Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Kendal

Jejak Kelam Kamp Plantungan, Penjara Perempuan Eks Tahanan Politik Orde baru di Pedalaman Kendal

Kamp Plantungan, penjara khusus perempuan yang beroperasi sejak awal 1970-an hingga 1979.

Penulis: budi susanto | Editor: raka f pujangga
TRIBUN JATENG/BUDI SUSANTO
SISA PENINGGALAN - Beberapa bangunan yang digunakan untuk mengisolasi tahanan politik di era 1970-an masih berdiri kokoh di Kamp Pelantungan yang terletak di Pelantungan Kabupaten Kendal, beberapa waktu lalu. Bangunan tersebut terletak di perbatasan Kabupaten Kendal dan Kabupaten Batang Jawa Tengah. 

Meski begitu, muncul solidaritas di balik tembok kawat berduri.

Para perempuan itu saling menopang, mengajar satu sama lain, membuat kelas-kelas kecil, dan berusaha menjaga martabat meski dibebani stigma “perempuan Gerwani” yang kerap lebih menyakitkan dibanding kurungan itu sendiri.

Kisah para tapol (tahanan politik) juga masih diingat warga sekitar. Sukarni, warga Desa Sangubanyu, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, masih mengingat jelas masa kecilnya.

"Waktu saya kecil, penjara itu dijaga enam pos brimob bersenjata lengkap. Dari bukit saya bisa melihat aktivitas para tahanan di dalam," kenangnya beberapa waktu lalu.

Meski dibatasi kawat berduri, interaksi sederhana tetap terjalin.

Para tahanan kerap membuat kerajinan, menjahit pakaian, bahkan membagikan hasilnya kepada warga sekitar.

"Saat suami saya kecil, dia pernah diberi baju dari hasil jahitan para tahanan wanita. Mereka itu ramah, bahkan sebelum dibebaskan pada 1979, beberapa memberi makanan dan pakaian," tutur Sukarni.

Ia bahkan masih mengingat salah satu nama tahanan. 

"Bu Endang, orangnya ramah sekali. Bertahun-tahun kemudian saya sempat bertemu lagi dengannya, dan ia masih ingat saya," ujarnya.

Pada Desember 1979, Kamp Plantungan resmi ditutup.

Baca juga: Heboh! Bripka M Berusaha Perkosa Tahanan Narkoba di Sel, Ini Modusnya

Para tahanan dipindahkan atau dibebaskan dengan status “eks-tapol” yang melekat seumur hidup. 

Luka, stigma, dan kenangan pahit itu tak pernah benar-benar hilang.

Kini, Plantungan mungkin tampak seperti bangunan tua biasa. Tetapi bagi para penyintas, ia adalah ruang memori yang getir, sebuah pengingat bahwa sejarah tidak hanya tentang narasi besar politik, melainkan juga tentang manusia biasa yang dipaksa kehilangan cita-cita, keluarga, dan kehidupannya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved