Minggu, 10 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tribunjateng Hari ini

Dian Beli Curah Rp 14.500/kg

Harga beras medium di pasaran tercatat mengalami lonjakan, bersamaan dengan menghilangnya sejumlah merek beras premium kemasan.

Tayang:
Tribun Jateng/Permata Putra Sejati
BERAS PREMIUM - Pedagang beras di Pasar Manis Purwokerto, Selasa (26/8/2025). Berdasarkan pantauan, harga beras medium melonjak dan hilangnya beras premium dari pasaran. (Tribun Jateng/Permata Putra Sejati) 

TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO - Harga beras medium di pasaran tercatat mengalami lonjakan, bersamaan dengan menghilangnya sejumlah merek beras premium kemasan, setelah maraknya isu beras oplosan. 

Dalam 2 pekan terakhir, kondisi itu mulai dirasakan konsumen rumah tangga hingga pedagang, baik di pasar tradisional maupun toko modern.

Seorang pembeli beras di Pasar Manis Purwokerto, Dian (48), warga Kelurahan Purwokerto Timur, mengatakan, harga beras yang biasa ia beli mengalami kenaikan cukup tajam. 

Baca juga: Imbas Berita Beras Oplosan: Beras Premium di Pasar Tradisional Semarang Mulai Langka

Ia kini terpaksa beralih membeli beras di pasar tradisional karena stok beras premium kemasan yang biasa dibeli di toko-toko modern telah lenyap.

"Biasanya harga beras masih sekitar Rp 13 ribu per kilogram, sekarang sudah Rp 14.500 per kilogram. Tidak tahu kenapa beras premium bisa hilang," ujarnya, saat ditemui Tribunbanyumas.com di Pasar Manis Purwokerto, Selasa (26/8). 

Kelangkaan pasokan beras premium diungkapkan pengelola toko modern sekaligus retail besar di Purwokerto, Ari (23). Menurut dia, pasokan beras premium memang sangat terbatas dalam 2 pekan terakhir.

"Beberapa waktu lalu sempat masuk pasokan, tapi cuma lima bungkus, itupun hanya satu merek. Sangat jauh berbeda dengan sebelumnya yang lebih beragam dan jumlahnya banyak," jelasnya. 

Berdasarkan pantauan Tribunbanyumas.com di sejumlah toko modern di Purwokerto membenarkan hal tersebut. Rak beras premium tampak kosong. 

Sebagai gantinya, hanya terlihat beras jenis Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang disediakan pemerintah menekan harga pangan di pasaran.

Hal senada diungkapkan pedagang sembako di Pasar Manis Purwokerto, Agus (38). Menurut dia, beras premium seperti merek Sania sudah tidak lagi tersedia sejak 2 pekan terakhir. 

Terakhir kali ia menjual beras tersebut dengan harga Rp 80 ribu untuk kemasan isi 5 kilogram.

"Sekarang tinggal jual beras curah dan SPHP saja. Beras curah medium sekarang juga naik jadi Rp 14.500 per kilogram," tuturnya. 

Adapun, kondisi serupa terjadi di di Kota Semarang. Warga Semarang, Astari mengatakan, harga beras medium belakangan tidak pernah turun. Harga beras medium tidak pernah di bawah Rp 14.000/kg, sementara harga beras premium rata-rata masih Rp 17.000/kg. 

"Ada yang harganya Rp 14.000 per kilogram, itu agak remuk, lebih butek. Kalau yang harga Rp 17.000 per kilogram dimasak pulen," ujarnya. 

Sejak maraknya kasus beras oplosan, ia semakin berhati-hati dalam membeli beras. Kini, ia justru memilih beras premium ketimbang medium karena pengalaman buruk membeli beras medium. 

"Saya pernah beli salah satu beras bermerek cukup baik, pas dibuka ternyata kuning dan bau apek. Tetangga saya juga pernah mengalami hal sama. Jadi sekarang saya lebih memilih premium,” bebernya.

Kini, Astari lebih memilih membeli beras premium dalam kemasan bersegel di minimarket atau membeli kiloan dengan kualitas terjamin. Dalam sebulan, ia bisa menghabiskan sekitar 10 kilogram beras.

"Selisih harga sedikit, tapi kalau premium lebih bagus, hasil masaknya pulen. Saya harus pintar-pintar memilih, jangan sampai kena oplosan," ujarnya. 

Pedagang sembako di Pasar Bulu Semarang, Siti Arya menyatakan, harga beras masih pada kisaran Rp 15.000-Rp 16.000 per kg. 

OP belum tekan harga

Ia menyebut, hingga kini operasi pasar (OP) lewat SPHP belum mampu menurunkan harga beras secara signifikan di Semarang. Kualitas beras SPHP pun terbilang baik. 

"Ya, kalau memang pemerintah operasinya terus rutin, Insya Allah harga beras bisa djtekan. Orang otomatis cari yang murah toh. Beras Bulog juga bagus. Ya sayang itu (belinya-Red) pakai aplikasi, ribet gitu," ujarnya. 

Pedagang lain di Pasar Bulu Semarang, Muji menyampaikan, beberapa merek beras premium mulai langka sejak sekitar 3 minggu terakhir.

Menurutnya, langkanya beras tersebut terjadi setelah ada berita soal beras oplosan.

"Hampir 3 minggu sejak ada berita beras oplosan, beberapa merek nggak muncul. (Beras premium) yang masih muncul merek 'Anak Lanang'," jelasnya, Selasa (26/8).

Menurut dia, beras medium lebih mudah ditemukan, namun harganya juga naik.

“Yang 5 kilogram sebelumnya Rp 76.000 sekarang Rp 78.000. Untuk kemasan 25 kilogram, naik sekitar Rp 500 per kilogram,” terangnya.

Pedagang di Pasar Karangayu Semarang, Mardiyah menyebut, beras premium maupun medium saat ini masih mudah dicari. Namun, terjadi kenaikan harga secara bertahap, dan kini sudah berlangsung sekitar 1 pekan.

Untuk beras medium, Mardiyah mencatat mengalami kenaikan Rp 5.000/sak (25 kg).

"Sebelumnya Rp 335.000 menjadi Rp 340.000 per sak. (Naiknya-Red) sudah semingguan ada," ucapnya.

Untuk beras premium, dia menambahkan, terjadi kenaikan harga sekitar Rp 2.500 per kemasan isi 5 kg. "Biasanya Rp 75.000 sekarang jadi Rp 77.500. Itu semua merek, naik semua,” tambahnya.

Ia juga menyayangkan distribusi beras program SPHP yang tidak merata.

“Saya sudah lama tidak dapat SPHP, sudah dari tahun lalu. Harapannya bisa lebih merata-lah,” tukasnya. (jti/eyf/idy)

Baca juga: Warga Demak Kecewa Isu Beras Premium Oplosan, Pilih Beralih ke Eceran

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved