Rabu, 8 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Banyumas

Waspada! Kerupuk Berpewarna Tekstil dan Teri Berformalin Masih Ditemukan di Banyumas

Balai Pengawas Obat dan Makanan (POM) Banyumas masih menemukan kerupuk mengandung pewarna tekstil

Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: muh radlis
TRIBUN JATENG/Permata Putra Sejati
KEAMANAN PANGAN - Kepala Balai POM Banyumas, Gidion, dalam Forum Advokasi Program Keterpaduan Keamanan Pangan yang digelar di Pendopo Si Panji, Purwokerto, Rabu (8/4/2026). BPOM akan memberikan pendampingan serta pelatihan penggunaan test kit sederhana untuk mendeteksi kandungan berbahaya seperti formalin dan boraks. 

TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO - Balai Pengawas Obat dan Makanan (POM) Banyumas masih menemukan kerupuk mengandung pewarna tekstil jenis Rodamin serta ikan teri berformalin yang masih dijual bebas di Pasar Manis, Purwokerto.

Temuan tersebut diungkapkan Kepala Balai POM Banyumas, Gidion, dalam Forum Advokasi Program Keterpaduan Keamanan Pangan yang digelar di Pendopo Si Panji, Purwokerto, Rabu (8/4/2026).

Menurutnya, temuan itu didapat saat BPOM bersama Pemerintah Kabupaten Banyumas melakukan pengawasan langsung di pasar.

"Masih ada dijual di pasar, seperti kerupuk dengan pewarna tekstil Rodamin, kemudian juga teri yang mengandung formalin.

Itu kami temukan saat pengujian di Pasar Manis," jelasnya kepada Tribunbanyumas.com. 

Meski demikian, untuk kasus keracunan pangan di sekolah-sekolah di Banyumas, sejauh ini belum ditemukan kejadian yang signifikan.

Namun, Gidion mengingatkan potensi keracunan tetap ada, terutama karena banyak siswa yang jajan di luar lingkungan sekolah.

Baca juga: BPOM dan Pemkab Banyumas Dorong Gerakan Keamanan Pangan dari Desa hingga Sekolah

"Biasanya karena kantin sehat belum tersedia, anak-anak jajan di luar.

Makanannya kadang tidak bersih, sehingga mudah menyebabkan sakit perut atau diare," ujarnya.

Secara nasional, lanjutnya, kasus keracunan pangan di lingkungan sekolah masih cukup sering terjadi, terutama pada anak usia sekolah dasar yang lebih rentan.

Sebagai langkah pencegahan, BPOM Banyumas mendorong agar pasar tradisional memiliki kemampuan melakukan pengujian mandiri terhadap bahan pangan yang masuk.

BPOM, kata Gidion, akan memberikan pendampingan serta pelatihan penggunaan test kit sederhana untuk mendeteksi kandungan berbahaya seperti formalin dan boraks.

"Harapannya pasar bisa memfilter sendiri.

Jadi barang yang mengandung bahan berbahaya tidak bisa masuk," katanya.

Ia mencontohkan praktik di Yogyakarta, pengelola pasar sudah melakukan uji awal terhadap barang masuk, bahkan menggunakan alat sederhana seperti lampu UV untuk mendeteksi pewarna tekstil.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved