Jumat, 24 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Nasional

Kasus Kematian Diplomat Kemenlu, Keluarga Yakin ADP Tidak Bunuh Diri

Meta Bagus menyatakan, pihak keluarga tidak meyakini ADP tewas karena bunuh diri.

Dok. Pribadi Arya Daru
DIPLOMAT MUDA TEWAS - ADP semasa hidup. Foto ini diunggah di media sosialnya pada 4 Februari 2024. (Dok Pribadi ADP) 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA – Kasus kematian ADP (39), diplomat Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), yang ditemukan tewas dengan kepala terlilit lakban kuning di kamar kosnya menjadi perhatian publik.

Kepolisian Daerah Metro Jaya telah mengumumkan hasil penyelidikan.

Keterangan polisi tersebut memicu berbagai reaksi publik, termasuk dari pihak keluarga korban. 

Baca juga: Kata Polisi soal Wanita Inisial V yang Bersama Diplomat Kemenlu Sebelum Tewas

Melalui sebuah dokumen dalam format PDF yang diterima Kompas.com dari kakak ipar ADP, Meta Bagus, pihak keluarga akhirnya menyampaikan pernyataan resmi terkait hasil penyelidikan tersebut.

Harapan Keluarga

Keluarga menyatakan keyakinannya bahwa setiap orang berhak mendapatkan kebenaran, apalagi jika menyangkut orang yang sangat dicintai.

Keluarga berharap proses penyelidikan dilakukan secara cermat, menyeluruh, dan profesional.

Dengan demikian, keluarga berharap setiap fakta yang ada dapat diperiksa secara teliti dan transparan oleh penyidik Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya.

“Kami juga berharap semua masukan dari keluarga termasuk hal-hal yang kami alami dan ketahui secara langsung, dapat ikut dipertimbangkan,” ujar pihak keluarga.

Keluarga mengaku menaruh kepercayaan pada integritas dan tanggung jawab penyelidik dalam mengungkap kebenaran kasus ini.

Kebenaran akan terungkap

Bagi keluarga, ADP bukan sekadar seorang diplomat, melainkan juga anak, suami, kakak, adik, dan sahabat yang sangat dicintai orang-orang terdekat.

Semasa hidup, ADP dikenal sebagai sosok berdedikasi dan memiliki kepedulian tinggi terhadap sesama.

Keluarga pun menyadari kepergian ADP menjadi perhatian publik, sehingga mereka ingin terlibat dalam proses ini secara terbuka, saling menghargai, dan dengan cara yang baik.

“Kami juga mengajak teman-teman media dan masyarakat luas untuk ikut mengawal jalannya proses ini dengan empati, informasi yang berimbang, dan sikap yang objektif,” kata keluarga.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved