Senin, 18 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tribun Jateng Hari Ini

IHSG Rontok Imbas Perang Iran-AS, Jeffrey Imbau Investor Tetap Rasional

IHSG pada perdagangan Senin (2/3), ditutup ambruk 2,66 persen, atau terpangkas 218 poin ke level 8.016,83.

Tayang:
Editor: Vito
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Seorang karyawan melintasi papan bursa saham di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, baru-baru ini 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin (2/3), ditutup ambruk 2,66 persen, atau terpangkas 218 poin ke level 8.016,83.

Kemarin, indeks sudah melemah ke level 8.092,90 saat pembukaan, dari posisi penutupan perdagangan Jumat (27/3) di posisi 8.235,49. Pelemahan indeks makin dalam sekitar pukul 09.22, berada di posisi 8.067,35 atau melemah 2,04 persen.

Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik mengatakan, untuk menghadapi ketidakpastian yang meningkat akibat eskalasi geopolitik di Timur Tengah, investor perlu tetap bersikap tenang dan rasional dalam mengambil keputusan. 

Artinya, menurut dia, gejolak pasar dalam situasi seperti ini umumnya dipicu oleh sentimen jangka pendek dan pergeseran persepsi risiko, sehingga fluktuasi harga tidak selalu mencerminkan kondisi fundamental perusahaan sebenarnya. 

Ia berujar, penting bagi investor untuk tetap berpegang pada analisis fundamental, termasuk kinerja keuangan, prospek bisnis, arus kas, serta posisi utang emiten.

Keputusan investasi sebaiknya tidak didasarkan pada kepanikan atau spekulasi sesaat, melainkan pada perhitungan yang matang. 

“Menghadapi ketidakpastian yang meningkat akibat eskalasi geopolitik yang terjadi di tingkat global, kami mengimbau investor tetap rasional dan selalu memperhatikan fundamental,” ujarnya, kepada wartawan. 

Jeffrey menyebut, strategi investasi perlu disesuaikan dengan profil dan toleransi risiko masing-masing investor. “Sesuaikan strategi investasi dengan toleransi risiko masing masing investor,” paparnya.

Adapun, pengamat pasar modal sekaligus Co-Founder Pasar Dana, Hans Kwee menyatakan, perang AS-Iran akan menjadi tema utama pasar di awal pekan perdagangan Maret 2026. 

Ia menilai, wafatnya pimpinan tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dapat meningkatkan ketidakpastian dan tidak dapat dipastikan bagaimana akhir konflik ini. 

“Kenaikan harga minyak tidak menguntungkan bagi negara net importir minyak seperti Indonesia,” katanya, Minggu (1/3).

Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, menyebut, ketegangan geopolitik juga memicu arus modal keluar dari pasar negara berkembang ke aset safe haven seperti emas. 

“IHSG berpotensi mengalami koreksi wajar dan bearish consolidation, namun investor dapat mencermati saham berbasis energi serta logam dasar,” tuturnya. 

Head of Research NH Korindo Sekuritas, Ezaridho Ibnutama menilai, konflik saat ini mendukung peningkatan premi harga emas serta valuasi saham perusahaan minyak. 

“Karena jalur logistik minyak dan gas global yang krusial di Selat Hormuz berada di bawah kendali pemerintahan Ayatollah, tarif VLCC (Very Large Crude Carrier) akan terus mengalami tren kenaikan tajam,” jelasnya. (Tribunnews/Kontan) 

 

Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved