengkel komunitas dan forum online untuk berbagi tips modifikasi.

Street Mini 4WD bukan hanya tentang nostalgia masa kecil.

Ini adalah gerakan sosial baru untuk hidup sehat, kreatif, dan aktif di era digital. 

“Kami juga berharap KORMI lebih sering turun ke lapangan.

Masih banyak warga yang belum tahu KORMI itu apa.

Lewat media sosial dan kegiatan publik, kami bantu sosialisasikan,” pungkas Ardhi. (arl)

Baca juga: Mendikdasmen: Mata Pelajaran Coding dan AI Mulai Diterapkan Pada Tahun Ajaran 2025/2026

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved