Tribun Jateng Hari Ini
IHSG Anjlok ke Level saat Pandemi Covid-19
IHSG melemah tajam pada perdagangan Rabu (3/6), dengan ditutup anjlok 4,11 persen atau turun 254,36 poin ke level 5.941,07.
TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tajam pada perdagangan Rabu (3/6), dengan diturup anjlok 4,11 persen atau turun 254,36 poin ke level 5.941,07 dari hari sebelumnya.
Angka itu menempatkan IHSG pada posisi terlemah dalam 5 tahun terakhir, atau kembali ke level saat pandemi covid-19.
Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana mengatakan, pelemahan IHSG itu sejalan dengan tren penurunan yang telah terjadi sebelumnya.
“IHSG masih berada dalam fase downtrend, sebagaimana telah kami sampaikan dalam laporan teknikal sebelumnya,” ujarnya, kepada Kontan, Rabu (3/6).
Menurut dia, tekanan terhadap IHSG dipicu sejumlah sentimen, baik dari eksternal maupun domestik. Satu di antaranya adalah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang sudah mendekati level Rp18.000.
Selain itu, koreksi juga terjadi pada saham-saham konglomerasi yang sebelumnya sempat menguat signifikan dalam 2 hari perdagangan terakhir.
“Ditambah dengan sentimen negatif dari outlook lembaga pemeringkat terhadap Danantara, yang turut membebani pergerakan indeks,” bebernya.
Untuk perdagangan Kamis (4/6), Herditya memperkirakan IHSG masih berpotensi melanjutkan koreksi. “IHSG masih rawan terkoreksi dengan support di 5.884 dan resistance di 5.967,” jelasnya.
Dia menambahkan, pelaku pasar masih akan mencermati pergerakan nilai tukar rupiah, serta pandangan lembaga asing terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Sejumlah saham yang dapat dicermati untuk perdagangan jangka pendek antara lain AADI, BMRI, serta MEDC.
Adapun, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menyatakan, pelemahan IHSG dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik yang mendorong investor bersikap lebih hati-hati.
"Bursa Asia bergerak mixed seiring meningkatnya kekhawatiran pasar setelah rencana tarif baru dari Amerika Serikat. Selain itu, pelaku pasar juga mencermati eskalasi konflik AS-Iran yang kembali memanas,” tuturnya, kepada Kontan, Rabu (3/6).
Menurut dia, sentimen eksternal itu menambah ketidakpastian di pasar keuangan global dan meningkatkan kecenderungan investor untuk mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk saham di negara berkembang.
Dari sisi domestik, pasar juga dihadapkan pada sejumlah data ekonomi yang kurang menggembirakan. Nico menyebut, penyusutan surplus neraca perdagangan dan kenaikan inflasi menjadi faktor tambahan yang membebani pergerakan IHSG.
“Surplus perdagangan April menyusut ke level terendah sejak 2020, sementara inflasi tahunan naik menjadi 3,08 persen pada Mei, didorong harga pangan dan transportasi,” jelasnya.
Selain itu, pelaku pasar juga mencermati perkembangan terbaru terkait penilaian lembaga pemeringkat terhadap entitas investasi pemerintah yang dinilai berpotensi memengaruhi persepsi risiko investor.
“Penetapan outlook negatif dapat memengaruhi persepsi investor terhadap risiko, terutama di tengah tekanan eksternal,” tukasnya.
Secara teknikal, Nico menilai tekanan terhadap IHSG masih belum sepenuhnya mereda. Ia memperkirakan indeks masih berpotensi bergerak melemah dalam jangka pendek dengan volatilitas yang tetap tinggi.
“IHSG diperkirakan bergerak di kisaran 5.880-6.060 dengan potensi penurunan lanjutan, sementara level support terdekat berada di area 5.740,” ucapnya. (Kontan/Muhammad Alief Andri)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/memantau-ihsg.jpg)