Video: Tukang Parkir Pesawat Bandara Ahmad Yani Semarang
Selama ini, tidak hanya sepeda motor dan mobil saja yang membutuhkan jasa tukang parkir, pesawat terbang dan helikopter pun butuh jasa parkir
Penulis: dini | Editor: rustam aji
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Dini Suciatiningrum
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Selama ini, tidak hanya sepeda motor dan mobil saja yang membutuhkan jasa tukang parkir, pesawat terbang dan helikopter pun membutuhkan jasa petugas khusus layaknya tukang parkir untuk dapat parkir di apron (tempat parkir pesawat) dengan tepat.
Agus Sutrisno (43) merupakan satu dari puluhan Ground Marshall (GM) atau yang lebih dikenal marshaller di Bandara Ahmad Yani Semarang. Seorang GM bertanggung jawab penuh menjamin pesawat dan penumpang selamat saat pesawat parkir.
Jika salah dalam memarkirkan pesawat, bisa berakibat fatal. Oleh karena itu, yang ditugaskan untuk menjadi juru parkirnya juga harus punya keahlian khusus. Bahkan, harus melalui jenjang pendidikan yang khusus.
Dia mengatakan, pilot akan mengalami kesulitan mengarahkan pesawatnya tanpa bantuan marseller, karena pesawat memiliki bentuk fisik berbeda dengan kendaraan bermotor. "Sangat penting. Sebab kendali di landasan harus menggunakan marseller, jika tidak, pilot bisa ragu mau parkirnya dimana, terlebih lagi kondisi apron bandara Ahmad Yani yang kecil, pilot harus dipandu agar dapat parkir dengan tepat sehingga tidak terjadi kecelakaan di apron"terang laki-laki yang saat itu memakai rompi berwarna orange ini.
Agus sapaanya menceritakan pengalaman pertama menjadi seorang marshaller
“Saat itu saya sempat grogi memandu pesawat karena menjadi pusat perhatian, terlebih lagi kapten dan co pilot mengadalkan marsheller salah sedikit saja bisa fatal. Bahkan saya juga pernah dimarahi kapten karena posisi roda depan pesawat tidak lurus pada garis kuning belok lima sentimeter saja sih, tetapi pengalaman tersebut membuat saya lebih fokus lagi memandu pilot agar dapat memarkirkan pesawat dengan tepat” terangnya.
Percakapan sempat terputus, tepat pukul 12.55, pria kelahiran 28 Agustus 1971 mulai beraksi setelah mendapatkan informasi pesawat Garuda Indonesia mendarat di Bandara Ahmad Yani, dan parkir di parking stand satu.
Dia memegang dua bed bulat seperti bed ping pong berwarna orange di kedua tangannya, tak lupa dia memakai penutup telinga.
“Bila malam hari, kami menggunakan led glow stick (tongkat nyala) agar terlihat pilot,” ucapnya sambil berjalan ke arah parking stand yang terletak diujung timur bandara.
Pesawat garuda pun sudah terlihat di runway (landasan pacu). Agus berkeliling ke area arking stand yang berbentuk letter L, pandangan matanya tertuju ke aspal tersebut, Dia membungkuk dan mengambil tutup botol minuman berwarna biru dan kantong plastik yang tergeletak di area tersebut.
“Selain memberikan sinyal atau aba-aba visual kepada awak kemudi pesawat. Marshaller juga harus mensterilkan lokasi parking stand, termasuk jika ada kerikil atau besi di sekitar landasan, barang asing tesebut dapat berakibat fatal, sebab mesin pesawat mempunyai daya sedot yang kuat,” jelasnya.
Begitu pesawat memasuki taxi in (jalan masuk ke apron), Agus pasang badan di titik yang sudah ditentukan. Dia mulai mengangkat tangan kanan lurus ke atas, yang menandakan ada orang di landasan, setelah itu dia mengarahkan tangan sejajar ke depan yang artinya pesawat harus parkir di sana.
Lalu, kedua tangannya lurus dan secara berulang-ulang ditarik sampai kepala secara pelan, pesawat pun bergerak perlahan menuju parking stand satu, begitu roda depan pesawat sudah lurus di garis kuning, Agus menyilangkan tangannya ke atas pertanda pesawat sudah lurus terparkir.
Tidak sampai disitu saja, untuk mematikan mesin pesawat pilot juga harus sesuai instruksi marshaller. Agus mengepalkan tangan ke atas sebagai tanda waktunya pilot mengaktifkan rem pesawat (break on) dan mematikan mesin pesawat. Tak lama petugas groundhandling menngganjal roda belakang kanan dan kiri pesawat dengan wheal chock (pengganjal roda pesawat).