Rabu, 15 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tribun Jateng Hari Ini

Pertamina Pastikan Pertamax Green Aman untuk Kendaraan

Pencampuran etanol pada BBM bertujuan untuk menekan emisi gas buang, supaya BBM yang dihasilkan itu lebih ramah lingkungan.

Penulis: Eka Yulianti Fajlin | Editor: Vito
TRIBUN JATENG / EKA YULIANTI FAJLIN
ISI BBM - Masyarakat mengisi Pertamax Green di SPBU Coco Sultan Agung Semarang.    

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Isu miring soal etanol yang terkandung dalam bahan bakar minyak (BBM) belakangan ramai beredar di media sosial.

Sebagian pihak menuding bahan bakar campuran etanol bisa merusak mesin kendaraan dan nilai oktannya menjadi tidak sesuai spesifikasi. Hal itu seperti terkandung dalam Pertamax Green.

Menanggapi hal itu, Pertamina Patra Niaga Regional Jateng dan DIY menegaskan, Pertamax Green aman digunakan dan telah melalui pengujian resmi.

Area Manager Communication, Relation, dan CSR Pertamina Patra Niaga Jateng dan DIY, Taufiq Kurniawan mengimbau, masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh isu etanol yang berhemus di media sosial.

“Tolong masyarakat tidak mudah terpengaruh isu etanol yang dihembuskan pihak tertentu," ujarnya, Selasa (7/10). 

Menurut dia, pencampuran etanol pada BBM telah digunakan di beberapa negara seperti Brazil, US, dan Uni Eropa. Tujuannya, untuk menekan emisi gas buang, supaya BBM yang dihasilkan itu lebih ramah lingkungan.

Taufiq menuturkan, etanol yang digunakan dalam Pertamax Green berasal dari fermentasi bahan nabati seperti tebu, jagung, dan singkong. Selain mengurangi karbon, etanol tidak merusak logam atau karet dan pembakarannya lebih sempurna. 

Ia pun meluruskan isu soal nilai oktan yang sering muncul dalam penggunaan alat uji oktan portable yang beredar di masyarakat. 

Di Jateng, dia menambahkan, pengujian dilakukan di CEPU. Sampel diuji menggunakan CFR Engine dan menghasilkan nilai oktan yang memang sesuai dengan spesifikasinya.

"Jadi, itu mengacu pada standar internasional ASTM 2699 dan mengukur ketahanan bahan bakar terhadap knocking," bebernya. 

Taufiq menyebut, alat portable pengukur oktan BBM yang banyak beredar, seperti oktis dinilai tidak memiliki kalibrasi resmi, dan bisa menimbulkan hasil yang menyesatkan. 

"Alat itu bisa dicelup ke cairan apapun dan tetap mengeluarkan angka, jadi masyarakat jangan mudah percaya,” tuksnya. (Eka Yulianti Fajlin)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved