Tribunjateng Hari ini
Muslikhan Lega Bisa Keluar dari Desa Tempur Setelah Empat Hari Terisolasi
Warga Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara kini sudah bisa keluar dari kampungnya setelah terisolasi selama beberapa hari.
Penulis: Achiar M Permana | Editor: M Syofri Kurniawan
TRIBUNJATENG.COM, JEPARA - Warga Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara kini sudah bisa keluar dari kampungnya.
Sebelumnya kampung mereka terisolasi karena jalur putus oleh longsor.
Suara deru motor bertaut debur air sungai di lereng Pegunungan Muria menyapa para relawan bencana alam di Desa Tempur, Selasa (13/1/2026).
Akses jalan satu-satunya menuju desa tertinggi di Kabupaten Jepara tersebut sempat terisolasi dalam beberapa hari dampak bencana banjir dan tanah longsor yang menghilangkan badan jalan sepanjang 60 meter.
Jalan yang hilang sebelumnya hanya menyisakan jalan setapak mepet dengan tebing dan hanya bisa dilalui dengan jalan kaki.
Medan yang licin dengan curah hujan tinggi dan debit air sungai yang cukup deras sejak, Jumat (9/1/2026) lalu, memukul mundur relawan untuk menambal sulam badan jalan yang hilang.
Belum lagi puluhan titik longsor menyeret material tanah, batu, dan pepohonan memutus akses jalan.
Praktis sebanyak 3.522 jiwa dari 1.445 KK penduduk Desa Tempur terisolasi di desanya sendiri.
Mereka dipaksa untuk bersahabat dengan kegelapan tanpa aliran listrik yang terputus, akses internet hilang, dan makan dengan bahan-bahan seadanya untuk bertahan.
Tak ada posko bencana di dalam Desa Tempur, semua warga membuka mata hingga terpejam kembali di rumah masing-masing.
Bagi warga dengan tingkat perekonomian pas-pasan mengandalkan bantuan bahan makanan untuk bertahan selama terjebak di kampung halaman sendiri.
Pada siang hari, warga tetap menjalankan aktivitas sehari-hari seperti sediakala.
Ada yang bertani, berkebun, dan kesibukan lain yang bisa dikerjakan di dalam desa.
Sementara warga yang memiliki pekerjaan dan harus dilakukan di luar desa terpaksa meliburkan diri tanpa adanya akses jalan, termasuk anaka-anak yang bersekolah di luar desa.
Beberapa potret kondisi tersebut diceritakan Muslikhan (52), satu di antara warga Tempur yang ikut serta terisolasi di kampung sendiri.
Menurut Muslikhan, hujan hampir tidak pernah berhenti selama Desa Tempur terisolasi selama empat hari terakhir.
Masyarakat tidak merasakan panas matahari, yang ada hanya dinginnya buliran air hujan yang jatuh mengguyur kawasan lereng Pegunungan Muria.
"Alhamdulillah, empat hari lega bisa keluar kampung. Sejak Jumat (malam) enggak bisa keluar," terang Muslikhan di lokasi jalan terputus setelah pertigaan Selamat Datang Desa Wisata Desa Tempur.
Jalan darurat
Dengan raut wajah ceria, Muslikhan mengendarai sepeda motor bebeknya melintasi jalan setapak sepanjang 60 meter yang dibangun darurat oleh para relawan.
Jalan tersebut pada awalnya hanya bisa dilalui dengan jalan kaki, kemudian tebing di sebelahnya sebagian dipangkas oleh relawan untuk memperlebar jalan agar bisa dilalui sepeda motor.
Muslikhan pun mengendarai sepeda motornya dengan pelan melintasi jalan darurat dengan alas pecahan bebatuan tebing padas. Sang istri membonceng di belakangnya.
Jalan darurat tersebut kini menjadi akses hilir mudik masyarakat Desa Tempur.
Menjadi secercah harapan penduduk di bawah guyuran hujan dalam suasana cuaca ekstrem.
"Kondisi di dalam kampung makan seadanya yang ada. Listrik sudah sempat menyala, tapi mati lagi. Jaringan internet masih hilang. Beruntung hari ini sudah bisa keluar kampung dengan tetap hati-hati," ujar dia.
Muslikhan dan keluarga selama desanya terisolasi tidur di rumah sendiri dengan penerangan seadanya.
Dia juga mengandalkan bantuan dari berbagai pihak berupa makanan atau bahan pokok makanan untuk bertahan.
Sementara warga yang rumahnya rusak mengungsi di tetangga atau saudara.
Muslikhan berharap, jalan yang hilang tergerus banjir segera diperbaiki sehingga warga bisa kembali beraktivitas seperti sediakala.
"Untuk yang lain-lain seperti listrik, internet bertahap. Yang kami butuhkan sekarang adalah akses jalannya dulu, baru fasilitas lainnya. Supaya kami tidak terisolasi, bisa menghirup udara di luar desa," harap dia.
Tinjauan Gubernur
Terbukanya akses sepeda motor ke Desa Tempur dicek langsung oleh Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi bersama Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin Maimoen.
Pada kesempatan itu, Bupati dan Wakil Bupati Jepara, Witiarso Utomo-Muhammad Ibnu Hajar, turut mendampingi Gubernur-Wakil Gubernur.
Luthfi menyampaikan, pengecekan dilakukan menyeluruh terhadap wilayah Jawa Tengah yang terdampak bencana, termasuk di Desa Tempur.
Dia mengatakan, kondisi yang cukup parah terjadi di Kabupaten Jepara, khususnya di Desa Tempur yang dihuni sekitar 3.600 jiwa dan sempat terisolasi akibat longsor.
“Namun, berkat gerak cepat Basarnas, BPBD, relawan, TNI, dan Polri, akses perlahan mulai terbuka sehingga aksesnya bisa dilalui dengan kendaraan roda dua atau sepeda motor,” katanya.
"Karena hujan tinggi sudah lima hari berturut-turut, dari gunung airnya turun semua. Jadi kita perlu rencana yang lebih komprehensif, terutama penanganan sungainya. Rencananya sungai di sebelah kanan, baru bisa dibangun jalan," imbuhnya.
Terkait kebutuhan warga, telah disiapkan dapur umum dan jalur darurat yang saat ini sudah bisa dilewati orang dan sepeda motor.
Selain kebutuhan pokok, pemerintah berupaya membantu anak-anak sekolah agar bisa tetap bersekolah, utamanya bagi jenjang pendidikan SMP dan SMA sederajat.
"Yang perlu kita backup adalah anak-anak sekolah. Tingkat PAUD hingga SMP masih di Tempur. Untuk SMA mungkin akan kami datangkan guru," jelasnya. (Saiful Ma'sum/Iwan Arifianto)
| Kemenag Jawa Tengah Sebut Padang Ati Bukan Pondok Pesantren |
|
|---|
| Pengasuh Ponpes Padepokan Padang Ati Jadi Tersangka Pencabulan Santriwati |
|
|---|
| Ali dan Anak Istrinya Terbujur Kaku di Tenda Glamping Posong |
|
|---|
| Rencana Bagas untuk Wisuda pada Bulan Agustus pun Buyar |
|
|---|
| Pimpinan Padang Ati Ditangkap dalam Kasus Dugaan Pencabulan Santriwati |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Tribun-Jateng-Hari-Ini-Rabu-14-Januari-2026.jpg)