Berita Bisnis
Dukung Transisi Energi, Kilang Pertamina Kembangkan Teknologi WSA
PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) mengembangkan teknologi Wet Gas Sulphuric Acid (WSA).
Penulis: Eka Yulianti Fajlin | Editor: raka f pujangga
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) mengembangkan teknologi Wet Gas Sulphuric Acid (WSA).
Pengembangan teknologi ini untuk memperkuat posisinya dalam mendukung transisi energi dan pengembangan industri hilir guna memenuhi tuntutan global terhadap dekarbonisasi, efisiensi energi dan kelestarian lingkungan.
Pengembangan teknologu ini dilakukan dengan menjalin kerja sama mitra internasional, yakni Sumisaujana TCM Chemicals Sdn Bhd dan SPCI HELM dari Malaysia, serta Topsoe A/S dari Denmark.
Baca juga: Kilang Pertamina Cilacap Perkuat Budaya Sadar Risiko, Fondasi Keandalan Kilang
Direktur Utama KPI, Taufik Aditiyawarman menyampaikan, kerja sama ini bertujuan untuk mengevaluasi dan menjajaki potensi pengembangan proyek Wet Gas Sulphuric Acid (WSA) di Refinery Unit KPI di Indonesia.
Saat ini, industri energi tengah menghadapai tuntutan besar untuk melakukan dekarbonisasi dan meningkatkan efisiensi energi.
Teknologi WSA merupakan salah satu jawaban dari tantangan tersebut, karena mampu mengubah gas buang dari proses kilang yang mengandung acid gas menjadi produk asam sulfat bernilai tinggi.
"Produk ini sangat dibutuhkan oleh berbagai sektor industri hilir di Indonesia, seperti industri pupuk, kimia dasar, pertambangan, metalurgi, hingga petrokimia. Melalui kolaborasi yang saling menguntungkan, kami berkomitmen menciptakan solusi yang inovatif dan berkelanjutan," ujar Taufik, Selasa (23/12/2025).
Selain menghasilkan produk komersial bernilai tinggi, lanjut dia, teknologi WSA juga menghasilkan energi panas dari proses konversi yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan uap, sehingga meningkatkan efisiensi energi dan mengurangi emisi secara signifikan.
Menurut dia, inisiatif ini selaras dengan strategi transisi energi Pertamina untuk mendukung target Net Zero Emission 2060 dan penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Kerja sama ini juga menjadi dasar untuk pertukaran data dan studi kelayakan yang akan mengarah pada tahap selanjutnya, yaitu penandatanganan Heads of Agreement (HoA).
"Kami percaya bahwa kolaborasi ini akan menjadi contoh nyata bagaimana pengembangan bisnis dan kerja sama dapat berjalan seiring untuk menciptakan solusi yang berkelanjutan. PT KPI berkomitmen untuk memastikan implementasi MoU ini berjalan efektif, sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh pemangku kepentingan," tutur Taufik.
Kerja sama ini akan dijalankan dengan skema Build-Own-Operate-Transfer (BOOT), di mana para mitra akan bersama-sama mengevaluasi kelayakan teknis dan komersial proyek.
Topsoe akan berperan sebagai penyedia teknologi, sementara SPCI HELM akan menjadi calon pembeli produk asam sulfat yang dihasilkan.
SumiSaujana akan memimpin evaluasi teknis dan komersial proyek, memanfaatkan keahliannya di bidang bahan kimia khusus untuk industri kilang.
KPI sendiri akan menyediakan akses ke data teknis dan operasional yang dibutuhkan untuk menilai kelayakan proyek, memfasilitasi kunjungan lokasi, serta mengevaluasi proposal yang diajukan.
| Pandemi Covid-19 Bukan Kendala, Depot Air Minum Embun Fresh Water Banyumas Berkembang Berkat KUR BRI |
|
|---|
| Ditolak 25 Toko, Bakpia SMS Makin Dapat Hati Warga Banyumas: Tak Kalah dari Bakpia Premium Yogya |
|
|---|
| Saleh Manfaatkan KUR BRI Beli Pikap: Angkut Pakan dan Kambing ke Kalikesur Banyumas Kian Lancar |
|
|---|
| KUR BRI Bikin Produksi Lancar, Kerajinan Kursi Malas Berkah Bambu Banyumas Jadi Sandaran Warga |
|
|---|
| Produksi Lung Coffee Banyumas Meningkat Berkat KUR BRI, Siti Kini Raih Kemandirian Finansial |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20251223_PT-Kilang-Pertamina-Internasional-mengembangkan-teknologi-Wet-Gas-Sulphuric-Acid_1.jpg)