Tribun Jateng Hari Ini
Target IPO Delapan Perusahaan di 2026 Tak Otomatis Kerek IHSG
pergerakan IHSG pada dasarnya dipengaruhi saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) karena bobotnya dominan dalam perhitungan indeks.
TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Pipeline pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebanyak delapan perusahaan di 2026 dinilai belum cukup menjadi mesin pendorong utama bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) untuk melesat ke level 10.000.
Hal itu diungkapkan pengamat pasar modal, Reydi Octa. Menurut dia, Initial Public Offering (IPO) memang menambah kapitalisasi pasar karena ada saham baru yang tercatat dan diperhitungkan dalam total market cap di BEI.
Namun, ia berujar, penambahan kapitalisasi itu tidak otomatis mengerek IHSG secara signifikan.
“Perusahaan yang antre IPO, apalagi beberapa beraset besar, tentu positif untuk pasar dan memperbesar market cap. Tapi untuk mendorong IHSG ke 10.000 tidak cukup hanya mengandalkan IPO,” jelasnya, saat dihubungi Kompas.com, Selasa (24/2).
Dia menambahkan, pergerakan IHSG pada dasarnya dipengaruhi saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) karena bobotnya dominan dalam perhitungan indeks.
Reydi menyatakan, ketika emiten big caps seperti sektor perbankan, komoditas, atau telekomunikasi mencatatkan pertumbuhan laba yang kuat dan harga sahamnya menguat, dampaknya langsung terasa signifikan terhadap indeks secara keseluruhan.
Selain faktor fundamental emiten besar, ia berujar, arus dana asing juga memainkan peran krusial. Investor asing umumnya memiliki porsi transaksi yang besar di BEI, terutama pada saham-saham unggulan.
"Di luar itu, kondisi makroekonomi menjadi fondasi sentimen pasar. Faktor seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, suku bunga Bank Indonesia, nilai tukar rupiah, hingga dinamika global seperti kebijakan suku bunga The Fed atau ketegangan geopolitik akan mempengaruhi persepsi risiko investor," terangnya.
“Jadi, IPO membantu, tapi bukan faktor penentu utama IHSG tembus 10.000. Kuncinya tetap di pertumbuhan laba emiten besar dan stabilitas sentimen global,” sambungnya.
Adapun, BEI mencatat minat penghimpunan dana melalui pasar saham masih terjaga, dengan sebanyak delapan perusahaan tercatat mengantre untuk melantai di pasar modal pada 2026.
“Sampai dengan 20 Februari 2026 telah tercatat nol perusahaan yang mencatatkan saham di BEI. Hingga saat ini, terdapat delapan perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI,” kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, kepada wartawan, Minggu (22/2).
Dari sisi skala aset, menurut dia, lima calon emiten tergolong perusahaan beraset besar di atas Rp 250 miliar, sementara tiga lainnya beraset menengah dengan nilai antara Rp 50 miliar hingga Rp 250 miliar.
Secara sektoral, ia menyebut, dua perusahaan berasal dari sektor basic materials, dan dua dari sektor financials. Sisanya tersebar di sektor consumer cyclicals, consumer non-cyclicals, energy, industrials, serta transportation and logistics.
"Masuknya delapan calon emiten baru tentu berpotensi menambah kapitalisasi pasar (market cap) dan memperdalam likuiditas bursa," ucap Nyoman. (Kompas.com/Suparjo Ramalan)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ihsg-cetak-rekor-lagi.jpg)