Sabtu, 18 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tribun Jateng Hari Ini

Terus Melemah, Rupiah Diprediksi Ambruk hingga Rp 22.000 per Dolar AS pada Juli

Pergerakan rupiah dalam sepekan ke depan masih akan dipengaruhi oleh sejumlah sentimen, baik dari global maupun domestik. 

Editor: Vito
ISTIMEWA
ilustrasi rupiah 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah di pasar spot terus melemah dan kembali mencatat rekor terburuk sepanjang masa, nyaris menyentuh Rp 17.200 per dollar AS pada penutupan perdagangan Jumat (17/4). 

Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda melemah 50 poin atau 0,29 persen ke level Rp 17.188 per dollar AS dari penutupan hari sebelumnya, yakni Rp 17.138 per dollar AS. 

Pada perdagangan Jumat, rupiah juga sempat jatuh ke level terburuk intraday di level Rp 17.194 per dolar AS pada pukul 14.19.

Pakar ekonomi Ferry Latuhihin menilai, pelemahan rupiah masih berpotensi berlanjut hingga menembus level Rp 17.200 per dolar AS dalam waktu dekat.

“Kayaknya (pekan depan-Red) bakal menembus Rp 17.200,” ujarnya, kepada Kontan, Jumat (17/4).

Menurut dia, pergerakan rupiah dalam sepekan ke depan masih akan dipengaruhi oleh sejumlah sentimen, baik dari global maupun domestik. 

Dari sisi global, harga minyak yang masih tinggi menjadi satu faktor utama yang menekan nilai tukar. Sementara dari dalam negeri, ketahanan cadangan devisa serta kondisi fiskal Indonesia turut menjadi perhatian pelaku pasar.

Ferry juga memberikan pandangan berkait dengan langkah yang dapat diambil masyarakat, khususnya investor, dalam menghadapi kondisi rupiah yang melemah.

Ia menyarankan investor untuk mempertimbangkan pengalihan aset ke dolar AS, seiring prospek penguatan mata uang tersebut ke depan. “Sebaiknya beli dolar saja. Saya prediksi bisa ke Rp 22.000 pada Juli nanti,” tukasnya.

Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa investasi emas berpotensi menghadapi tekanan, terutama jika bank sentral AS kembali menaikkan suku bunga untuk merespons inflasi.

“(Investasi-Red) emas takutnya kena hantam kenaikan suku bunga The Fed karena inflasi,” ucapnya.

Sementara, analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai, sentimen global mulai menunjukkan perbaikan seiring dengan meningkatnya optimisme bahwa konflik di Timur Tengah dapat segera mereda. 

Harapan tersebut muncul setelah gencatan senjata selama 10 hari antara Lebanon dan Israel mulai berlaku.

Di saat yang sama, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa Washington dan Teheran berpeluang melanjutkan pembicaraan damai pada akhir pekan. 

“Optimisme bahwa konflik Timur Tengah mungkin akan segera berakhir setelah gencatan senjata 10 hari antara Lebanon dan Israel mulai berlaku, dan Presiden Donald Trump mengatakan AS dan Iran mungkin akan bertemu untuk melakukan pembicaraan pada akhir pekan,” kata Ibrahim, kepada wartawan, Jumat sore ini.  (Kontan/Vatrischa Putri Nur)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved