Rabu, 15 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tribun Jateng Hari Ini

IHSG Berpotensi Menguat Terbatas Setelah Ambruk 4,49 Persen dalam Sepekan 

Stabilitas nilai tukar rupiah serta kembalinya aliran dana asing, meski masih terbatas, menjadi sinyal awal bahwa tekanan jual mulai mereda.

Editor: Vito
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), beberapa waktu lalu. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona hijau pada perdagangan terakhir sebelum Lebaran 2026 pekan lalu.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI) via RTI, IHSG ditutup melonjak 1,20 persen ke level 7.106,83 pada perdagangan Selasa (17/3).

Kenaikan IHSG itu terjadi setelah empat hari perdagangan berturut-turut sebelumnya indeks berada di zona merah. Sehingga, indeks masih tercatat ambruk 4,49 persen dalam sepekan perdagangan terakhir menjelang Lebaran.

Analis pasar modal sekaligus Founder Investor, Hendra Wardana menilai, penguatan IHSG lebih mencerminkan kombinasi rebound teknikal dan mulai meredanya tekanan sentimen global.

“Pelaku pasar mulai melakukan akumulasi pada saham-saham yang telah terkoreksi cukup dalam. Penguatan yang merata di berbagai sektor juga menunjukkan adanya pergeseran minat ke saham siklikal,” katanya, kepada Kontan, baru-baru ini.

Menurut dia, stabilitas nilai tukar rupiah serta kembalinya aliran dana asing, meski masih terbatas, menjadi sinyal awal bahwa tekanan jual mulai mereda.

Meski demikian, Hendra menyebut, penguatan itu belum sepenuhnya mengonfirmasi perubahan tren menjadi bullish.

“IHSG masih berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan sideways hingga menguat terbatas, mengingat pasar global masih menunggu kepastian arah kebijakan suku bunga The Fed,” ucapnya.

Jika bank sentral Amerika Serikat memberikan sinyal dovish, Hendra mengatakan, IHSG berpotensi melanjutkan penguatan ke kisaran 7.200-7.350.

Namun, jika tekanan eksternal kembali meningkat, IHSG berisiko menguji support di area 6.900-7.000.

Dari sisi domestik, ia melihat aksi buyback emiten serta potensi kehadiran Danantara sebagai liquidity provider dapat menjadi penopang pasar dalam jangka pendek.

“Buyback mencerminkan kepercayaan manajemen terhadap valuasi saham, sementara tambahan likuiditas berpotensi meredam volatilitas, meski dampaknya masih terbatas,” bebernya.

Sementara, pengamat pasar modal sekaligus Founder WH Project, William Hartanto menilai, IHSG mulai menunjukkan tanda-tanda mendekati fase bottoming.

“Terbentuknya pola doji pada grafik mingguan mengindikasikan adanya keseimbangan antara buyer dan seller, serta potensi jenuh jual setelah tren melemah,” jelasnya.

Ia berujar, level 7.000 saat ini menjadi support kuat bagi IHSG setelah sempat turun hingga 6.917. Namun demikian, William menyatakan, sentimen negatif sejak awal tahun masih membayangi pergerakan indeks.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved