Kamis, 9 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tanoto Foundation

Mewujudkan Asesmen Pendidikan yang Holistik dan Berkeadilan

Berikut essai Fitria Hima Mahligai, Project Management Unit, Tanoto Foundation berjudul "Mewujudkan Asesmen Pendidikan yang Holistik dan Berkeadilan".

Editor: M Zainal Arifin
Istimewa
Fitria Hima Mahligai, Project Management Unit Tanoto Foundation. (Dok) 

Oleh: Fitria Hima Mahligai, Project Management Unit Tanoto Foundation 
 
BAYANGKAN dua murid: yang satu selalu meraih nilai 90, tapi kaku dalam kerja kelompok, mudah menyerah saat diberi tantangan baru. Yang lain tak menonjol di rapor, tapi makin hari makin percaya diri, belajar mengatasi rasa takutnya berbicara di depan kelas, dan kini mulai aktif bertanya. Dalam sistem pendidikan kita hari ini, hanya murid pertama yang dianggap "berhasil". Tapi benarkah demikian?
 
Kemampuan akademik tetaplah penting. Namun, pendidikan yang baik semestinya tidak hanya mengukur pencapaian siswa dalam bentuk angka, melainkan juga memperhatikan perkembangan karakter, sosial, dan emosional mereka secara menyeluruh. Dalam dunia yang kian saling terhubung dan menuntut kolaborasi serta kecakapan berpikir kritis, asesmen yang holistik bukan lagi pilihan, tetapi keharusan.
 
The Power of Two

Salah satu pendekatan yang patut dipertimbangkan adalah The Power of Two—sebuah konsep yang dikembangkan oleh Battelle for Kids di Amerika Serikat. Pendekatan ini menggabungkan dua jenis asesmen: achievement-based assessment yang mengukur capaian siswa terhadap standar akademik tertentu, dan value-added assessment yang menilai pertumbuhan siswa dari waktu ke waktu, termasuk mempertimbangkan latar belakang sosial-ekonomi dan berbagai faktor lain di luar ruang kelas.

Fitria Hima Mahligai, Project Management Unit Tanoto Foundation. (Dok)
Fitria Hima Mahligai, Project Management Unit Tanoto Foundation. (Dok) (Istimewa)

Di Indonesia, asesmen masih cenderung terpaku pada capaian akhir. Meski Ujian Nasional telah dihapus, pola pikir yang menempatkan angka sebagai tolok ukur utama masih kuat. Banyak sekolah bahkan secara eksplisit mengelompokkan siswa berdasarkan nilai akademik, praktik yang tanpa disadari menegasikan potensi dan proses perkembangan siswa secara lebih utuh.
 
Padahal, capaian akademik yang tinggi tanpa kemajuan karakter dan keterampilan sosial tidak cukup untuk menjawab tantangan masa depan. Sementara itu, mengabaikan capaian sama sekali juga akan menghilangkan standar yang dibutuhkan dalam dunia pendidikan. Di sinilah pentingnya pendekatan ganda: mengukur hasil sekaligus menilai proses dan perkembangan siswa secara adil dan berkelanjutan.
 
Peran Guru, Orang Tua, dan Masyarakat

Finlandia, yang selama ini dikenal memiliki salah satu sistem pendidikan terbaik di dunia, sudah lebih dahulu menerapkan pendekatan holistik dalam asesmen pendidikan. Penilaian tidak hanya dilakukan melalui ujian tertulis, tetapi juga melalui proyek-proyek pembelajaran dan observasi formatif selama proses belajar berlangsung. Siswa dinilai dari berbagai aspek, termasuk motivasi belajar, kemampuan kolaborasi, serta ketangguhan menghadapi tantangan.
 
Langkah serupa bisa diterapkan di Indonesia, tentu dengan penyesuaian konteks sosial dan infrastruktur yang kita miliki. Kuncinya adalah membangun sistem yang menghargai proses belajar, bukan sekadar hasil akhir.
 
Namun, asesmen berbasis nilai tambah hanya bisa berhasil jika didukung oleh ekosistem pendidikan yang memadai. Guru berada di garda terdepan. Maka, pelatihan guru untuk memahami, membaca, dan menggunakan data perkembangan siswa menjadi krusial. Tidak hanya untuk merancang pembelajaran yang lebih tepat sasaran, tetapi juga untuk memberikan umpan balik yang bermakna bagi murid.
 
Guru juga membutuhkan pendampingan yang berkelanjutan—dari kepala sekolah, pengawas, hingga mitra profesional pendidikan—agar praktik asesmen berbasis data tidak berhenti di pelatihan, tetapi benar-benar terimplementasi di ruang kelas.
 
Tak hanya guru, orang tua pun perlu diberikan pemahaman bahwa keberhasilan anak bukan sekadar bebas dari nilai merah di rapor. Progres belajar anak dalam berpikir kritis, memahami konsep, serta kemampuan bersosialisasi juga merupakan indikator penting.

Pihak sekolah dan guru harus intens berkomunikasi dan melakukan sosialisasi tentang konsep pembelajaran dan penilaian secara menyeluruh. Bagi orang tua yang belum paham, pemberian pemahaman harus dilakukan secara ekstra karena konsep ini juga tak menafikan tumbuh kembang bagi pengajar dan orang tua.

Tidak ketinggalan, masyarakat juga perlu memberi dukungan pada sekolah untuk mewujudkan lingkungan belajar yang bertumbuh (growth culture). Masyarakat berperan dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang kondusif, terutama dalam mewujudkan sistem dengan nilai tambah. Dengan demikian, siswa tidak hanya didorong untuk meraih nilai akademik yang bagus, tetapi juga didorong untuk berkarakter baik.
 
Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah dan guru, tetapi juga membutuhkan dukungan aktif semua pihak, mulai dari masyarakat, termasuk orang tua, komunitas, dunia usaha, dan pemerintah.
 
Perlunya Sistem dan Kebijakan yang Mendukung
 
Untuk menopang sistem ini, dibutuhkan dukungan teknologi dan data yang andal. Data longitudinal—yakni data perkembangan siswa dari waktu ke waktu—harus dikumpulkan, dianalisis, dan dimanfaatkan sebagai dasar pengambilan keputusan. Bukan sekadar arsip administratif, data harus menjadi alat refleksi dan perbaikan bagi guru, sekolah, dan pembuat kebijakan.

Namun, sistem sebaik apa pun akan pincang tanpa regulasi yang jelas. Pemerintah perlu menetapkan kebijakan yang mendukung asesmen holistik dengan prinsip transparansi dan keadilan. Asesmen tidak boleh dijadikan alat penghukuman, terutama bagi guru, melainkan sebagai instrumen untuk tumbuh bersama.

Ketika data menunjukkan hasil yang belum memuaskan, pelatihan dan pendampingan harus diberikan agar guru mampu menyusun strategi pembelajaran yang lebih baik. Jangan sampai pendekatan nilai tambah ini digunakan untuk menilai keberhasilan atau kegagalan guru secara sepihak. Karena itu, kebijakan ini harus dibuat secara jelas agar mampu melindungi dan memberi jaminan pada guru dari evaluasi yang tidak adil.  

Dengan demikian, data benar-benar menjadi pijakan untuk meningkatkan kualitas pengajaran, penyempurnaan kurikulum, dan pengambilan kebijakan pendidikan yang berdampak.

Menyambut TKA dengan Perspektif Baru

Pemerintah saat ini tengah menyiapkan Tes Kemampuan Akademik (TKA) sebagai bentuk evaluasi baru di berbagai jenjang pendidikan. TKA akan diterapkan untuk kelas 12 SMA/SMK pada November 2025, sedangkan SD dan SMP pada 2026.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah menegaskan TKA akan lebih fleksibel, adaptif, dan relevan di kehidupan, serta tidak menimbulkan trauma seperti Ujian Nasional di masa lalu. Namun, skeptisisme tetap ada—apakah ini sekadar penggantian nama dari sistem lama?

Agar TKA benar-benar menjadi angin segar dalam dunia pendidikan Indonesia, ia harus diperkuat dengan pendekatan berbasis nilai tambah. Tes ini tidak hanya harus mengukur kemampuan kognitif sesaat, tetapi juga harus dilengkapi dengan pemahaman mendalam tentang bagaimana siswa berkembang secara emosional, sosial, dan karakter dalam jangka panjang.

Kita tidak sedang menggagas hal baru. Dunia telah bergerak ke arah asesmen yang lebih manusiawi dan adil. Yang kita butuhkan adalah keberanian dan komitmen untuk membangun sistem yang melihat siswa bukan hanya sebagai angka di atas kertas, melainkan sebagai manusia yang terus bertumbuh. Pendidikan Indonesia layak mendapatkan itu. Dan para siswa kita—anak-anak bangsa—pantas untuk dinilai secara utuh.

Mungkin anak Anda tidak rangking satu. Tapi hari ini, ia berani angkat tangan, berdiri, dan menyampaikan pendapatnya di kelas. Bukankah itu juga keberhasilan? (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved