Selasa, 14 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Pengelolaan Limbah MBG: dari Kompos, Pakan Ternak, hingga Peluang Ekonomi Baru

menjalankan program pangan sehat yang lebih ramah lingkungan, termasuk pengelolaan sampah makanan secara sirkular

Penulis: Fransisca Andeska | Editor: Content Writer
dok. Polres Kudus
PENGOLAHAN MAKANAN BERSIH - Petugas menyiapkan dan mendistribusikan makanan bergizi gratis (MBG) untuk siswa sekolah sebagai bagian dari upaya pemerintah menjalankan program pangan sehat yang lebih ramah lingkungan, termasuk pengelolaan sampah makanan secara sirkular agar tidak menumpuk dan tetap bermanfaat. 

Ia menerangkan bahwa pendekatan sirkular tersebut memungkinkan limbah organik diolah menjadi biogas, pelet pakan ikan, hingga pupuk organik. Proses itu bahkan menghasilkan omzet hingga Rp10 juta per bulan, sekaligus membangun budaya pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab. 

Andika juga menekankan pentingnya pemetaan sisa makanan atau food mapping untuk menekan food waste, mengingat limbah makanan berdampak langsung pada kualitas air, tanah, dan udara. 

“Prinsip kami adalah tidak ada makanan yang sia-sia. Apa yang tidak bisa dimakan manusia, bisa menjadi energi bagi bumi,” ucap Andika. 

Penerapan ini terlihat di Pondok Pesantren Krapyak yang memegang prinsip “Sampah Hari Ini Selesai Hari Ini”. Setiap sisa makanan dari dapur dan kantin langsung dipilah dan diproses melalui fermentasi anaerob, menghasilkan pupuk organik dan gas metana yang dimanfaatkan kembali untuk memasak. 

Lebih dari Gizi, Buka Peluang Ekonomi dan Lingkungan

Peluang MBG dalam menggerakkan ekonomi lokal lewat rantai suplai bahan pangan dan pengolahan lokal juga turut melibatkan petani, UMKM komunitas daur ulang, dan sekolah atau masyarakat lokal dalam pengolahan sampah. Dengan begitu, setiap piring makan yang sampai di meja siswa dapat turut menggerakkan ekonomi setempat. 

Di sisi lain, masih ada pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan. Tanpa sistem pemilahan sampah yang tepat, fasilitas pengolahan, dan edukasi yang merata, volume sampah dari MBG bisa membengkak dan memberi beban baru bagi lingkungan. 

Karenanya, pengelolaan limbah yang tepat menjadi kunci utama agar setiap sisa makanan bisa kembali memberi manfaat dan ekonomi lokal ikut bergerak. 

Kolaborasi antara pemerintah, sekolah, komunitas, dan lembaga riset diperlukan untuk memastikan bahwa manfaat MBG benar-benar optimal, baik untuk anak-anak maupun bumi. 

Dengan tata kelola yang baik dan pendekatan berkelanjutan, MBG bisa menjadi gerakan nasional yang menyatukan gizi anak, ekonomi masyarakat lokal, dan keberlanjutan lingkungan dalam satu ekosistem yang saling menguatkan. 

Baca juga: Tak Hanya Berakhir di Tempat Sampah, Limbah MBG Disulap Jadi Pakan Ternak dan Pupuk

Halaman 2/2
Tags
MBG
SPPG
BGN
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved