Minggu, 12 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Gempa Megathrust Jawa Terakhir Terjadi Pada 1943, Benarkah BMKG Prediksi Akan Kembali Terjadi?

Gempa megathrust terakhir di Jawa terjadi pada tanggal 23 Juli 1943 pukul 21:53..Sekitar 213 orang tewas dan lebih dari 3.900 orang luka-luka, lebih d

Penulis: Puspita Dewi | Editor: galih permadi
Ekspedisi Cincin Api – KOMPAS/Bestari/Luhur
Gempa Megathrust Jawa Terakhir Terjadi Pada 1943, BMKG Prediksi Akan Kembali Terjadi di Selat Sunda 

Gempa Megathrust Jawa Terakhir Terjadi Pada 1943, BMKG Prediksi Akan Kembali Terjadi di Selat Sunda

TRIBUNJATENG.COM-  Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan akan adanya potensi terjadinya gempa megathrust berkekuatan magnitudo 8,7 berpotensi terjadi di Selat Sunda, sementara magnitudo 8,9 berpotensi terjadi di Mentawai-Siberut.


Gempa megathrust biasanya merupakan jenis gempa bumi terbesar di dunia, dengan kekuatan yang dapat mencapai 9,0 atau lebih pada skala Richter. Gempa ini juga memiliki potensi untuk menyebabkan tsunami karena pergeseran lempeng di bawah laut yang signifikan.


Catatan sejarah menunjukkan gempa megathrust dan tsunami di selatan Jawa telah terjadi sejak 1700-an. Sejak saat itu, zona megathrust di wilayah ini telah mengalami beberapa kali gempa dan tsunami. Bukti terjadinya tsunami di Selatan Jawa dapat ditemukan dalam katalog tsunami Indonesia yang diterbitkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).


Dikutip  dari laman earthquakerscanada pada Rabu, 14 Agustus 2024, gempa bumi megathrust pernah terjadi di Chili pada tahun 1960 dengan kekuatan 9,5 SR dan di Anchorage, Alaska pada tahun 1964 berkekuatan 9,2 SR.


Dalam catatan sejarah, tercatat gempa yang bersumber di zona megathrust selatan Jawa, terjadi pada tahun 1903 (M7,9), 1921 (M7,5), 1937 (M7,2), 1981 (M7,0), 1994 (M7,6), 2006 (M7,8), 2009 (M7,3), 1780 (M8,5), 1859 (M8,5), dan 1943 (M8,1).


Sementara, beberapa kejadian gempa yang bersumber di zona megathrust Mentawai-Siberut terjadi pada tahun 1797 (M8,5), 1971 (M6,3), 1977 (M5,5), 1979 (M5,8), 2004 (M5,6 dan M6,0), 2006 (M6,0), 2007 (M6,3 dan M7,1), 2008 (M7,0), dan 2009 (M6,9 dan M7,6), 2010 (M6,0), 2014 (M5,0,), 2017 (M5,5 dan M6,2).

 


Gempa Megathrust Jawa


Dikutip dari laman p2k.stekom.ac.id, gempa bumi Jawa Tengah 1943 terjadi pada tanggal 23 Juli pukul 21:53:09 Waktu Indonesia Barat dengan magnitudo momen 8,1 di Bantul, selatan Jawa pada masa pendudukan Jepang. 


Gempa ini dirasakan begitu kuat di wilayah Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur, dengan skala intensitas mercalli mencapai MMI VIII (Parah) di Bantul, MMI VII (Sangat Kuat) di Surakarta dan Semarang, MMI VI (Kuat) di Tegal dan Malang.


Sebagian besar daerah depresi Yogyakarta tertutup aluvium dan endapan vulkanik Gunung Merapi. Depresi Yogyakarta terletak di antara busur vulkanik Jawa Tengah dan Palung Jawa.


Dampak
Gempa bumi mengguncang wilayah depresi Yogyakarta di Jawa Tengah, dan dirasakan seluruh wilayah Pulau Jawa.


Sekitar 213 orang tewas dan lebih dari 3.900 orang luka-luka, lebih dari 12.600 rumah hancur.


Gempa ini menyebabkan kerusakan di Jawa Tengah dari Kabupaten Garut di barat hingga ke Surakarta di timur. Di Bantul, sekitar 31 orang tewas, 564 orang terluka dan 2.682 rumah hancur.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved