Kamis, 11 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tribunjateng Hari ini

Truk Boks Rem Blong Hajar Titik Tangki Pendam SPBU Silayur

Truk boks bermuatan campuran barang rumah tangga hingga kebutuhan harian terguling dan menghantam area SPBU Silayur.

Tayang:
TRIBUN JATENG
Tribun Jateng/Aditia Kurniawan 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kecelakaan kembali terjadi di Turunan Silayur, Ngaliyan, Kota Semarang.  

Upaya Pemkot Semarang melalui Dinas Perhubungan untuk membatasi operasional truk bermuatan berat, belum efektif untuk menekan kecelakaan di jalur tengkorak tersebut. 

Truk boks berpelat nomor AE 8434 BA bermuatan campuran barang rumah tangga hingga kebutuhan harian terguling dan menghantam area SPBU Silayur, pada Rabu (13/5/2026) dini hari.

Meski tak menimbulkan korban jiwa, lokasi tangki pendam di SPBU porakporanda setelah truk diduga mengalami rem blong.

Pantauan di lokasi, area SPBU tampak rusak cukup parah.

Paving ambles dan pecah, sejumlah plang roboh, sementara bagian belakang truk ringsek.

Beberapa bagian boks juga terlihat hancur akibat benturan keras saat kendaraan terguling. 

Saat proses evakuasi berlangsung, pada  pukul 09.24, sebuah alat berat crane dikerahkan ke lokasi untuk mengangkat badan truk dari area tanki pendam SPBU atau titik distribusi bahan bakar.

Petugas kemudian mendirikan badan truk sebelum akhirnya diderek keluar lokasi menggunakan truk derek.

Truk boks bernopol itu dikemudikan Muhammad Yasin.

Kendaraan membawa muatan sandal, kopi sachet, plastik, gelas, dan berbagai barang rumah tangga lain dari Surabaya menuju wilayah Boja.

“Saya baru tahu kalau menanjak setajam dan sepanjang ini. Saya awalnya menanjak menggunakan gigi dua, namun saat mendekati puncak jalan, kendaraan kehilangan tenaga dan mulai melorot mundur,” kata Yasin kepada Tribun Jateng.

Upaya memindahkan gigi ke posisi lebih rendah atau gigi satu gagal dilakukan karena truk telanjur kehilangan kendali.

“Mau tak oper gigi satu, sudah keduluan melorot,” ujarnya.

Dalam kondisi panik, truk terus mundur cukup jauh di Turunan Silayur.

Yasin menyebut, sejumlah pemotor di sekitarnya sampai berusaha menghindar agar tidak tertabrak.  

Menurut Yasin, dia sengaja membanting setir ke arah area SPBU yang saat itu dalam kondisi sepi untuk menghindari tabrakan dengan pengendara di jalur utama. 

Kecelakaan ini kembali menyoroti persoalan kendaraan berat yang melintas di jalur Silayur.

Dalam beberapa tahun terakhir, ruas Jalan Prof Dr Hamka tersebut berulang kali menjadi lokasi kecelakaan truk, mulai dari gagal menanjak, rem blong, hingga kecelakaan beruntun.

Evaluasi pengawasan

Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Semarang kini mengevaluasi pengawasan kendaraan berat di jalur tersebut.  

Satu di antaranya dengan rencana pemeriksaan uji KIR langsung di titik portal masuk Silayur.  

Nantinya, kendaraan yang dinilai tidak laik jalan atau berpotensi gagal menanjak bakal diminta putar balik, meski melintas di jam operasional yang diperbolehkan.

 “Jadi nanti kendaraan yang mau naik akan kita lakukan pemeriksaan KIR dan surat muatannya.  Kalau dimungkinkan tidak mampu nanjak, ya kita silakan putar balik,” ujar Kepala Dishub Kota Semarang, Danang Kurniawan.

Fakta baru terungkap di balik kecelakaan truk boks yang menghantam area SPBU Silayur.

Truk tersebut ternyata sudah tidak menjalani uji KIR sejak tahun 2025.

Temuan tersebut muncul saat petugas Dishub Kota Semarang melakukan pemeriksaan di lokasi kejadian setelah truk mengalami gagal menanjak, melorot mundur, lalu menghantam area tanki pendam SPBU.

Danang  mengatakan, masa berlaku uji KIR kendaraan sudah habis ketika kecelakaan terjadi.

“Dari penguji kendaraan sementara tadi termasuk dengan pengakuan sopir, kendaraan ini terakhir uji KIR tahun 2025,” kata Danang di lokasi kejadian. 

“Jadi KIR-nya sudah tidak berlaku,” tandasnya.

Berdasarkan pemeriksaan Dishub, kapasitas kendaraan tercatat sekitar 4 ton lebih.  

Namun muatan diperkirakan mencapai sekitar 5 ton.

Selain persoalan KIR yang mati, investigasi awal juga mengarah pada faktor human error.

Sopir diduga terlambat memindahkan gigi saat melintasi tanjakan ekstrem Silayur.

Menurut Danang, setelah kecelakaan terjadi posisi transmisi kendaraan masih berada di gigi dua. 

Padahal, di kontur tanjakan panjang dan curam seperti Silayur, pengemudi disarankan lebih awal menurunkan gigi agar tenaga kendaraan tetap terjaga.  

“Sopirnya telat oper gigi.  Saat diperiksa setelah kecelakaan juga masih di gigi dua,” imbuh Danang.

Kondisi itu membuat truk kehilangan tenaga tepat di tanjakan Silayur.  

Saat hendak memindahkan ke gigi lebih rendah, kendaraan telanjur melorot mundur dan tak terkendali. (Reza Gustav)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved