Tribun Jateng Hari Ini
BI Jateng Ingatkan Tetap Waspadai Risiko Global
Kolaborasi dan sinergi lintas sektor menjadi kunci untuk memperkuat ketahanan ekonomi daerah serta menjaga momentum pertumbuhan.
Penulis: Eka Yulianti Fajlin | Editor: Vito
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Bank Indonesia (BI) Jateng memproyeksikan pertumbuhan ekonomi di provinsi ini pada 2026 dalam kisaran 4,9-5,7 persen dengan inflasi yang terjaga.
Plh Kepala BI Jateng, Nita Rachmenia menyampaikan, Jateng menyambut prospek positif itu dengan tetap mewaspadai sejumlah risiko global yang dapat memengaruhi stabilitas harga dan aktivitas produksi.
Di tengah tantangan tersebut, menurut dia, kolaborasi dan sinergi lintas sektor menjadi kunci untuk memperkuat ketahanan ekonomi daerah serta menjaga momentum pertumbuhan.
"Perekonomian Jateng 2026 diproyeksikan tumbuh pada kisaran 4,9-5,7 persen dengan inflasi yang tetap terjaga," katanya, Minggu (30/11).
Di tengah ketidakpastian global, Nita menyebut, perekonomian Jateng tetap tumbuh solid. Pada triwulan III/2025, ekonomi Jateng tumbuh 5,37 persen. Angka itu meningkat dari sebelumnya 5,28 persen pada triwulan II, dan lebih tinggi dari pertumbuhan nasional sebesar 5,04 persen (yoy).
"Capaian ini mencerminkan fundamental ekonomi Jateng yang kuat, yang didukung oleh sinergi erat antara Pemprov Jateng, Bank Indonesia, dunia usaha, dan masyarakat dalam menjaga momentum pertumbuhan," ucapnya.
Selain itu, dia menambahkan, realisasi investasi Jateng hingga September 2025 mencapai Rp 66,13 triliun. Capaian ini menunjukkan kuatnya kepercayaan investor terhadap iklim usaha daerah yang kompetitif dan produktif.
Melalui platform KERIS Jateng, Nita menyatakan, kolaborasi penguatan investasi diproyeksikan terus berlanjut untuk mendorong transformasi sektor industri pengolahan, tekstil, alas kaki, furnitur, makanan dan minuman, pariwisata, hingga energi terbarukan.
"Sinergi erat antara TPID, Bank Indonesia, dan pemerintah daerah juga menjaga inflasi Jateng tetap berada dalam rentang sasaran 2,5 plus minus 1 persen," bebernya.
Nita mengungkapkan, Jateng terus memperkuat ekosistem ekonomi digital dan sistem pembayaran, yang kini didukung lebih dari 8,09 juta pengguna QRIS, serta hampir 1 miliar transaksi non tunai hingga Oktober 2025.
Sementara, Kepala Biro Perekonomian Jateng, Agus Prasutio mengapresiasi sinergi yang terjalin antara Pemprov Jateng, Bank Indonesia, dunia usaha, dan masyarakat dalam menjaga stabilitas perekonomian daerah.
Menurut dia, pertumbuhan ekonomi Jateng sebesar 5,37 persen serta realisasi investasi sebesar Rp 66,13 triliun mencerminkan fundamental ekonomi yang kuat.
"Penguatan UMKM, percepatan digitalisasi, dan pengendalian inflasi pangan secara end-to-end yang dilakukan melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan ekonomi Jateng bertujuan untuk mendorong perekonomian agar berdaya tahan tinggi, tumbuh lebih inklusif dan hijau," paparnya. (Eka Yulianti Fajlin)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20251124_Pedagang-pasar-karangayu-menjajakan-dagangan_1.jpg)