Jumat, 8 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tribun Jateng Hari Ini

Harga Pertamax Cs Potensial Makin Mahal IMbas Perang AS-Iran

Iran masuk dalam 10 negara penghasil minyak terbesar di dunia. Negara Itu berada di Selat Hormuz, perairan yang menjadi lalu lintas minyak dunia.

Tayang:
Editor: Vito
istimewa
ilustrasi - Seorang pemudik mengisi BBM jenis Pertamax di sebuah SPBU. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Perang antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) yang didukung Israel berpotensi membuat harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia naik. 

Ekonom Universitas Gadjah mada (UGM) Yohyakarta, Fahmy Radhi mengatakan, serangan pertama dari Israel ke Iran sudah pasti membuat harga minyak dunia naik. 

“Kalau serangannya ke Iran, itu pasti akan mempengaruhi harga minyak secara signifikan,” katanya, saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (28/2). 

Menurut dia, Iran masuk dalam 10 negara penghasil minyak terbesar di dunia. Negara tersebut juga berada di Selat Hormuz, perairan yang menjadi lalu lintas perdagangan minyak dunia. 

Jika Iran membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di Timur Tengah dan memblokir Selat Hormuz, maka harga minyak bisa tembus 70-80 dolar AS per barrel, dari saat ini tercatat di angka 67,02 dolar AS per barrel. 

Kondisi serupa sudah pernah terjadi dalam peperangan tahun lalu, saat Iran berhasil menembus pertahanan Israel dan pangkalan militer AS di kawasan.

“Barangkali bisa di atas 70 (dolar AS per barrel-Red) atau bahkan sampai 80 (dolar AS per barrel-Red),” ujarnya. 

Fahmy bahkan memprediksi, harga minyak dunia bisa tembus 100 dolar AS per barrel jika Rusia, China, dan Korea Utara terlibat peperangan.

“Kondisi semacam itu saya prediksikan kemungkinan harga minyak bisa mencapai di atas 100 dolar per barrel,” ujarnya.

Perang Iran melawan Israel juga akan berdampak terhadap Indonesia. Ia menyebut, Indonesia merupakan importir 1,2 juta barel BBM per hari. 

Jenis BBM yang sudah pasti terdampak kenaikan harga minyak global adalah Pertamax dan bahan bakar lain di atasnya. Sebab, harga BBM jenis tersebut diserahkan kepada fluktuasi harga minyak global. 

“Pertamax pasti naik. Misalnya sekarang saja 67 (dolar AS per barrel) gitu ya, itu sesuai mekanisme pasar Pertamax ke atas naik, baik di SPBU Pertamina apalagi SPBU dari asing,” bebernya. 

Sementara, harga BBM jenis Pertalite dan Solar di SPBU Pertamina tidak naik karena ditopang APBN.

“Kecuali pemerintah memutuskan untuk menaikkan harga BBM subsidi Pertalite dan Solar, itu baru akan menimpa pada konsumen,” tukasnya. 

Meski dijaga dengan mekanisme subsidi, Fahmi menyatakan, harga Pertalite dan Solar bukan berarti tidak berpotensi naik.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved