Komunitas
Komunitas Bumi Hijau, Penjaga Benteng Terakhir Pesisir Demak
Daratan di pesisir Demak terus digerogoti abrasi. Satu per satu kawasan perkampungan di wilayah tersebut tenggelam.
Penulis: iwan Arifianto | Editor: M Syofri Kurniawan
TRIBUNJATENG.COM,SEMARANG - Daratan di pesisir Demak terus digerogoti abrasi. Satu per satu kawasan perkampungan di wilayah tersebut tenggelam.
Fakta ini bisa dilihat dari tenggelamnya kampung Rejosari atau yang lebih dikenal sebagai Dusun Senik, Mondoliko, dan Tambaksari. Ketiga dusun itu berada di Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak.
Para penghuni tiga kampung tersebut terpaksa melakukan bedol desa. Namun, bagi warga dusun Bedono, mereka menolak tenggelam.
Baca juga: Cerita Perempuan di Kampung Tenggelam Pesisir Demak: Jaga Mangrove dan Identitas Perempuan Pesisir
Di tengah kejaran air rob, warga berupaya menjaga kampungnya dengan membentuk komunitas Bumi Hijau. Kelompok peduli lingkungan pesisir ini mayoritas beranggotakan nelayan yang berfokus melakukan konservasi hutan mangrove sebagai benteng terakhir kawasan pesisir.
Penggagas komunitas Bumi Hijau, Saiful Rozi (38) mengatakan, komunitas ini dibentuk pada Desember 2022 sebagai wadah warga yang peduli terhadap pesisir Bedono. Anggota komunitasnya memang belum banyak, hanya belasan warga.
“Anggota masih 15 orang, 14 nelayan, satu warga merupakan pekerja pabrik,” ujar Saiful kepada Tribun, Sabtu (31/1/2026).
Komunitas ini lahir berangkat dari kekhawatiran mereka terhadap kampungnya yang mulai tergerus rob. Padahal, Dusun Bedono pada era 1980an masih merupakan persawahan. Wajah kampung mereka sempat berubah menjadi kawasan tambak sekitar tahun 1992. Selepas itu, mulai tahun 2010, abrasi mulai mengintai.
Saiful menceritakan, jarak rumahnya dengan laut pada 1992 sekitar 2 kilometer. Pada tahun 2014, laut itu sudah berada persis di belakang rumahnya.
“Tetangga dusun juga sudah ada yang bedol desa. Dari tujuh dusun di Bedono, tiga dusun sudah hilang, meliputi Rejosari, Mondoliko, Tambaksari. Dusun yang masih tersisa Pandansari, Tonosari, Bedono dan Morosari,” terangnya.
Menurut Saiful, warga yang tinggal di ujung paling utara kampung persisnya di RT 4 RW 1 , Desa Bedono, sudah mulai angkat kaki dari tanah kelahirannya pada tahun 2014. Mereka sudah tidak kuat kedatangan “tamu” banjir rob hampir setiap hari. Sementara, kampungnya yang berada di RT 3 RW 1 kini masih menyisakan 19 Kepala Keluarga (KK) dari jumlah semula sebanyak 53 KK.
“Beruntung, kami masih ada hamparan hutan mangrove yang befungsi menahan laju abrasi, hutan tersebut yang saat ini mati-matian kami jaga,” paparnya.
Hutan mangrove sebagai napas panjang
Saiful bersama komunitasnya meyakini bahwa menjaga mangrove setidaknya memberikan napas panjang bagi eksistensi kampungnya.
Sebelum komunitas terbentuk, warga menanam mangrove masih secara sporadis dan tidak terkoordinir. Dulu, mereka juga harus beli bibit ketika ingin menanam.
Selepas ada komunitas, penanaman lebih terarah dan terpetakan dengan baik. Bahkan, mereka saat ini sudah melakukan pembibitan mangrove.
| Donor Darah Komunitas Tufoc Sumbangkan 100 Kantong Darah |
|
|---|
| Cerita Andika dan Fotografilm, dari Hobi Jadi Ruang Temu Pecinta Analog di Semarang |
|
|---|
| 4TC Battle League Satukan Battle Rapper Se-Pulau Jawa, Didukung Rapper Nasional dan Internasional |
|
|---|
| Mengenal Komunitas Semarang 90's, Wadah bagi Pecinta Kehidupan Tahun 90-an |
|
|---|
| Mengenal Face Buddies Community, Wadah Masyarkat Sharing Tentang Kesehatan dan Kecantikan Kulit |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260131_Komunitas-Bumi-Hijau.jpg)