Selasa, 2 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Universitas Telogorejo

Swipe Right for Misinformation: Remaja dan Kesalahpahaman Reproduksi di Era Digital

Berikut essai Desi Soraya, S.Tr.Keb., M.Keb, dosen S-1 Kebidanan Universitas Telogorejo Semarang.

Tayang:
Penulis: Laili Shofiyah | Editor: M Zainal Arifin
Istimewa
ILUSTRASI MISINFORMATION: Berikut essai berjudul "Swipe Right for Misinformation: Remaja dan Kesalahpahaman Reproduksi di Era Digital". Essai tersebut disusun oleh Desi Soraya, S.Tr.Keb., M.Keb, dosen S-1 Kebidanan Universitas Telogorejo Semarang. (Dok) 

Oleh: Desi Soraya, S.Tr.Keb., M.Keb (Dosen S-1 Kebidanan Universitas Telogorejo Semarang)

DI era digital, generasi muda hidup berdampingan dengan arus informasi yang tak terbendung. Smartphone dan internet menjadi perpanjangan tangan mereka dalam mencari jawaban atas berbagai pertanyaan, termasuk tentang kesehatan reproduksi. Namun, kemudahan mengakses informasi tak selalu berbanding lurus dengan akurasi dan kebenaran informasi itu sendiri.

Fenomena swipe right, yang lekat dengan budaya media sosial dan aplikasi kencan, mencerminkan bagaimana remaja kerap mengakses informasi secara instan dan impulsif, tanpa menyaring kebenaran isi kontennya. Ini menjadi celah bagi tersebarnya kesalahpahaman mengenai isu reproduksi yang dapat berdampak serius pada kehidupan remaja.

Pendidikan kesehatan reproduksi yang seharusnya menjadi tameng utama justru sering kali diabaikan atau dianggap tabu. Hal ini diperparah oleh dominasi informasi tidak terverifikasi di platform digital yang dikemas dengan gaya menarik namun miskin akurasi. Akibatnya, banyak remaja terjebak dalam mitos, hoaks, dan miskonsepsi yang mengaburkan pengetahuan dasar tentang tubuh dan reproduksi mereka sendiri.

Esai ini akan membahas bagaimana fenomena disinformasi reproduksi menyebar di kalangan remaja, faktor-faktor penyebabnya, dampaknya terhadap kehidupan mereka, serta upaya yang dapat dilakukan untuk membendung arus kesalahpahaman ini.

1. Disinformasi di Era Swipe: Ketika Konten Menjadi Raja

Platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube telah mengubah cara remaja mengakses informasi. Algoritma media sosial didesain untuk menampilkan konten yang engaging dan viral, bukan yang paling akurat atau edukatif. Dalam konteks kesehatan reproduksi, ini menciptakan situasi berbahaya: informasi palsu tentang kontrasepsi, kehamilan, menstruasi, hingga infeksi menular seksual (IMS) menyebar cepat dalam bentuk video pendek, meme, atau testimoni pribadi yang belum tentu berbasis ilmu. Remaja yang sedang mencari jawaban atas rasa penasaran atau pengalaman pribadi kerap menerima informasi ini mentah-mentah, apalagi jika berasal dari tokoh yang dianggap influencer.

Sebagai contoh, video yang menyebut bahwa "minum soda setelah berhubungan intim bisa mencegah kehamilan" atau bahwa "menstruasi bisa dihentikan dengan makanan tertentu" telah ditonton jutaan kali. Ironisnya, banyak dari remaja menganggap informasi ini sebagai life hacks, bukan mitos. Hal ini menunjukkan kurangnya kemampuan digital literacy di kalangan pengguna muda, terutama dalam hal memilah informasi kesehatan yang kredibel.

Baca juga: Dua Mahasiswa Universitas Telogorejo Semarang Ikuti Summer Program di Hungkuang University Taiwan

2. Ketidakhadiran Pendidikan Seks yang Komprehensif

Salah satu akar dari permasalahan ini adalah tidak meratanya akses terhadap pendidikan seks yang komprehensif dan berbasis sains. Di banyak sekolah di Indonesia, topik ini masih dianggap sensitif atau bahkan dilarang, dengan alasan norma budaya dan agama. Padahal, WHO dan UNESCO telah menekankan pentingnya comprehensive sexuality education (CSE) yang tidak hanya membahas aspek biologis, tetapi juga hak, relasi, nilai, dan perlindungan diri.

Ketika institusi formal tidak mampu menyediakan ruang edukatif yang aman dan terbuka, remaja mencari alternatif di internet. Namun tanpa pendampingan atau kurikulum yang tepat, pencarian ini lebih sering berujung pada pemahaman yang salah atau tidak lengkap. Remaja tidak tahu bagaimana cara kerja alat kontrasepsi, mengira bahwa ejakulasi luar sepenuhnya aman, atau tidak memahami risiko IMS.

3. Dampak Nyata Kesalahpahaman: Dari Kehamilan Tak Diinginkan hingga Stigma Sosial

Kesalahpahaman mengenai reproduksi bukan sekadar isu pengetahuan, melainkan berimplikasi langsung pada kesehatan dan masa depan remaja. Data dari BKKBN menunjukkan bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan besar terkait kehamilan remaja, banyak di antaranya terjadi karena kurangnya informasi dan pemahaman. Selain itu, remaja yang mengidap IMS sering kali tidak menyadari gejalanya atau merasa malu untuk memeriksakan diri.

Tak hanya itu, kesalahpahaman juga memupuk stigma dan diskriminasi. Remaja yang terbuka membahas topik ini kerap dicap "nakal" atau "tidak bermoral", padahal mereka hanya ingin tahu dan memahami tubuhnya. Akibatnya, ruang diskusi menjadi tertutup dan semakin memperkuat dominasi informasi tidak kredibel.

Baca juga: Universitas Telogorejo Semarang Gelar 2nd Summer dan 1st Immersion Bersama Mahasiswa Internasional

4. Solusi: Literasi Digital dan Pendidikan Seks sebagai Pilar Pencegahan

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved