Jumat, 8 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tribun Jateng Hari Ini

Jasa Penukaran Uang Jalanan Jadi Andalan Warga Menjelang Lebaran

Pantauan Tribunjateng.com, jasa penukaran uang jalanan itu sudah cukup banyak ditemui di kawasan Jalan Pahlawan Semarang.

Tayang:
Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: Vito
Dok Tribun Jateng
ilustrasi - Jasa penukaran uang di Jalan Pahlawan Kota Semarang. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Di tengah sulitnya masyarakat mengakses penukaran uang pecahan baru secara online melalui layanan yang disediakan Bank Indonesia (BI), yakni www.pintar.bi.go.id, jasa penukaran uang jalanan pun ketiban rezeki menjelang Lebaran.  

Pantauan Tribunjateng.com, jasa penukaran uang jalanan itu sudah cukup banyak ditemui di kawasan Jalan Pahlawan Semarang. Layanan konvensional itupun menjadi pilihan sebagian warga yang tidak ingin ribet dengan sistem digitalisasi.

Eko, pria asal Boyolali yang akrab disapa Robert, tampak sibuk melayani warga yang datang silih berganti di lapak penukaran uang receh miliknya, di pinggir Jalan Pahlawan, Minggu (8/3).

Sudah sejak 2009 lokasi itu menjadi tempat langganannya untuk membuka jasa penukaran uang receh baru. Biasanya, Eko berjaga di lokasi itu sekitar pekan kedua Ramadan, dari pukul 08.00 hingga sore hari.

Menjelang Idulfitri, jasanya menjadi alternatif bagi masyarakat yang kesulitan mendapatkan uang pecahan kecil untuk kebutuhan berbagi kepada anak-anak, sebagai bagian dari tradisi Lebaran.

Robert mengatakan, pecahan yang paling banyak dicari adalah uang Rp 5.000 dan Rp 10.000. “Yang paling laku itu Rp 5.000 dan Rp 10.000.

Dua-duanya mengimbangi, tapi barangnya sekarang susah dicari,” katanya, saat ditemui Tribunjateng.com.

Dalam praktiknya, ia mengenakan biaya jasa penukaran sekitar Rp 15.000 untuk setiap Rp 100.000 uang yang ditukar.

Namun, tarif tersebut bisa naik ketika Lebaran semakin dekat. “Per Rp 100.000 biasanya Rp 15.000. Tapi kalau sudah dekat Lebaran bisa Rp 20.000 sampai Rp 25.000,” jelasnya.

Robert mengaku mendapatkan pasokan uang receh dari jaringan pemasok yang dia sebut 'bos' di Jakarta.

Apalagi, saat ini sistem penukaran uang melalui BI dinilai cukup ribet baginya. “Saya dapat dari bos di Jakarta,“ ujarnya singkat dengan nada sedikit ragu.

Ia membeli uang pecahan kecil tersebut dengan harga sekitar Rp 12.000 per Rp 100.000, kemudian dijual kembali dengan tambahan biaya jasa. “Kalau saya kulakan dari bos biasanya ambil Rp 12.000 per Rp 100.000,” bebernya.

Pada saat awal meniti usahanya di 2009, Robert mempekerjakan ibu-ibu di sekitar rumahnya untuk mengantre di bank-bank melakukan penukaran uang. Biasanya, ia menyewa satu hingga dua angkot untuk memberangkatkan mereka.

Ia memberikan upah kepada ibu-ibu itu sekira Rp 50 ribu/orang, atau dalam bentuk sembako. Mereka antre secara konvensional untuk melakukan penukaran uang.

Namun, era digital saat ini membuat dirinya harus mengambil uang pecahan kepada pemasok. 

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved