Kamis, 9 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

LIPUTAN KHUSUS

Driver 'Tembak-tembakan' untuk Raih Bonus, Begini Tanggapan Grab dan Gojek

Driver 'Tembak-tembakan' untuk Raih Bonus, Begini Tanggapan Grab dan Gojek. Tujuannya tak lain agar jumlah minimal order dipenuhi

Editor: iswidodo
tribunjateng/dok
Bonus Grab jauh lebih besar dibandingkan dengan biaya perjalanan penumpang. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Sudah hampir dua bulan terakhir, Budi, bukan nama sebenarnya, menjadi mitra kerja penyedia layanan taksi online, Grab. Ia memutuskan menjadi sopir karena tergiur pundi-pundi uang yang bisa dihasilkan.

Tapi jangan salah, pundi-pundi uang itu bukanlah dari upah yang dibayar oleh penumpang, melainkan bonus yang diterima dari capaian jumlah penumpang per periode waktu tertentu.

Menurut dia, uang bonus jauh lebih besar dibandingkan dengan biaya perjalanan penumpang.

Di Grab, ada empat penggolongan bonus. Pukul 06.00-08.00, jika mitra bisa melayani dua penumpang akan mendapatkan bonus Rp 80 ribu, tiga penumpang mendapatkan Rp 120 ribu, dan empat penumpang mendapatkan Rp 160 ribu.

Baca: Dapat Order Antar Penumpang ke Gunung, Jasad Driver Online Ditemukan di Antara Semak Pepohonan

Selanjutnya pada pukul 11.00-14.00, jika mitra bisa melayani tiga penumpang akan mendapatkan bonus Rp 120 ribu, empat penumpang mendapatkan Rp 150 ribu, dan lima penumpang mendapatkan Rp 180 ribu.

Kemudian pukul 17.00-20.00, jika mitra bisa melayani empat penumpang akan mendapatkan bonus Rp 160 ribu, lima penumpang mendapatkan Rp 180 ribu, dan enam penumpang mendapatkan Rp 210 ribu.

Terakhir bonus Rp 100 ribu jika dalam 24 jam mitra bisa melayani 14 rute. Bonus akan dikalkulasikan setiap hari sebagai pendapatan mitra setelah dipotong pajak 20 persen.

Baca: NGERI! Pasien RSUD Kardinah Kota Tegal Ini Mau Melompat dari Lantai II, Diduga Ini Penyebabnya

Untuk bisa mencapai target, banyak driver yang berbuat curang dengan memanfaatkan kelemahan sistem. Itu sebabnya, di kalangan driver dikenal istilah 'nembak' atau mencari penumpang fiktif.

Tujuannya tak lain agar jumlah minimal order per periode waktu tertentu bisa dipenuhi, sehingga mendapatkan bonus.

Budi menjelaskan, nembak adalah si driver bekerjasama dengan pihak kedua, yang memiliki akun layanan taksi online, bisa juga sesama sopir. Selanjutnya, pihak kedua itu membuka aplikasi dan melakukan order di dekat driver.

Sehingga dengan otomotis si driver bersangkutan yang akan mendapatkan order karena kedekatan jarak pemesanan. Kemudian, sopir tinggal menjalankan mobilnya ke lokasi tujuan tanpa pihak kedua perlu menumpang atau pun membayar.

Baca: Pelaku Curanmor Ini Nikahi Pacarnya di Kantor Polisi Brebes, Inilah Penyebabnya

Sebenarnya upaya ini adalah tindak kecurangan atau menyalahi aturan. Tetapi, cukup banyak mitra yang melakukannya karena tergiur bonus. Jika cara itu diketahui penyedia layanan, akun bersangkutan bisa dibekukan atau istilahnya di-suspend.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved