Smart Women
Lebih Dekat Dokter Spesialis THT RS Telogorejo Anna Mailasari Kusuma Dewi
Lebih Dekat Dokter Spesialis THT RS Telogorejo Anna Mailasari Kusuma Dewi
Penulis: galih priatmojo | Editor: iswidodo
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG- Pernah mendengar nama Hunter Adams? Bagi yang awam, barangkali lebih mudah mengingat nama Patch Adams. Dia adalah dokter eksentrik yang pernah menjadi perhatian dunia lantaran menerapkan pendekatan psikologis dalam menyembuhkan pasien.
Kisah humanis sang dokter yang membangun rumah sakit gratis di kawasan Virginia Barat, Amerika, dan diangkat ke layar lebar tahun 1998 ini begitu menginspirasi. Bekerja sepenuh hati menjadi dasar melayani kesehatan masyarakat.
Ini pula yang hinggap di benak Anna Mailasari Kusuma Dewi saat memutuskan terjun ke dunia kedokteran. Dokter spesialis Telinga Hidung dan Tenggorokan (THT) ini memang dibesarkan di lingkungan keluarga dokter. Minatnya menjadi paramedis tumbuh sejak dia duduk di bangku SMP.
"Saya lebih suka pelajaran biologi ketimbang matematika. Dari situ, orangtua menyarankan menjadi dokter hingga kemudian, saat memilih jurusan kuliah, saya mantap ambil jurusan Kedokteran di Universitas Diponegoro (Undip Semarang)," terangnya saat ditemui Tribun Jateng di tempat praktik di SMC RS Telogorejo Semarang, beberapa waktu lalu.
Lulus sebagai dokter umum pada 2004, Anna melanjutkan studi spesialis di bidang THT. Meski orang awam memandang bidang telinga, hidung dan tenggorokan hal sederhana tetapi organ tersebut penting dan menarik didalami. "Saya lulus spesialis tahun 2011. Kenapa pilih THT? Bagi saya, tiga organ ini punya peran vital bagi manusia. Apalagi, di dalamnya ada alur kompleks yang asyik dipelajari," terang perempuan yang juga menjabat dosen spesialis THT di Fakultas Kedokteran Undip Semarang ini.
Dokter kelahiran Muara Bungo, 23 Mei 1980, ini senang bisa membantu masyarakat lewat profesi yang dijalani. Bahkan, menyelamatkan pasien merupakan tahapan paling prestise dalam karir seorang dokter. "Dulu, suatu malam, saya mendapat tugas jaga di IGD dan datang seorang pasien yang kondisinya sudah gawat. Di tenggorokannya terdapat tumor yang membuat dia kesulitan bernafas.
Kondisinya terus memburuk dan kami tidak bisa segera melakukan tindakan operasi karena penuh. Akhirnya, saya bersama tim melakukan tindakan darurat di ruang IGD. Kami membedah tenggorokannya untuk membuka ruang udara. Saat itu, kami kejar-kejaran dengan waktu. Pasien akhirnya terselamatkan. Semenit saja tidak ada tindakan, mungkin hasilnya lain," ungkapnya.
Sebagai dokter, Anna tak cuma sekali dua kali menghadapi keadaan gawat. Menurutnya, keadaan darurat merupakan sahabat sehari-hari bagi dokter.
Satu di antara yang diingat, ketika beberapa bulan lalu, dia mendapati seorang pasien rujukan asal Jepara dengan sebulir peluru menancap di antara tulang rahang dan telinga. Anna membutuhkan waktu hingga lebih dari enam jam untuk mengangkat peluru yang bersarang di sendi tulang rahang tersebut.
"Itu operasi yang memiliki kerumitan cukup tinggi dan menegangkan. Saya bekerja tidak sendiri. Saat itu, ada beberapa dokter spesialis lain, semisal anestesi dan radiologi, yang juga membantu. Kami harus memakai pakaian khusus agar tak terpapar radiasi. Tantangannya, bagaiamana peluru itu bisa dikeluarkan tanpa membuat luka besar di diri pasien. Jadi, kami gunakan seperti alat rontgen untuk mendeteksi keberadaan peluru, kemudian mengangkat pelan-pelan melalui pipi bagian dalam. Butuh lebih dari enam jam tindakan tersebut," urainya.
Menjadi profesional yang bertugas membantu masyarakat, Anna tak pernah memilih siapa atau dari latarbelakang apa pasien yang ditangani. Baginya, semua pasien sama, butuh kesehatan. Yang membedakan hanyalah prioritas tindakan bagi yang dalam kondisi darurat. Selebihnya, baik si kaya ataupun si miskin, punya hak sama untuk mendapatkan kesehatan. Oleh itu, dia selalu berupaya maksimal membantu pasien memeroleh lagi kesehatan.
"Seperti sekarang, antara peserta BPJS ataupun non-BPJS, bagi saya mereka punya hak sama dan prinsip harus dilayani secara maksimal. Hanya saja, memang ada prioritas, terutama bagi yang kondisinya darurat dan sangat membutuhkan pertolongan. Tetapi, saya berusaha tidak membedakan siapapun. Apalagi, kami terikat sumpah sebagai dokter dan bagi saya pribadi, ini atas nama kemanusiaan, semua dikerjakan sepenuh hati," ungkap dia.
Ia menambahkan, menjadi bermanfaat merupakan sesuatu yang tak ternilai dari benda atau barang apapun. Dan menjadi dokter adalah jalan memberi manfaat kepada banyak orang. (tribunjateng/galih priatmojo)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/lebih-dekat-dokter-spesialis-tht-rs-telogorejo-anna-mailasari-kusuma-dewi_20160515_104235.jpg)