Tribun Jateng Hari Ini
Rizal Sebut Kondisi di Pelabuhan Tanjung Emas Sudah Overload
Kondisi operasional di Pelabuhan Tanjung Emas saat ini berada pada titik YOR, dengan kapasitas sudah penuh, bahkan cenderung overload.
Penulis: Franciskus Ariel Setiaputra | Editor: Vito
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Persoalan serius yang dialami pelaku industri di Kendal berkait dengan pemenuhan kebutuhan bahan baku dan pengiriman produk akibat terjadinya penumpukan kapal di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang diamini Ketua DPC Organda Khusus Pelabuhan Tanjung Emas, Rizal Yosianto.
Menurut dia, kondisi operasional di Pelabuhan Tanjung Emas saat ini berada pada titik Yard Occupancy Ratio (YOR) atau rasio penggunaan lapangan penumpukan kontainer di pelabuhan telah melampaui batas ideal.
Secara sederhana, YOR menggambarkan kapasitas area penumpukan kontainer untuk kegiatan bongkar muat. Saat ini, ia menyebut, kapasitas tersebut sudah penuh, bahkan cenderung overload.
Akibatnya, arus lalu lintas logistik menjadi sangat padat. Aktivitas seperti pengambilan kontainer, ekspor, maupun bongkar muat impor harus melalui antrean panjang yang memperlambat proses distribusi barang.
"Kondisi ini diperparah oleh meningkatnya aktivitas industri di Jateng, termasuk di kawasan Kendal Industrial Park (Kawasan Industri Kendal) dan Kawasan Industri Batang (KIB Batang)," katanya, kepada Tribun Jateng.
Rizal mengatakan, seluruh arus barang dari kawasan industri tersebut terpusat melalui Pelabuhan Tanjung Emas, sehingga beban pelabuhan semakin tinggi.
Jika diilustrasikan, dia menambahkan, kapasitas ideal yang seharusnya berada di angka 60 persen, kini telah mencapai sekitar 90 persen.
"Kelebihan kapasitas ini membuat pengaturan penempatan kontainer menjadi semakin sulit dan tidak efisien.Dampaknya, kegiatan ekspor-impor menjadi terhambat," jelasnya.
Bagi pelaku usaha, Rizal menyatakan, kondisi itu tidak hanya memperlambat distribusi, tetapi juga meningkatkan biaya operasional (cost), serta mengganggu kelancaran produksi, terutama bagi industri yang bergantung pada pasokan bahan baku impor, termasuk bahan baku industri baterai.
Dari sisi pelaku usaha, ia berujar, masalah itu bukan terletak pada proses bongkar muat secara teknis, melainkan pada keterbatasan kapasitas pelabuhan.
Waktu tunggu untuk aktivitas sederhana seperti memasukkan kontainer ke pelabuhan kini bisa memakan waktu berjam-jam, sehingga berdampak pada efisiensi armada angkutan.
Rizal menyampaikan, kondisi overload itu sebenarnya sudah berlangsung cukup lama, namun hingga kini belum ada solusi yang benar-benar efektif. Karena itu, diperlukan langkah konkret untuk mengatasinya.
Menurut dia, satu solusi yang dapat dipertimbangkan adalah penambahan kapasitas melalui pembangunan area penumpukan baru di Terminal Petikemas Semarang (TPKS). Namun, solusi itu membutuhkan waktu dan investasi yang tidak sedikit.
Dalam jangka pendek, dia menambahkan, solusi yang lebih realistis adalah memperkuat koordinasi antarpemangku kepentingan. Diperlukan forum bersama yang melibatkan Pelindo, TPKS, pelaku usaha (importir maupun industri), perusahaan logistik seperti Ekspedisi Muatan Kapal Laut (EMKL), serta perusahaan pelayaran.
"Kolaborasi ini penting untuk mencari solusi operasional yang bisa segera diterapkan guna mengurangi kepadatan di pelabuhan. Tanpa langkah cepat dan terkoordinasi, kondisi overload di pelabuhan berpotensi terus menghambat pertumbuhan industri dan aktivitas ekspor-impor di Jateng," tandasnya. (F Ariel Setiaputra)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260306_PT-Terminal-Petikemas-Semarang-TPKS_2.jpg)