Tribun Jateng Hari Ini
Melambung Lagi, Harga Emas Antam Naik Rp 160 Ribu dalam 5 Hari
Harga emas batang Antam menembus Rp 2,485 juta/gram pada Jumat (17/10), naik Rp 78.000 dari hari sebelumnya, sekaligus mencatatkan rekor baru.
Penulis: Eka Yulianti Fajlin | Editor: Vito
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Harga emas batangan logam mulia PT Aneka Tambang Tbk (Antam) terus mencatatkan rekor dalam sepekan terakhir.
Harga emas batang Antam di Semarang menembus Rp 2,485 juta/gram pada Jumat (17/10), naik Rp 78.000 dari harga pada hari sebelumnya, sekaligus mencatatkan rekor kenaikan harga tertinggi.
Sepanjang pekan ini, harga emas Antam sudah mengalami kenaikan mencapai Rp 160.000. Pada Senin, harga komoditas itu tercatat mengalami kenaikan sebesar Rp 6.000 dari hari sebelumnya. Kemudian pada Selasa (14/10), harganya kembali naik Rp 29.000.
Harga logam mulia itu pada Rabu kembali mencatat kenaikan sebesar Rp 23.000, dan pada Kamis harga emas batangan perusahaan pelat merah itu mengalami kenaikan lagi Rp 24.000.
Ketua Program Studi Ekonomi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Jaka Aminata mengatakan, kenaikan harga emas saat ini bukan hanya fenomena lokal atau domestik, tetapi berkaitan dengan dinamika global.
Menurut dia, kenaikan harga emas ini dipicu ketidakpastian politik dan konflik global. Emas disebut sebagai safe haven atau pelindung nilai terhadap gejolak ekonomi dunia yang tidak pasti. Hal itu membuat permintaan jauh lebih dominan dari sisi pasokan, sehingga mendorong harga emas terus naik.
"Karena bagaimanapun, suka tidak suka, tetap dolar AS itu berperan penting. Sehingga, kalau rupiahnya melemah, ya emas dalam rupiah kita pandang seolah-olah cenderung menjadi lebih mahal," katanya, Jumat (17/10).
Jaka menilai, lonjakan harga emas tidak bisa dilepaskan dari dinamika kebijakan suku bunga. Emas memang tidak berkaitan dengan tingkat suku bunga. Namun, jika tingkat suku bunga turun, biaya peluang pemegang emas juga menurun. Hal itu bisa membuat harga emas naik.
Sementara, pelemahan dolar AS juga menjadi faktor pendorong. Selanjutnya, pembelian emas oleh sejumlah bank sentral turut mendorong kenaikan harga emas global.
"Kita lihat banyak bank sentral di beberapa negara menambah cadangan emas sebagai diversifikasi dari aset dolar terhadap obligasi AS," ujarnya.
Meski harga emas berpotensi terus naik, Jaka menuturkan, pasar tetap akan melakukan koreksi ketika harganya menyentuh level psikologis tertentu. Harga emas yang kini menembus Rp 2,4 juta pergram dapat menyebabkan penurunan permintaan.
"Harga di atas Rp 2 juta itu bisa dianggap tidak normal. Kalau pun emas tetap dipandang sebagai safe haven, kenaikan tajam berisiko menekan konsumsi masyarakat," bebernya.
Adapun, harga emas dunia mencapai level tertinggi baru setelah menembus ke atas 4.300 dolar AS per ons troi pada Jumat (17/10), dan bersiap untuk pekan terbaiknya dalam 5 tahun.
Sentimen yang mendukung emas datang karena tanda-tanda pelemahan di bank-bank regional AS, ketegangan perdagangan global, dan ekspektasi penurunan suku bunga lebih lanjut mendorong investor berbondong-bondong ke aset safe haven ini.
Pada Jumat (17/10), pukul 10.30 WIB, harga emas spot menguat 0,3 persen menjadi 4.336,18 dolar AS per ons troi, setelah sempat mencapai level tertinggi baru di level 4.378,69 dolar AS per ons troi di awal sesi perdagangan.
Sejalan, harga emas berjangka untuk kontrak pengiriman Desember 2025 melonjak 1 persen menjadi 4.348,7 dolar AS per ons troi.
Sejauh ini, harga emas batangan telah naik sekitar 8 persen di pekan ini, yang akan menjadi minggu terbaiknya sejak Maret 2020, dengan mencetak rekor tertinggi di setiap sesi perdagangan.
"(Harga emas) 4.500 dolar AS mungkin akan menjadi target lebih cepat dari perkiraan, tetapi banyak hal mungkin bergantung pada berapa lama kekhawatiran tentang perdagangan AS-China, dan penutupan pemerintahan AS masih menghantui pasar," kata Kepala Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer.
China kembali melontarkan tuduhan terhadap AS yang menyebabkan kepanikan atas pengendalian logam tanah jarangnya, sembari menolak seruan untuk mencabut pembatasan ekspor.
Sementara, Gubernur Federal Reserve Christopher Waller menyuarakan dukungannya untuk penurunan suku bunga lebih lanjut karena kekhawatiran pasar tenaga kerja.
Investor memperkirakan penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan The Fed 29-30 Oktober dan penurunan lain pada Desember.
Di tempat lain, Wall Street ditutup melemah pada Kamis (16/10), dengan tanda-tanda pelemahan di bank-bank regional yang mengkhawatirkan investor yang sudah gelisah atas ketegangan perdagangan AS-China.
"Meningkatnya kekhawatiran kredit bank-bank regional AS telah memberi para pedagang satu alasan lagi untuk membeli emas," kata Waterer.
Emas batangan non-imbal hasil, yang cenderung berkinerja baik dalam lingkungan suku bunga rendah, telah menguat lebih dari 65 persen sepanjang tahun ini, didorong oleh ketegangan geopolitik, spekulasi penurunan suku bunga yang agresif, pembelian oleh bank sentral, dedolarisasi, dan arus masuk dana perdagangan valuta asing yang kuat.
Di sisi geopolitik, Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Kamis sepakat untuk mengadakan pertemuan puncak lainnya mengenai perang di Ukraina.
Negara-negara Barat terus menekan Rusia terkait penjualan minyaknya, dengan Inggris menjatuhkan sanksi kepada perusahaan-perusahaan minyak besar Rusia. (Eka Yulianti Fajlin/Kontan.co.id/Reuters)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/gerai-emas-antam-di-bandung.jpg)