Selasa, 19 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tribun Jateng Hari Ini

Neraca Dagang RI Surplus 66 Kali Berturut-turut pada Oktober 2025

Neraca perdagangan Indonesia telah mencatatkan surplus selama 66 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. 

Tayang:
Editor: Vito
TRIBUNJATENG/Idayatul Rohmah
Ilustrasi Kapal kargo ekspor impor 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Kinerja perdagangan internasional Indonesia kembali mencatatkan surplus pada periode Januari-Oktober 2025 mencapai 35,88 miliar dolar AS. 

Surplus neraca perdagangan itu meningkat sekitar 10,98 miliar dolar AS dibandingkan dengan periode sama tahun lalu, sekaligus memperpanjang catatan positif kinerja perdagangan Tanah Air. 

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Pudji Ismartini mengatakan, neraca perdagangan Indonesia telah mencatatkan surplus selama 66 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. 

"Surplus sepanjang Januari-Oktober 2025 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas sebesar 51,51 miliar dolar AS, sedangkan komoditas migas masih mengalami defisit 15,63 miliar dolar AS,” ujarnya, dalam keterangan resmi, Selasa (2/12). 

Menurut dia, capaian tersebut mengindikasikan daya saing ekspor Indonesia masih berada di jalur yang solid di tengah kondisi global yang belum sepenuhnya stabil. 

Berdasarkan data BPS, nilai ekspor Indonesia tumbuh impresif hampir menyentuh 7 persen. Peningkatan itu didorong sektor industri pengolahan yang mencatat nilai ekspor sebesar 187,82 miliar dolar AS atau naik 15,75 persen. 

Adapun, tiga negara utama tujuan ekspor Indonesia adalah China, AS, dan India. Kontribusi ketiga negara itu mencapai 41,84 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia pada Januari-Oktober 2025. 

"China tetap menjadi pasar ekspor utama komoditas nonmigas Indonesia dengan nilai mencapai 52,45 miliar dolar AS (23,51 persen), disusul AS sebesar 25,56 miliar dolar AS (11,46 persen), dan India senilai 15,32 miliar dolar AS (6,87 persen)," jelas Pudji. 

Selain ekspor, ia menyebut, nilai impor juga mengalami peningkatan meski pertumbuhannya cenderung lebih lambat.

Sepanjang Januari-Oktober 2025, nilai impor tercatat naik 2,19 persen, dengan lonjakan terbesar pada komoditas barang modal. "Kondisi itu menunjukkan bahwa kegiatan produksi dan investasi masih berjalan," ujarnya. 

Pudji menyatakan, pertumbuhan pasar ekspor yang terus meningkat dan impor barang modal yang semakin menguat menandakan sinyal positif bagi perekonomian nasional. 

Pasalnya, dia menambahkan, pertumbuhan impor barang modal kerap menjadi indikator peningkatan produksi di sektor industri dan manufaktur, yang pada akhirnya dapat mendorong laju pertumbuhan ekonomi lebih tinggi. (Kompas.com/Tsabita Naja)

 

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved