Selasa, 14 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Ketika Emas Jadi Solusi di Tengah Lonjakan Harga Properti

Kisah nasabah Pegadaian Semarang bisa membeli rumah hasil dari menyisihkan gajinya untuk membeli logam mulia.

Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: raka f pujangga
Tribun Jateng/Idayatul Rohmah
ILUSTRASI PERUMAHAN PASADENA - Suasana gapura kawasan perumahan Pasadena, Kalipancur, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, Jumat (26/9/2025). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Semburat cahaya dari timur perlahan merayap melewati barisan pucuk merah yang tumbuh di depan rumah. 

Tiga batang pohon itu menyaring terang pagi, membuat sinarnya jatuh lembut ke teras.

Dari balik pintu depan, Anggun (41) berjalan membawa secangkir jeruk nipis hangat.

Baca juga: Bek Tengah PSIS Marko Ivanovic Absen di Tiga Laga Awal Pegadaian Championship 2025/2026

Ia duduk di kursi teras, menikmati setiap teguk sembari menatap halaman yang disinari hangat pagi.

Sementara sejurus pandangannya melayang ke kejauhan, tertuju pada sela-sela pagar yang tampak deretan rumah megah.

Ia menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan.

Raut senyum lega terpancar ketika matanya menyusuri halaman rumahnya sendiri, di perumahan Pasadena, Kalipancur, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, Senin (22/9/2025). 

Bagi Anggun, rumah dengan luas lahan 180 m2 itu bukan sekadar tempat tinggal, melainkan setiap sudutnya adalah saksi kerja keras mewujudkan rumah impian.

“Wah, sekarang saya sudah lega sekali sekaligus senang. Saya bisa beli rumah dengan harga Rp400 jutaan saat itu. Kalau sekarang, harganya sudah sampai miliaran,” katanya lega saat ditemui Tribun Jateng.

Kisah Anggun mewujudkan rumah di kawasan premium Kota Semarang bermula saat dirinya mulai rutin menabung emas tahun 2010 silam.

Tepat di tahun ayahnya meninggal dunia, ia beserta ibu dan dua adiknya terpaksa mengontrak sebab harus menjual tempat tinggal demi menyambung hidup. 

Anggun yang mulai menjadi karyawan swasta, disarankan ibunya menyisihkan gaji untuk membeli logam mulia.

“Awal-awal dibantu mama. Mamaku datang ke Pegadaian (Semarang Cabang) Depok waktu itu. Harga emas pada saat itu satu gramnya masih sekitar Rp250.000,” kenangnya.

Ia menyadari sisa gaji tiap bulan tak cukup untuk membeli emas dengan gramasi yang besar.

Ia memilih membeli dengan cara mencicil di Pegadaian. 

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved