Rabu, 8 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Sensasi Era Kolonial di Noeri's Cafe Kota Lama

SESEKALI, tengoklah sebuah cafe yang secara resmi baru dibuka pada Sabtu (1/6/2013) kemarin

Penulis: deni setiawan | Editor: agung yulianto
SESEKALI, tengoklah sebuah cafe yang secara resmi baru dibuka pada Sabtu (1/6/2013) kemarin. Bertempat di Jalan Nuri Nomor 6 Kawasan Kota Lama Semarang, Anda akan temukan rasa sensasi di era zaman kolonial Belanda. Ya, sesuai nama jalan, kafe seluas sekitar 180 meter persegi ini bernama Noeri's Cafe. 

Sangat mudah menemukan kafe itu didirikan, di jalan itu, di antara jejeran gedung gudang, hanya kafe itu yang kini paling terang benderang ketika malam hari. Lokasi berada di belakang Gereja Blenduk. Mengambil konsep zaman dahulu (zadul), mulai dari aksesoris hingga jenis menu makanannya sudah jarang ditemui di manapun, termasuk pasar tradisional atau ala zaman Belanda. 

Minuman yang disajikan pun biasa, seperti kopi dan teh. Tetapi, jangan samakan dengan kafe-kafe yang tersebar di Kota Semarang, sesuai konsepnya, di sana anda tidak akan menemukan musik-musik modern. Semua yang diperdengarkan merupakan musik zadul, bahkan alat musik pun tidak menggunakan tape atau VCD, melainkan gramaphone produksi awal abad IX. 

Ketika Anda akan masuk ke kafe itu, sensasi rasa kembali ke masa lampau akan terasa, mulai dari pintu, kursi-meja pengunjung, aksesoris yang dipajang baik lukisan, jam dinding, maupun miniatur kendaraan, hingga meja pelayanan kasir, semua serba jadul. Setidaknya, ada sekitar 300 asesoris yang terpajang di cafe berlantai dua itu. 

Beberapa di antaranya benda kuno yang dipajang yakni radio tabung berbodi kayu jati, mesin kasir, lukisan, bass pedot, lemari display roti, cangkir, piring, kursi sedan, kursi pipa, coffe table, meja makan bundar, jam dinding, kamera foto, cakram padat, hingga pita kaset. 

"Wah, serasa saya kembali ke masa lalu. Sungguh begitu pertama kali datang ke kafe ini," kata Eko Kartikawati (38), yang datang bersama ketiga rekannya itu. 

Karyawan perusahaan swasta Semarang itu pun merasa betah berlama-lama mendiskusikan berbagai hal bersama rekan-rekannya. Tentunya tak lupa pula sembari mencicipi hidangan jajanan beresep ala Belanda dan menyeruput secangkir kopi. 

Menurutnya, suasana kafe ini sangat cocok untuk relaksasi otak setelah seharian dihadapkan pada pekerjaan yang kerapkali membuat stres. Suasana yang tidak bising oleh hilir mudik kendaraan dan suara musik yang disajikan itu membuatnya nyaman untuk nongkrong di kafe bekas gudang kosong ini. 

"Minuman kesukaan saya ketika kecil pun ada di sini, grinti namanya. Pokoknya asyik bisa bernostalgia di kafe ini," jelas warga Jalan Pekunden Semarang itu. 

Manager Operasional Noeri's Cafe Wawan Nugroho mengatakan, semua yang disajikan memang serba zadul. Itu merupakan kesengajaan yang digagas saat mendirikan kafe tersebut. Setidaknya butuh waktu sekitar lima bulan untuk merestorasi bangunan yang semula acak-acakan menjadi nyaman seperti saat ini. 

Wawan menjelaskan, tentu tidak sendiri untuk mewujudkan ide gila tanpa menonjolkan sisi komersialnya, ada pihak-pihak lain yang digandeng, di antaranya Rusito Sardi (pengusaha Semarang) yang kini menjadi pemilik Noeri's Cafe dan Handoko (kolektor benda antik). "Kami mulai menggagas dan mengonsepnya pada Oktober 2012 lalu," ujarnya. 
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved