Jumat, 22 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tribun Jateng Hari Ini

IHSG Sudah Rontok 19,37 Persen dalam Sebulan, Potensi Jebol ke Bawah 6.000

Pada penutupan perdagangan Kamis (21/5), IHSG longsor 223,55 poin atau 3,54 persen ke posisi 6.094,94.

Tayang:
Editor: Vito
TRIBUNNEWS
Seorang karyawan berjalan melintasi papan pergerakan harga saham di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, baru-baru ini. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus melanjutkan pelemahan. Pada perdagangan Kamis (21/5), IHSG longsor 223,55 poin atau 3,54 persen ke posisi 6.094,94. 

Dalam 5 hari terakhir perdagangan, IHSG sudah tercatat mengalami pelemahan 9,89 persen. Sementara, dalam sebulan terakhir, IHSG rontok hingga 19,37 persen. 

Pelemahan IHSG kali ini terjadi di tengah penguatan sejumlah bursa Asia. Indeks Kospi (Korea Selatan) menguat 8,42 persen ke level 7.815, indeks Nikkei 225 (Jepang) melaju 3,14 persen ke 61.684, dan indeks Taiex (Taiwan) melesat 3,37 persen ke 41.368. 

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang mengatakan, ada sejumlah penyebab IHSG mengalami pelemahan. Pertama, ketidakpastian kebijakan ekonomi dan pasar. 

Menurutnya, pasar saat ini cukup sensitif terhadap isu kebijakan baru, terutama berkait dengan pemusatan ekspor komoditas strategis melalui satu pintu BUMN atau Danantara.

"Investor khawatir terhadap potensi intervensi yang lebih besar terhadap mekanisme bisnis emiten komoditas," katanya, kepada Kontan, Kamis (21/5). 

Diketahui, kebijakan itu mengatur ekspor sejumlah komoditas strategis wajib dilakukan melalui BUMN yang ditunjuk pemerintah, lewat pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), badan pengatur ekspor sumber daya alam (SDA) . 

Saat ini, Danantara resmi menunjuk mantan Direktur PT Vale Indonesia Tbk (INCO), Luke Thomas Mahony, sebagai Direktur Utama DSI. 

Penunjukan eks petinggi perusahaan tambang itu dinilai menjadi langkah awal pemerintah memperkuat tata kelola ekspor sumber daya alam. 

Sementara, penyebab kedua pelemahan IHSG karena outflow asing masih berlanjut. Investor asing cenderung melakukan risk reduction terhadap emerging market yang dianggap memiliki ketidakpastian lebih tinggi. 

Tekanan rupiah dan kekhawatiran terhadap arah fiskal serta pembiayaan program pemerintah juga turut memengaruhi persepsi risiko Indonesia.  

Ketiga, kekhawatiran perlambatan ekonomi domestik. Pasar mulai melihat adanya pelemahan daya beli dan konsumsi masyarakat. Selain itu, pertumbuhan kredit dan sektor riil belum terlalu agresif untuk menjadi katalis baru IHSG.  

Keempat, valuasi beberapa saham berkapitalisasi besar sebelumnya sudah cukup premium. Saat sentimen negatif muncul, saham-saham yang sebelumnya menjadi motor penggerak IHSG seperti konglomerasi justru menjadi target profit taking.  

Kelima, tekanan pada sektor komoditas dan perbankan turut membebani pergerakan IHSG. Mengingat kedua sektor itu memiliki bobot besar dalam indeks, koreksi yang terjadi berdampak signifikan terhadap pelemahan IHSG secara keseluruhan. 

Alrich menyatakan, saat ini IHSG menutup gap area 6.092 dan bertahan di atas area itu pada penutupan Kamis (21/5).

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved